Laman

Showing posts with label Travel Writer. Show all posts
Showing posts with label Travel Writer. Show all posts

Monday, February 28, 2022

A Lot of Love

Bali, kata orang, penuh dengan sejuta keindahan. Entah itu alam, budaya, maupun orang-orangnya. Ya, bisa saja hal itu merupakan hal yang benar, tapi menurut pendapatku, harusnya benar, karena Bali benar-benar menggantungkan kehidupan kepada keindahan-keindahan itu, jadi, seharusnya benar.

Sudah sejak Februari 2020 ini Petualang Labil memutuskan untuk pindah ke Bali. Tidak mudah memang, meninggalkan kampung halaman, keluarga, sahabat-sahabat yang baik, tapi karena ini tentang pekerjaan, jadi Petualang Labil mengambil keputusan tersebut.

Sekarang, Petualang Labil akan kembali melanjutkan cerita petualangan yang dijalani selama di Bali. Untuk tempat pertama, Petualang Labil akan menceritakan tentang satu dari sekian, yaitu Tanah Lot.

Yap! Tanah Lot sudah banyak memang yang mengenalnya, namanya masyur hingga ke kancah internasional. Sayang sekali karena masih dalam masa pagebluk covid-19, jadi tempat ini menjadi lumpuh dari kunjungan wisatawan. 

Kunjungan Petualang Labil ke Tanah Lot ditemani oleh Bearo. Yap! Labilers ini jauh-jauh datang dari Sulawesi untuk jalan-jalan ke Pulau Bali. Ceritanya, Bearo waktu itu ingin mencoba kuliner daging babi yang dijual di satu warung yang letaknya di Jalur Denpasar-Tanah Lot. Sangking pengennya, padahal masih ada juga kudapan lain yang beraneka babi di sekitaran Kuta maupun Denpasar, tapi mungkin karena udah ngebet banget, jadi kami pun berangkat menuju ke Tabanan.

Karena sudah sejalur dengan Tanah Lot, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke sana. Suasana agak sepi, bukan hal yang seharusnya dijumpai di Tanah Lot. Banyak lapak yang terlihat ditutup karena hampir tidak ada pengunjung. Beberapa freelance photographer tampak menawarkan jasa mereka, pun dengan beberapa penjual dagangan kreatif, berlomba-lomba agar tetap berpenghasilan agar tetap hidup.

Tanah Lot ini kebetulan secara geografis sangat bagus untuk menonton matahari terbenam, karena letaknya agak ke bagian barat. Suasana matahari terbenam sangat bagus, apalagi saat terpaaan cahaya senja menghantam ke pantai dan juga Pura Tanah Lot. Suasana seperti ini jangan sampai kalian lewatkan sendirian, ajaklah keluarga maupun pasangan kalian, sebab alam dapat membantu kalian untuk mengisi kembali perasaan yang miliki terhadap orang-orang kesayangan kalian, A Lot of Love.

“Kayanya lagi puber, mentang-mentang jalannnya berdua sama cewek,”

Petualang Labil dan Bearo menghabiskan senja hingga tak bersisa. Kami berfoto di sepanjang senja, dan Bearo mengeluhkan kenapa foto saya hanya dibuat dengan satu macam gaya saja? Petualang Labil pun heran, apa maksudnya?

“Nih liat foto kamu, cuman nyengir doang fotonya, sedangkan liat muka aku, gak gitu-gitu aja kan ekspresinya?” 

Weshh angel..

Kami beranjak pulang ketika malam telah tiba. Tentu saja kelelahan kami rasakan karena perjalanannya panjang, dan tanpa sadar Bearo sudah tertidur ketika kami pulang. Tanah Lot memang tempat yang tenang, mungkin juga dengan sedikitnya pengunjung yang ke sana, membuat suasana menjadi lebih nikmat untuk dinikmati, mungkin yah, walaupun suasana itu tidak penting bagi para pedagang di sana karena kalau tidak bisa menjual pun, sama saja.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali Petualang Labil datang ke Tanah Lot. Sebelumnya Petualang Labil berkunjung pada tahun 2020 bersama dengan Chent, Labilers yang sudah sering nampang di tulisan Petualang Labil. Waktu itu karena satu dan lain hal, jadi Chent datang ke Bali dan kami memutuskan untuk ke Tanah Lot.

Nah, sekian dulu dari Petualang Labil. Untuk para Labilholic, jaga selalu kesehatan kalian, dan kita berharap agar pagebluk ini bisa segera berakhir agar bisa lebih leluasa untuk bepergian. Stay safe, stay healthy, salam Petualang Labil.


Friday, May 1, 2020

Ikan

Hey Wankawanka! Kita bertemu lagi! Cerita kali ini masih merupakan lanjutan cerita dari Seri Petualang Labil di Sikka, tapi kali ini bukan di Sikka, hehe.

