Laman

Showing posts with label Sikka. Show all posts
Showing posts with label Sikka. Show all posts

Saturday, November 21, 2020

Buntung

Teater senja di Tanjung Kajuwulu sudah dimatikan ketika waktu menunjukkan pukul 18.38, atau mungkin kurang dari itu. Petualang Labil membereskan kamera dan tripod dan dimasukkan ke dalam tas. Saatnya menuruni puncak bukit Kajuwulu, dimana sebuah salib dengan kulit berupa keramik putih dipancang di sana menghadap ke lautan.

Teman-teman sudah menunggu di tempat parkir, tepat di anak tangga pertama bukit ini. Dan yang mereka lakukan..

“Motor milik Luis tidak bisa dinyalakan,” tandas Puput yang sedang membantu pencahayaan dari hapenya, diarahkan pada Luis dan Vester yang melangak-melongok mencari penyebab motor Jupiter MX itu mandeque.

“Stater kaki?”

“Sama juga, tidak mau,” timpal Nacha.

“Ini gara-gara lu yang lama nah Go, mana gelap pula,” sambung Chent.

“Wah sorry, soalnya moment ke sini susah terulang, jadi ada kesempatan yah sekalian direkam sunset tadi,” balas Petualang Labil.


“Sudah, nasib yang agak buntung kali ini. Coba Luis, motornya di dorong ke arah turunan di sana, posisi gigi set masuk,” hardik Vester sekalian memberikan saran. Untuk hal itu Nacha harus GTO (Gonceng Tiga Orang) bersama Puput dan Chent, sementara Vester bersama Petualang Labil. Ketika Luis set gigi masuk, motor itu nyala. Tanpa menunggu lama, ditarikanya tali gas motor itu sekuat tenaga, dan Luis, menghilang.

“Yah, dia pulang?”

Dari arah berlawan dalam perjalanan pulang, Luis berbalik dalam kecepatan yang tinggi, kemudian menyusul kami dari belakang.

Sejurus kemudian dari arah berlawan dalam perjalanan pulang ia berbalik dalam kecepatan yang tinggi, kemudian menyusul kami dari belakang.

“Luis, ko su dari belakang lai?” Puput terheran karena tidak sempat melihat Luis yang tadi melaju dalam kecepatan tinggi.

“Motor sudah kembali aman. Ayo Vester, naik ke sini lagi, biar Puput kembali supaya tidak GTO,” tandas Luis.

Labilers kembali pulang setelah sore ini berpetualang bersama. Petualang pertama hari ini dimulai dari Hutan Bakau di Magepanda yang dapat kalian baca di sini. Selepas pukul empat setelah menelusuri Hutan Bakau, kami memutuskan untuk menyaksikan Teater Senja di Tanjung Kajuwulu. Letaknya tidak jauh, hanya sejauh pacar lima langkah dari rumah padahal  jomblo. Kami memacu motor keluar dari tempat parkir dan meluncur ke Tanjung Kajuwulu.


Ini adalah kali kedua Petualang Labil berkunjung ke Tanjung Kajuwulu, yang pertama pada tahun 2018, bulan Januari. Kalau kalian belum membaca, ceritanya tinggal klik di sini. Waktu ini Petualang Labil cuman ditemani oleh Chent yang memang sudah setahun menetap di Maumere. Nah, untuk kali ini bersama dengan Labilers yang membuat perjalanan semakin seru.

Sebelum menapaki anak tangga bukit kami harus membayar karcis masuk dulu. Sore itu, karena bertepatan dengan tanggal merah, maka banyak sekali yang datang untuk berkunjung. Ada beberapa perubahan juga terjadi, beberapa diantaranya adalah pegangan di sini kiri anak tangga, dan sebuah bangunan seperti menara coast guard yang masih terlihat sangat baru di sisi kiri.

Perlahan kami menanjaki tiap anak tangga hingga berhenti pada sebuah titik kecil.

“Foto dulu yak,” ajak Nacha mengeluarkan handphone dan berselfie. Puput kemudian duduk beristirahat dan Chent mengempiskan perut disertai nafas yang dibuang keluar secara kasar.

“Isi perut jangan ewh kak."



Kami melanjutkan perjalanan ke atas mencari spot lainnya.

“Waktu itu saya juga foto di sana,” ucap Petualang Labil menunjuk pada satu spot.

“Okey aku difoto dulu di sini,” Puput langsung mengambil posisi dan, cekrekk..


Luis sudah berlalu terlebih dahulu setelah kami mengambil beberapa gambar. Kami berjalan pelan dari belakang, menuju ke puncak bukit. Beberapa pengunjung juga mengikuti dari belakang.