Sebelum masuk ke cerita, Petualang Labil ingin mengungkapkan semoga pandemic corona ini bisa cepat reda, bila perlu hilang dari muka bumi. Banyak yang meninggal, banyak yang ditinggalkan, banyak yang hidupnya menjadi sulit karena kehilangan pekerjaan, dan banyak lagi penderitaan lain. Mari kita semua berdoa bersama agar penderitaan ini cepat berakhir, para tenaga medis diberikan kekuatan, dan kita diberikan akal sehat supaya bersama-sama dapat mencegah penularan virus ini.

Nah, yang masih pada work from home, homecoming, far from home atau home alone, sambil menemani rutinitas kalian yang agak kurang biasa ini, Petualang Labil akan membagikan kisah saat Petualang Labil bersama teman-teman pergi ke Kelimutu. Ada yang belum tau Kelimutu? Ya udah, cek cokkk!


Waktu itu ketika para hantu belum juga disuruh pulang dan beberapa tuyul mengintip dari jendela kamar, langkah seorang pria masuk membuka gerbang kemudian mengetuk pintu. Adalah om supir yang akan mengantarkan kami menuju ke Danau Kelimutu.

“Kaka, kaka, bangun sudah supaya kita berangkat,”

“Aduh siapa yah? Orang lagi enak tiduran kok dibangunan?”

Labilers yang masih tertidur saat itu dalam keadaan mabuk mimpi langsung bergegas.

“Eh ini siapa punya air liur?”

Begitu pukul 04.30 lebih beberapa menit kami berangkat. Vester yang belum sempat gigi duduk di sebelah kanan supir, sementara Petualang Labil bersama Puput dan Chent di belakang.

“Sebelah kanan supir berarti bapatua Vester gelantungan di daun pintu bro,”

“Bapatua Vester lagi main film Fast and Frustasi,”

Jalanan Maumere masih sepi. Kami bergerak menuju arah barat Flores, sebab di sanalah letak Kelimutu. Lebih tepatnya, Danau Kelimutu yang sudah sangat terkenal sejak jaman uang lima ribu berwarna coklat itu, posisinya berada di antara Kota Maumere dan Kota Ende, hanya saja letaknya berada pada wilayah geografis Kabupaten Ende.

“Adminnya tua nih, masih ingat uang kelimutu,”


Perjalanan melewati kelokan Flores yang sudah sangat terkenal. Om supir begitu piawai mengendarai mobil yang kami pinjam dari kakak sepupunya Puput. Kami yang duduk di belakang  terombang-ambing ke kiri, ke kiri ke kiri manise, sekarang kanan ee, ke kanan, ke kanan ke kanan manise..

“Om supir agak pelan sedikit, kita bukan mau antar nyawa ke Tiwu Ata Polo,”

“Waduh sorry kaka nona, soalnya ini mobil terlalu enak. Power steering, ban besar, tambah dengan saya juga pengalaman biasa kendarai mobil untuk jual ikan dari Maumere sini. Itu kan pick up yang stirnya keras, sekarang kesempatan bawa mobil bagus begini nih,”

“Iya kami bukan ikan om! Tidak lihat ko kami ini tidak disimpan di ice box?”

Dan begitulah om supir. Dia tidak pusing dan terus mengendarai mobil sesukanya. Rencana kami untuk tidur di mobil selama perjalanan pergi gagal total. Kami masih terombang-ambing ke kiri dan kanan. Puput yang berada di sebelah kanan terhuyung-huyung hingga rambut menutupi wajahnya.

“Ahahah, ahaha, kamu lihat Puput. Dia tidak bisa tidur sambil sandar sampai-sampai miring ke kiri. Panggil dia Mingki, Miring Kiri,”

Chent puas dengan tawanya yang tertahan di leher.

Dan begitulah kami akhirnya tiba di parkiran Taman Nasional Danau Kelimutu setelah sebelumnya menjemput kerabat Chent di desa yang bernama Rolling Stone atau dalam sebutan aslinya disebut Watuneso. Sekitar pukul 06.30 kami tiba di Kawasan Kelimutu.

“Wuih dingin juga nih,”

“Tapi sebentar su agak panas, makanya beta pake celana umpan nih,”


Setelah berfoto di bagian pintu masuk kami langsung trekking menuju kawasan danau. Pohon cemara menutupi cahaya pagi menambah romansa dingin di sekitar tengkuk dan ujung jari. Rasa puas sudah menggaruk-garuk seperti asam lambung karena telat makan. Oh ya Wankawanaka, Kelimutu sendiri adalah bahasa daerah yang berarti “Gunung Mendidih.” Kita akan lihat satu persatu tiga danau yang berada di Puncak Gunung Mendidih ini.

Yang pertama kita jumpai adalah Tiwu Ata Polo, atau yang artinya  tempat berkumpulnya jiwa dari orang-orang yang jahat. Biasanya Tiwu ini berwarna merah darah, namun pada kunjungan kami kali ini warnanya menjadi hijau kebiruan. Labilers juga bertemu dengan kerabat Labilers, Ka Itong dan Ka Ani yang sementara berlibur.

“Ketong dari Ende, kalian dari Maumere?”



Setelah berfoto, kami berangkat menuju danau tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi atau yang dalam bahasa daerahnya disebut Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai. Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai letaknya bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tebing yang tipis. Karena kami datang saat libur umum, pengunjung pun membludak. Tidak ada yang diperbolehkan untuk mengambil gambar dari bibir danau. Kami pun hanya bisa mengambil gambar dari jarak yang sudah diijinkan.




Danau yang ketiga, yang disebut sebagai tempat berkumpulnya jiwa orang-orang tua yang telah meninggal atau dalam bahasa daerahnya disebut Tiwu Ata Mbupu. Untuk sampai ke Tiwu ini kita harus trekking melalui anak-anak tangga yang sudah disiapkan. Untuk menikmati Tiwu ini pun sudah dibuatkan tugu yang seringnya menjadi tempat berkumpul atau beristirahat para pengunjung. Dari tugu ini pula kita bisa menikmati pemandangan ketiga Tiwu. Tidak lupa juga kami mengambil foto berlatarbelakangkan Tiwu yang tampak hijau gelap dan pekat tersebut.


“Katanya dulu airnya banyak, tapi sekarang sudah berkurang,”



Tempat lain yang menarik perhatian Petualang Labil adalah tempat upacara Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata. Tempat tersebut terlihat sakral dengan sebuah gerbang sederhana yang terbuat dari kayu dengan ijuk menjadi atapnya. Di bagian tengahnya ada sebuah altar berbentuk bundar. 

Disebutkan, orang Lio (suku yang mendiami Kabupaten Ende dan sebagian wilayah barat Maumere) sering memberi makan arwah dari para leluhur yang berdiam pada ketiga Tiwu di Taman Nasional Kelimutu ini. Upacara sering dilakukan oleh para Mosalaki (Tua Adat) sembari membawa persembahan berupa makanan dan minuman yang dibawakan di altar bundar. Setelah itu mereka akan menari Gawi sembari bernyanyi dan memanjatkan pujian menggunakann lagu-lagu tradisional.


Taman Nasional Danau Kelimutu juga digunakan masyarakat untuk mencari kehidupan. Bukan hanya soal penginapan di sekitar kaki Gunung Kelimutu, tapi juga masyarakat yang menjajakan kain di sepanjang jalur trekking menuju danau Kelimutu.


“Eh itu ada monyet keluar, kamu pegang baik-baik kamu punya tas. Nanti mereka ambil kalau ada makanan,”

Benar saja, baru juga Chent memperingatkan, suara teriakan terdengar seperti orang kecopetan langsung meninggi. Ternyata tas seorang pengunjung ditarik oleh beberapa ekor monyet, kemudian diseret dan isinya dikocar-kacirkan oleh monyet tersebut. Mendapatkan bungkusan biscuit, mereka kemudian berlalu meninggalkan tas tergeletak di tanah.

Kami kembali pulang. Monyet-monyet memang lumayan banyak, dan sepertinya mereka keluar untuk mencari makan. Puput ketakutan dan memegang Vester berjalan cepat berharap segera sampai di tempat mobil diparkirkan. Petualang Labil bersama Chent masih santai dari belakang.

“Kak Chent, ada permen? Aku mau beri makan monyet yang lagi baca, eh salah, yang lagi di ranting itu,”

“Awas nanti dong kerumun lu,”

Petualang Labil melemparkan permen, dengan sigap diambil si monyet dan segera berlalu.

“Nah, itu langsung pulang kan?”

Beberapa saat kemudian monyet tadi kembali bersama monyet lainnya.

“Bapak kita juga mau permennya pak,”

Eh buset!!!?

*********************

Nah, gitu deh Wankawanka cerita Petualang Labil yang tidak ada hubungan sama sekali antara judul dengan isi cerita. Terima kasih kalian sudah membaca dan semoga bisa menghibur kalian di tengah pandemic ini. Semoga setelah berakhirnya wabah ini kita bisa berpetualang lagi, tapi dengan satu pola pikir yang mencintai lingkungan kita. Jadi kita tidak perlu merusak apapun yang kita temui, entah itu menyampah atau vandal. Dengan begitu bumi kita akan tetap lestari dan terjaga. Salam bumi yang sehat, salam Petualang Labil.


“Bapak, bagi permennya pak,”

Hushh! Bisa-bisanya ikut sampai akhir cerita.

Wednesday, February 19, 2020

Erbaun, Behind The Scene

Hey hey hey! Apa kabar Wankawanka pembaca yang Budiman, Sudirman dan Surahman? Semoga kalian dalam keadaan sehat walafiat lahir dalam keadaan yang terberkati. Sebulan lalu, seperti yang Petualang Labil janjikan, kita akan kembali ke Timor, sedikit mengambil rehat dari rentetan cerita Petualang Labil saat berada di Flores.