“Okey di sini saja, pas dengan matahari yang posisinya lurus,” cetus Petualang Labil sembari mengeluarkan tripod dari dalam tas. Kebetulan kami membawa dua buah kamera, jadi satu kamera digunakan untuk berfoto, satunya digunakan digunakan untuk merekam Teater Senja dari atas Tanjung Kajuwulu. 


Suasana yang menyenangkan dinikmati. Dari pagi, walaupun telat bangun, bermalas-malas ketika disuruh untuk bersiap, dan baru berangkat jam dua siang, tapi Labilers tetap menikmati sunset ini dalam sukacita. Kami tidak memikirkan tentang motor milik Luis yang sedang disabotase oleh waktu sehingga kami harus lebih bersabar ketika harus meninggalkan tempat ini, karena keindahan ini lebih pantas untuk dinikmati dalam sukacita.

Langit yang tadinya orange, menjadi ungu, dan gelap, mengantarkan petualangan hari itu selesai. Kami kembali ke rumah ibu kos dengan selamat. Kalau kalian bertanya siapakah ibu kos yang dimaksud, kalian harus membaca semua rangkaian perjalanan Petualang Labil bersama teman-teman di Sikka mulai sejak kedatangan, dan tentu saja untuk selalu membaca blog ini, karena Petualang Labil masih akan menceritakan perjalanan yang seru ke Kapela San Dominggo yang letaknya di Flores Timur, namun sebelumnya singgah sebentar untuk makan di acara sambut baru.


Terima kasih sudah membaca, salam lestari, salam Petulang Labil.

Tuesday, September 29, 2020

City of Mangrove

Kembali lagi ke sini, di Blog Petualang Labil! Gimana kabar kalian semua di tengah pagebluk Covid-19 ini? Petualang Labil berharap kita semua sehat dan bahagia, tidak jatuh sakit baik kita maupun keluarga kita semuanya.

Masih menghibur Labilholic sekalian, Petualang Labil akan melanjutkan cerita Petualang Labil saat bersama teman-teman mengarungi tempat-tempat menakjubkan di Kabupaten Sikka. Kemarin memang Petualang Labil menyisipkan cerita ke Rumah Pengasingan Soekarno di Kabupaten Ende, sekarang Petualang Labil akan membawa kalian semua menuju ke Hutan Bakau di Kabupaten Sikka.


Hari sudah hampir sore dan, belum ada satupun dari antara Labilers yang bergerak mempersiapkan diri untuk trip kali ini. Semuanya masih malas-malasan karena panasnya Kota Maumere.

“Sebentar, dikit lagi, masih terlalu vulgar (panas),” Vester masih baring-baring dari tadi. Petualang Labil malah sudah selesai mandi dari kosan Luis dan mereka belum selesai siap untuk berangkat, kecuali Nacha yang lagi ngelap mukanya memakai beberapa macam perawatan yang membingungkan.

“Biar ewh, daripada burik!?”

Tuh muka kalau tidak dipakai lagi ingin aku rombak kek Sanji bongkar muka milik Duval. 

Semuanya akhirnya selesai bersiap sekitar pukul 14.00 wita. Matahari yang memang panas perlahan turun panasnya setelah minum paracetamol, bersamaan dengan warnyanya yang pudar menjadi jingga. Tapi tetap saja panas cuaca di sana bikin berkeringat kendati sudah mandi.




Rombongan akhirnya berangkat sekitar pukul 14.30 wita. Tempat pertama yang dituju adalah Hutan Bakau yang terletak di Desa Reroja di Kecamatan Magepanda, sekitar 30 km dari kota Maumere. Bakau yang menghutan ini ditanam oleh seorang bapak yang sudah meninggal, dikenal dengan nama Baba Kong. Beliau menanam banyak bakau sebagai respon dari bencana tsunami yang menghantam Maumere pada Desember 1992.


Pesona hutan bakau ini berdiri pada lahan seluas 70 ha. Agar wisatawan bisa berkeliling di hutan bakau ini, disediakan jembatan kayu yang menjadi sarana agar pengunjung bisa berjalan, sebab kalau tidak, hanya ada lumpur dan rawa dosa, yang akan menelan kalian dan hanya tinggal penyesalan.

“Iya bang, nanti kita tidak bisa jalan-jalan di dalam hutan bakau kalau jembatan kayu tidak ada ewh.”

Selain jembatan kayu disediakan juga dua pondok kecil di area hutan bakau yang dapat digunakan untuk beristirahat. Pada ujung jembatan kayu juga ada sebuah tower yang dibangun menggunakan bambu agar pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan bakau dari tempat yang tinggi.

“Yang penting naik hati-hati dengan pengendalian chakra yang sempurna.”