Wankawanka mungkin ada yang tidak asing dengan kalimat “Kaki kalau kena gantung itu sakit, apalagi hati,” dari sebuah video yang viral pada Januari 2019 lalu. Yap! Perbuatan tidak menyenangkan bagi mereka yang menunggu cinta untuk disambut tersebut dibuat oleh Petualang Labil bersama Venti dan Vester di Pantai Erbaun.


Waktu itu Labilers berencana untuk pergi ke Pantai Oesain di Baun. Jadi Labilers berangkat dari Kupang sekitar pukul 11.00 wita. Perjalanan yang ditempuh tidak mencapai satu jam. Jalanan saat itu masih lumayan berbatu. Medan yang agak jauh dan sulit itu tidak terbayarkan karena pintu masuk (yang pernah digunakan Petualang Labil) ditutup oleh masyarakat sekitar menggunakan bambu.

“Coba putar dari sebelah sana, mungkin pintu masuk yang lain ada,”

Labilers memutar balik dan mencari pintu masuk yang lain. Sayang sekali pintu masuk yang dimaksud tidak ditemukan. Karena tidak ditemukan, Labilers berinisiatif mencari pantai lain yang dekat dengan kawasan Oesain. Labilers mencoba bertanya ke warga sekitar.

“Lurus saja terus, nanti ada kali, lalu ada  gapura selamat datang, sedikit lagi ke sana ada jalan masuk di kanan, itu ada Pantai Erbaun di sana,”

Sesuai petunjuk, Labilers langsung melaju. Benar, seperti penjelasan bapak dua anak yang dia tinggalkan di rumah bersama istrinya karena ia harus pergi kerja tersebut. Labilers tiba di Pantai Erbaun, pantai yang digunakan oleh warga untuk memarkir sampan dan menyimpan peralatan melaut mereka.


Karena sudah sampai Vester dan Venti langsung bergerak mengambil gambar. Venti begitu lincah dan professional bergaya seperti model Majalah Bekas sedang Vester pun tampak professional seperti fotografer yang sudah melanglang buana dengan jam melayang yang tinggi.


Pantai Erbaun dapat dipastikan berdampingan dengan Pantai Oesain. Karakteristik Pulau Timor yang disusun di atas batu karang juga nampak di pantai ini. Bebatuan karang raksasa berbaris memanjang ke barisan kiri pantai, sedangkan pasir putih dengan kerikil halus berada di sebelah kanan pantai berjejer bersama beberapa sampan milik warga.


Saat Vester dan Venti sudah selesai, giliran Petualang Labil yang mengeksplorasi Pantai Erbaun untuk mengambil gambar. Beberapa warga nampak berkerja menggulung pukat, sedang warga lainnya terlihat memancing dengan hanya bermodalkan senar dan, mungkin saja keberuntungan. Sepertinya agak sulit memancing di laut dengan ombak laut selatan yang ganas itu.



Sekembalinya Petualang Labil dari berfoto,

“Ketong mau buat video viral yang lucu. Lu pegang kamera, b naik motor, nanti Venti yang mau numpang. Pas Venti mau naik nanti dia tanya kenapa motor sonde ada pijakan, beta jawab supaya adek tau, kaki kalau dapat gantung tuhh sakit, apalagi hati,”

Wah? Boleh juga nihh ide. Okey, kamera stand by and, terjadilah demikian video “Kaki Kalau Kena Gantung Itu Sakit, Apalagi Hati.”

Judulnya panjang coeg.

Labilers qieq qieq qaeq qaeq melihat gambar yang sudah diambil.

“Pulang baru beta edit sedikit,”

Pukul 15.32 kami sudah bersiap pulang. Petualang Labil mengajak Labilers untuk singgah sebentar di Usapi untuk melihat sunset. Musim hujan sudah mulai reda tapi awan mendungnya masih mengintai bumi dari langit. Momen seperti ini adalah saat yang paling sedap untuk menyaksikan jingga matahari yang terbenam. Kami bergegas dan tiba di Usapi.

Pemandangan luar biasa ini cuman dinikmati oleh kami bertiga. Venti belum pernah ke Usapi jadi beliau tercengang melihat pemandangan yang ada.

“Kawaii,”

“Kimochi,”


Dan, begitulah akhir dari cerita Erbaun, Behind The Scene. Pantai Erbaun sepertinya belum mendapatkan banyak jamahan pengunjung, dan belum diperhatikan oleh pemerintah minimal aparat desa. Semoga pantai potensial ini dapat dikelolah menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar selain sebagai nelayan.  

Buat Wankawanka juga, kalau trip, entah ke Erbaun atau kemana saja, jangan buang sampah sembarangan, atau baiknya jangan menjadi penghasil sampah plastik. Gunakan tumblr biar bisa isi ulang air minum yang kita bawa daripada membeli air minum kemasan, nanti habis pakai botolnya pasti akan dibuang. Dan juga, jangan melakukan tindakan vandal. Pertahankan kelestarian alam kita.

Semoga kalian semua diberkati wahai para pembacaku. Sampai jumpa di cerita Petualang Labil selanjutnya. Ikan.

Wednesday, December 11, 2019

Nostalgia via Video Call

Hay Wankawanka! Selamat datang kembali di Blog Petualang Labil, blognya orang yang suka jalan-jalan tapi dalam kondisi jiwa yang tidak stabil. Bagaimana kaka dorang punya tahun 2019? Impressive? Well setelah kemarin sempat ditolak akhirnya Petualang Labil bisa menerima kenyataan itu.

“Yang tidak menyapa balik dia anggota DPR,” 

Nah, kali ini Petualang Labil bersama Puput dan Vester akan membawa Wankawanka sekalian menuju satu tempat di Kabupaten Sikka, tempat yang lumayan jauh dari keramaian Maumere, ibukota Kabupaten Sikka.

Tempat itu adalah Seminari Ritapiret! Btw, persinggahan ke Seminari Ritapiret ini masih dalam perjalanan hari pertama Petualang Labil bersama Vester dan Puput di Kabupaten Sikka. Sebelumnya Labilers sudah bertandang ke Lela, dalam perjalanan pulang dari Lela kami memutuskan singgah dulu di Seminari Ritapiret.


Seminari Ritapiret ini adalah tempatnya para calon imam dalam Gereja Katolik menempuh pendidikan. Tentu, kehidupan yang dijalani berbeda dengan pelajar maupun mahasiswa pada umumnya. Para calon imam tersebut diwajibkan untuk tinggal pada asrama yang telah disiapkan oleh Seminari. Percaya lah, pembaca, kehidupan berasrama itu penuh dengan warna yang berbeda dengan kehidupan orang muda lainnya.

“Siapa suruh lu dulu tidak lanjut ke sana?”

Letaknya Seminari Ritapiret berada di Nita, Kabupaten Sikka tentunya. Mengapa Labilers singgah di tempat ini? Well, tak lain dan tak bukan karena ingin melihat sebuah kamar yang pernah digunakan oleh Paus Yohanes Paulus II. Biar kita bisa memahami sudut-sudut Ritapiret, perjalanan ini dipandu oleh Frater Theo (Selanjutnya ditulis Fr. Theo).


“Eh, tunggu, beta video call b punya bapa do,”

Puput segera saja mengambil handphone dari dalam tas miliknya.

Tut.. Tut.. Tuut..

“Hallo Puput?”

“Heh bapa, ini video call bukan telepon biasa, jangan taruh di telinga begitu,”

“Oh, iya ewh, bapa sonde sadar,”

Vester dan Fr. Theo cengengesan. Petualang Labil mending foto-foto dulu, takut tertawa, nanti disanksi.
 
“Aih kampret tuh bocah, nanti baru bapa cubit di ginjal,”


Yah, sembari video call bersama Si Bapak, Labilers masuk ke dalam kamar yang pernah digunakan oleh Paus Yohanes Paulus II waktu mengunjungi Sikka pada tahun 1989.

“Lu masih di lutut choeg,”

Kamar milik Paus yang bernama asli Karol Josef Wojtyla tersebut terdiri dari dua kamar besar. Satu di depan sebagai ruang tamu, dan yang kedua sebagai kamar tidur. Pada bagian ruang tamu, menurut Fr. Theo belum ada perubahan dekorasi seperti saat kedatangan Paus Yohanes Paulus II.



“Kalau foto-foto ini pasang setelah beliau pulang dari sini,”

Sementara itu,

“Ini Bapa, ketong sekarang di Bapa Paus punya kamar,”

“Coba kasih dekat lagi dengan itu Tabernakel,”

Tabernakel tersebut berisikan relikui berupa darah dari Paus Yohanes Paulus II. Btw Puput, silahkan lanjutkan video callnya.

“Waktu itu Mgr. Stanislao Dziwisz yang mengantarkan langsung dari Vatikan ke Ritapiret,” jelas Fr. Theo.


Selepas melihat kamar, kami sedikit berkeliling melihat kapela, aula, ruang makan anak seminari, juga lapangan basket dan lapangan sepakbola sambil Puput menjelaskan pada Si Bapak yang sedang bernostalgia.

“Ah, ini pagar belakang di pekuburan nih dulu Bapak sering panjat untuk bolos,”

Wahh, Bapakkkk!? Bapak Naruto!?
 
Akhirnya senja menjemput, setelah berkeliling dan melihat tempat bolos Si Bapak, kami memutuskan untuk segera pulang.

“Pulang? Sabar dulu. Kita harus singgah Nilo,”

“Nilo kalau malam bagus. Sudah ada lampu di sana, kakak mereka bisa lihat Maumere dari sana,”

“Gimana? Nekat?”