Pada bagian luar area hutan, Labilers mendapati pantai dengan garis pantai yang panjang. Hutan bakau yang baru saja Labilers lalui dan menikmati oksigen menyegarkan daripadanya, tampak seperti diapiti oleh bukit dan pantai. Tentu saja Chent langsung meminta untuk dipotret, pun Puput yang sebelumnya beristirahat di bangku pinggir pantai meminta untuk dipotret setelah Chent menyelesaikan sesinya.



Kira-kira sampai sini ada pertanyaan?

“Ya pak! Semalam saya mendapatkan uang Rp. 5000 dari ayah saya dan tidak saya bagikan kepada adik saya. Pertanyaannya, kenapa ibu mau menikahi ayah saya?”

Oh, mungkin jawabannya adalah dia mau melihat lagi foto pantai itu. Ini, aku kasihkan lagi.



Nah, laki-laki berkacamata ini kalau kalian suka silahkan dibawa pulang. 

Demikian dari Petualang Labil untuk cerita City of Mangrove ini. Baba Kong adalah individu yang hebat, melahirkan Hutan Bakau ini sebagai kepeduliannya terhadap lingkungan. Dicibir dan dihina karena tidak memilih menanam kelapa dan tanaman perkebunan lainnya, akhirnya usaha Baba Kong ini bermanfaat bahkan untuk para pencibirnya juga. Tujuan sederhana agar kalau terjadi tsunami, air dapat tertahan di Hutan Bakau, sekarang dinikmati bahkan oleh orang-orang dari luar negeri sebagai titik wisata yang patut dikunjungi.

Setelah melihat apa yang dilakukan Baba Kong, Petualang Labil meyakini, Baba Kong adalah Hashirama Senju, pengguna Mokuton dengan jutsu yang dapat melahirkan hutan. Walaupun diberi penghargaan oleh Pemerintah Indonesia, dia tetap rendah hati dan mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk sesamanya. Benar-benar sikap seorang hokage sejati!

Terima kasih Baba Kong untuk inspirasi dari kepedulian anda! Cerita selanjutnya adalah, Kembali ke Tanjung Kajuwulu!



Sunday, January 12, 2020

Tersesat di Bukit Nilo

Heyy heyyy heyy Happy New Year! Selamat datang 2020! Woow, waktu yang sangat cepat berlalu, dan sekarang kita sudah berada di tahun 2020. Bagaimana kabar Wankawanka di awal tahun ini? Moga-moga masih sehat dan tetap menjadi pembaca setia Petualang Labil agar kejiwaan Wankwawanka semua terganggu.

Kita masih berada di Seri Petualang Labil di Sikka. Well cerita kali ini Petualang Labil akan menceritakan perjalanan bersama Puput dan Vester di hari pertama Labilers di Sikka. Kemarin Petualang Labil sudah cerita soal Wisata Religi Lela dan Nostalgia via Video Call di Ritapiret. Sekarang tempat terakhir di hari pertama yang Labilers kunjungi adalah Bukit Nilo.


Waktu itu Labilers ke sana dalam keadaan matahari yang tenggelam di ufuk barat dengan mendung yang menelan cahayanya. Perjalanan nekat Labilers ini ditempuh bermodalkan ingatan Puput yang hilang-muncul dan nekat serta penyertaan Tuhan.

“Salah-salah kita hilang di bukit,”

Yapp! Namanya saja Bukit Nilo, sudah pasti letaknya di daerah perbukitan. Jalanan terjal dan menanjak. Langit biru nan gelap. Tidak ada lampu jalanan hanya ilalang yang menjaga di kiri dan kanan jalan dari jurang yang menganga. Lebar jalan tidak seperti jalanan perkotaan, jadi kalau ada kendaraan besar dari arah berlawanan kita kudu mesti must hati-hati be careful. Dan akhirnya, setelah sekitar hampir 3600 detik, kita tiba di kawasan Patung Bunda Maria Segala Bangsa.


Ketika kita masuk ke kawasan Patung Bunda Segala Bangsa ini nampak bagian belakang patung setinggi 28 meter itu menjulang, kita tampak kerdil di bawahnya. Tempat ini memang sangat ikonik karena dari Kota Maumere pun patung yang dibuat oleh Kongregasi Carmel ini  masih dapat dilihat walaupun dalam ukuran yang sangat kecil.  

Sudah sekitar 18.45 waktu Labilers tiba dan masih ada beberapa orang yang berdoa, sedang anak-anak mereka berlari di sekitaran. Ketika mereka beranjak pulang, tinggalah tiga orang anak manusia penakut yang bergidik mendengar suara jangkrik.

Krikk.. Krikk..

“Woyy apa tuh?”

“Ihh, lu dengar juga?”

“Bunyi jangkrik wooyy, biasa!”

Psst.. Pssst..

“Nah itu apa yang pessett peseet barusan?”