“Ja’o nih melangkah bersama angin, jadi kemana saja let’s go. Mau bertemu suster lagi juga boleh,”

Baiklah, kami pun berterima kasih kepada Fr. Theo yang sudah menemani Labilers berkeliling di Seminari Ritapiret. Semoga mereka yang sedang belajar di Seminari Ritapiret bisa menjadi Gembala yang baik, yang mencari hingga satu domba yang tersesat dan membawanya kepada kawanan domba lainnya. 


“Puput, masih ingat jalan ke sana?”

“Dulu ke sana siang hari jadi aman. Tapi kalau hampir malam begini kayanya masih ingat,”

Kayanya!?

Berpasrah pada takdir kami pun menjalankan motor kami menuju Nilo. Kita akan memasuki “Tersesat di Bukit Nilo” pada edisi Blog Petualang Labil berikutnya. Terima kasih yang sudah membaca, yakinlah kalian tidak akan bertumbuh dewasa setelah membaca blog ini. Yang penting tetap menjaga alam dan lingkungan, kita tetap menghormati bumi dan segala kebudayaan dan perbedaan yang hidup di atasnya. Saat melakukan perjalanan jangan membuang sampah sembarangan dan hindari tindakan vandalisme. Salam lestari, salam Petualang Labil.

Tuesday, October 8, 2019

OTW Sikka

Wuhuuu! Wankawanka! Bertemu lagi di Blog Petualang Labil, blognya blogger amatiran! Mengawali tulisan ini, Petualang Labil ingin meminta maaf untuk keterlambatan Petualang Labil kembali hadir ke hadapan para pembaca yang budiman nan suci dan tak berkalang noda, yang mana seharusnya sebulan sekali malah menjadi undur dua bulan, karena ada beberapa kesibukan yang memang sulit untuk dihindari. Sibuk bertahan hidup dalam kesendirian.

Nah, untuk tidak membuang waktu, mungkin kalian sudah terkencing-kencing ingin membacanya, Petualang Labil akan menceritakan perjalanan Petualang Labil bersama Puput Mandaru dan Vester Bili saat berada di Maumere. Eh, lupa juga emak kos Tinny Bhoka dan bapak kos Luis Penu. Panggil kami Labilers!


Perjalanan kita ke Maumere menggunakan ferry dari Kupang via Larantuka, bersama rombongan Epank Tallo bersama keluarga untuk menghadiri hajatan sambut baru. Kami menghabiskan sekitar dua belas jam perjalanan laut. Enakkan juga pakai ferry daripada pesawat. Sunset di tengah laut, adalah alasannya.



Oh, Tanah Nagi, kau membuatku merindukan sengatan matahari yang terik itu. Tak apalah, beristirahat sekitar dua jam, kami menghabiskan tidur kami di rumah milik Ka Adi dan Ka Uchy, kerabat Labilers sewaktu mereka masih berada di Kupang. Enak juga punya banyak teman, kenalan, keluarga, kalau numpang-numpang istirahat kek begini kan tidak kesulitan.


Kami langsung menuju ke Maumere setelah kami beristirahat.

“Ete, su pernah pi Maumere pake bis?”

“Belum.”

“Okey, cari ojek..”

Kami berangkat barang pukul 10.30 Wita. Terima kasih banyak ka Adi yang sudah memesan bis untuk menjemput kami di rumah. Buat ka Uchy, terima kasih juga untuk masakannya sebelum kami berangkat ke Maumere.

“Nanti kalau Ade sambut baru nah kamu datang ke sini ewhh, jangan cuman ke Maumere hanya cari du’a saja ewhh.”

Firasatku agak kurang enak nih.

Bis melaju pelan, menghancurkan setiap kelokan trans Flores. Perjalanan menyenangkan karena suguhan pemandangannnya tidak dapat membunuh rasa bosan dalam perjalanan. Agak gundah juga karena bis berjalan agak pelan, tapi tidak apalah, karena keselamatan tetap menjadi nomor satu dalam kegiatan apapun yang kita lakukan.

Ngomong-ngomong, singgah dulu yah. Ini adalah Tanjung Dungbata, keindahan landscape bukit dan laut dalam satu pandangan mata, serta Pulau Konga yang menyendiri tapi tetap asik, seperti Petualang Labil. Tempat ini memang jadi tempat transit favorit. Petualang Labil juga lihat di akun facebook teman dan meminta supir bis untuk singgah barang 10 menit untuk mengambil beberapa gambar tempat ini.



Selepas foto dan mengambil gambar video, kami lalu melanjutkan perjalanan. Pukul 15.00 aroma Maumere mulai tercium di batang hidung Petualang Labil. Bergidik sudah bulu-bulu roma, tak sabar mengeksplorasi tempat yang untuk kali kedua Petualang Labil datangi. Kedatangan Petualang Labil yang pertama ada di sini.

Kita diturunkan di terminal pada pusat kota Maumere. Selama memasuki kota Maumere, Petualang Labil membangun komunikasi dengan Unni, kerabat Petualang Labil.

“Kalau sudah sampai nanti WA saja,”

Okey sekarang sudah sampai, dan Petualang Labil lupa memberi kabar. Dengan penuh kebingungan Labilers duduk di pinggir jalan, menanti Puput yang sudah sampai dahulu menggunakan pesawat.

“Ete, lihat itu orang, siapa yang bawa motor ngangkang begitu?”

Makin dekat orang itu kepada kami, PUPUT!? 

“Weh susah weh, beta bawa koper nah, sonde ada tempat buat pijakan nah makanya beta bawa motor kek ngangkang begini.”

Setidaknya kami sudah berkumpul. Rencana awal kami adalah menginap di rumah emak kos, tapi tidak ada satupun dari antara labilers yang mengetahui dimana rumah emak kos. Mana motor kurang satu, apa yang harus kami lakukan?

Emang rejeki gak pernah jauh chuy. Waktu otak kami hampir jatuh karena putus asa tidak bisa dipakai, munculah Unni melintas di depan kami.

“Hihh, untung kakak teriak tadi kalau tidak saya dengan kakak In su lewat. Tapi hebat bisa tanda kami padahal kami tidak lihat kakak mereka ada duduk di sini.”

Aduh Unni, untung lah engko lewat, kalau tidak kami tidak bisa sampai rumah emak kos. Emak kos juga belum pulang kerja jadi pilihan terakhir tanpa Unni ialah menunggu emak kos pulang kerja, kami luntang-lantung sodara sodara.

Singkat cerita, kehadiran Unni dan Ka Indri membantu kami untuk bertemu dengan induk yang siap menampung kami saat berada di Maumere. Kami diantar sampai Centrum, alamat rumah emak kos.

Pertemuan mengharu-biru, air mata kebahagiaan mewarnai pertemuan tersebut. Ingus juga tidak mau kalah keluar dari hidung. Emak kos yang sudah lama pindah ke Maumere perlahan curhat kalau di Maumere pun dia masih menjomblo.

“Ah, kita sama mak.”

Yuhu, makan malam, mandi, cuci pakian dulu, dan kita memulai pemanasan sebelum esok mulai eksplorasi Kabupaten Sikka dan sekitarnya. Rencana matang bos, tapi nanti lihat pelaksanaannya. Tapi malam ini kami ingin melihat langsung Monumen Tsunami. Ah ya, sebelum berangkat, bapak kos a.k.a Luis Penu muncul. Kami berlima langsung berangkat.

“B senang ewh besong datang...”



Juga kami mengunjungi Patung Kristus Raja Semesta Alam. Letaknya di Kota Uneng. Di sini kami menyalakan lilin dan berdoa. Vester berdoa khusus minta jodoh.

Ada cerita yang menarik untuk Petualang Labil beritakan. Menurut cerita, pada tahun 1992 saat Tsunami menghantam Maumere, Patung Kristus Raja membalikkan badannya dan membentangkan tangannya. Sontak air yang berusaha menggaruk patung itu untuk dijatuhkan terbelah menjadi dua dan terus menghantam bangunan sekitar patung. Setelah semuanya selesai, Patung Kristus Raja kembali ke posisi semula.

Saat berkunjung dan berdoa di hadapan Patung Kristus Raja pun suasana magis memang sangat kental. Khusuk adalah kesan pertama yang didapatkan. Bahkan untuk foto pun kita disarankan untuk mengambil jarak agak jauh dari Patung Berwarna Emas tersebut.


Selesai menyusuri beberapa tempat ikonik di Maumere, kami kembali ke rumah untuk beristirahat. Lanjutan trip di Maumere akan diawali dengan Wisata Rohani ke Lela. Gereja ikonik ala Portugis yang dibuat pertama kali di Maumere. Ikuti terus Blog Petualang Labil untuk melihat keseruan kami dengan kelucuan, romantisasi setiap sudut perjalanan dan kenangan yang berbaris. Ingat Wankawanka, saat trip jangan buang sampah dan melakukan vandal. Perjalanan adalah tentang belajar menghargai, jadi, jadilah orang baik mulai diri kalian sendiri. Salam Petualang Labil!

Friday, April 26, 2019

Berburu Senja di Baliana

Heyy guys! Here we are again! Petualang Labil kembali menyapa kalian semua dalam kesempatan yang kurang berbahagia ini. Kurang bahagianya karena sebelum dan setelah pemilu, sepertinya tidak ada kedamaian. Maksud Petualang Labil, kenapa coba harus saling menjatuhkan hanya karena berbeda pilihan politik? Memang dunia ini bubar setelah 17 April? C’mon people!


Karena masih berada di hawa panas perpolitikan, Petualang Labil akan menyegarkan Indonesia dengan postingan baru, yaitu Berburu Senja di Baliana.

“Persahabatan bagai kepompong, na na na na na na..”

Cerita Petualang Labil kali ini akan ditemani teman-teman Labilers. Siapa saja? Mereka adalah @ipitsaja si cewek kurus imut dan menggemaskan, merupakan teman masa Sekolah Dasar Petualang Labil guys. Lalu ada @1st.omen_jr yang merupakan teman semasa Sekolah Dasar Petualang Labil, juga @johanes_jovan teman semasa Sekolah Dasar Petualang Labil. Singkatnya, mereka adalah teman Sekolah Dasar Petualang Labil. Dan juga Harun. 


Awal mula kenapa Petualang Labil menyasarkan diri ke Baliana karena melihat postingan instagram milik @marianasogen di sana. Setelah bertanya, Petualang akhirnya memutuskan ke sana bersama @johanes_jovan dan teman lainnya si Harun.

Kunjungan pertama ini bersifat survey jadi tidak terlalu intim. Bertiga, kami berangkat dari Kupang menggunakan sepeda motor. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit menuju Baliana yang letaknya di Kupang Barat. Kami menyusuri Jalur 40, Pelabuhan Bolok, Lalendo, tersesat di kumpulan semak PLTU Kupang karena GPS menipu.


“Loh, bukannya situ yang memang keliru baca GPS?”


Setelah menertawai kekonyolan, kami kembali lagi dan mendapatkan air laut yang perlahan surut. Ternyata Pantai Baliana harus melewati semak-semak Kayu Kuning. Jalannya batu putih yang mengeras secara alami. Matahari yang sebentar lagi terbenam merupakan petunjuk alami yang kami yakini. 

Pantai Baliana tidak seperti yang lainnya, tanpa hamparan pasir serta pohon kelapa menari disembur angin sepoi. Yang Petualang Labil jumpai adalah hamparan karang, benteng penahan abrasi yang sudah ada secara alami, membentang jauh. Karang-karang tajam menghujam, jadi jangan lupa gunakan alas kaki yang tepat. 


Survey ini kami hanya berkesempatan mengambil beberapa gambar. Petualang Labil juga mengambil beberapa gambar untuk keperluan video. Labilholic jangan lupa juga untuk melihatnya di kanal Youtube Petualang Labil.

Kesempatan berikutnya, Petualang Labil mengajak @ipitsaja dan @1st.omen_jr ke Pantai Baliana. Sudah ada gambaran keadaan pantai. Labilers kemudian bergegas untuk menyiapkan semua perlengkapan seperti kamera untuk foto dan video. Targetnya adalah matahari yang terbenam.

Di sela-sela kunjungan Labilers juga berbincang dengan Tika, anak kecil yang sedang menjaga hasil meting orang tuanya. Tika sedang memainkan rumput laut tatkala beberapa temannya datang dan mengajaknya untuk pulang.

“Beta punya mama masih di sana,” ujung jarinya menunjuk pada tiga perempuan yang berada di laut yang sedang surut.


Si @ipitsaja gila juga salah satunya. Ia berjalan tanpa menggunakan alas kaki, padahal itu berbahaya karena Bulu Babi.

“Pakai sandal woyy! Awas kena injak Bulu Babi. Lu mau kempes ko?” Hardik @1st.omen_jr.

“Eihh, @1st.omen_jr ambil b punya sandal dolo, b suh malas mau kembali,” balasnya.

Akhirnya @1st.omen_jr harus mengantar sandal milik @ipitsaja. Saat menyerahkan sandal tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, tumbuhlah benih-benih cinta, dan sejak saat itu hidup mereka menjadi bahagia selamanya. Setidaknya mereka tidak menjalin cinta saat musim Pemilu Presiden.

“Awas nanti tiba-tiba menghilang.”


Momen terbaik yang Labilers rasakan bukan pada saat matahari pelan-pelang kembali ke peranduan, melainkan beberapa menit setelah matahari tenggalam dan beberapa sebelum gelap. Menjadi keberuntungan kunjungan yang kedua ini karena petang itu langit jingga menjadi suguhan Tuhan atas kunjungan kecil Labilers. Awan yang berduyun-duyun bergiring rendah di atas kepala kami berbisik melalui angin.


Dan begitulah, ketika niat berburu sunset ini digabungkan dengan sedikit keberuntungan, maka pemandangan indah ini yang berhasil kami dapatkan. Sudah selayaknya Labilers bersyukur untuk momen yang belum tentu didapatkan oleh pengelana lainnya.


Keindahan ini harus terus dijaga. Harus terus dilestarikan. Caranya? Jangan buang sampah, dan jangan bertindak vandal. Petualang Labil berharap semoga kawasan ini bisa diperhatikan pemerintah. Jangan diprivatisasi, tapi dikembangkan menjadi daerah pariwisata untuk kemakmuran masyarakat sekitar. Akses jalannya sudah bagus, selanjutnya adalah tindakan kreatif dari pemerintah dan masyakarat sekitar.


Akhirnya, saya selaku Presiden Republik Labil mengucapkan selamat atas terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang baru. Semoga Indonesia menjadi jauh lebih baik dan pariwisata di Nusa Tenggara Timur bisa menjadi tempat yang gokil! Salam Petualang Labil.