“Berdoa saja dulu, mumpung ada di sini. Setelah itu kita foto di depan patung,”
“Okey, habis itu beta mau foto Maumere dari sini, tadi b jalan di dekat pagar Maumere ada menyala bagus dengan lampu malam,”

Labilers berdoa bersama. Setelah berdoa, cekrekk..




Okey, selanjutnya foto kota Maumere.


“Sekarang foto biasa sahh dulu, beta duluan,”


“Wih, bagus nih.. Ayo foto bersama,”


“Woyyy, badanmu kemana Vester?”


“Nah, mending begini saja dulu.”

Okey sekarang kita bersiap pulang. Labilers kembali berjalan ke arah parkiran untuk menaiki motor. Kami berpaling dan meninggalkan lokasi Patung Bunda Segala Bangsa.

“Put, jalan keluar yang pertigaan tadi sebelah mana?”

“Nanti ke depan lagi, beta tanda dari ini patung-patung kecil di pinggir jalan”

Labilers terus bermotor, makin lama jalanan makin menanjak. Kini kami melewati beberapa rumah, warga-warga yang duduk di pinggir jalan kami teguri menggunakan bel motor.

“Tadi lewat sini? Patung kecil kayanya sudah tidak ada. Kek makin dingin juga nih suhu,”

Jalanan masih menanjak, kadang kami jumpai jalanan yang hanya menggunakan semen, kadang aspal, anjing liar juga berkeliaran di beberapa titik hutan di bukit. Vester yang terus membuntuti kami juga cemas.

“Ini anak dua di depan mau pergi ke dunia lain atau bagaimana?”

Kerlap-kerlip kota Maumere memanggil kami dari kejauhan. Ya, sangat jauh, Labilers berusaha mendekat tapi sepertinya makin jauh. Labilers yang terus mengikuti jalan menanjak itu. Pada ujung jalan kami masuk ke pekarangan rumah warga.

“Loh? Orang punya rumah nih, putar balik, putar balik!”

Sialan! Kita kesasar chuy! Ya ampun, Vester tertawa puas, kami kikik-kakak di tengah malam.

“Waduh ini salah jalan daritadi ini namanya,”

“Ko beta ju dari tadi pikir besong di depan nih ingat jalan keluar tadi yang pertigaan arah patung tadi. Ketong su lewat jauh awhh.”

“Hahaha b kira Gohan ju hafal itu jalan masuk,”

“B juga lupa ko gelap nah,”

“Nah sudah besong ikut beta suhh. Kalo salah-salah, kit pung trip sampe ini malam saja, hahaha,”

Labilers cepat-cepat kembali menyusuri jalanan, kembali, Labilers dipimpin Vester. Lagi-lagi melewati gelap hutan bermodal lampu motor. Waktu Petualang Labil melihat speedometer motor, bensin hampir ambyar. Kira-kira bisa atau tidak?

“Wuih ini di belakang gelap sekali!”

“Ayo sambil bercerita Put, awas lu tiba-tiba hilang di belakang,”

“Woyy Kisanak, bagaimana Kisanak ini? Malah menakut-nakuti,”

Saat di perjalanan sebelum pertigaan ke kawasan Patung Bunda Maria Segala Bangsa, Petualang Labil menghentikan motor dengan segara.

PIPP! PIPP!

“Vester! Vester!”

Vester melihat ke arah kami dan memutar balik motornya.

“Ada apa? Apakah Kisanak melihat sesuatu,”

“Ya, lihat di sana!”

Itu adalah Maumere! Ibu kota itu menyala seperti kumpulan kunang-kunang! Sama indahnya seperti yang terlihat dari Patung Bunda Segala Bangsa, hanya saja ini adalah sudut pandang dari Labilers yang kesasar di tengah bukit yang gelap ini. Buru-buru Petualang Labil mengambil gambar.


“Aduh ini rumput terlalu tinggi,”

“Tidak masalah. Sekarang ayo kembali pulang,”

Labilers kembali memacu motor untuk menelusuri jalan pulang. Tidak lama dari spot foto terakhir, pertigaan yang dari tadi kami cari akhirnya kami lewati juga.

“Padahal itu adalah penunjuk jalan, lu sonde lihat ko Gohan?”

“Jangan marah, pasti tadi kenangan yang membutakan beta,”

Labilers terus menuruni jalanan, hingga akhirnya kami mendapati perkebunan jambu mente. Banyak kendaraan mondar-mondir.

“Jalan raya!”

Petualang Labil menghembuskan nafas lega sekeras-kerasnya! Terima kasih Ya Tuhan, barusan bukan nafas terakhirku! Labilers terbahak-bahak di sepanjang jalan hingga kembali pulang ke kontrakan ibu kos. Ibu kos juga baru saja pulang dari kantor.

“Besong kesasar!? Hahahah!”

Suara tertawa Tinny yang besar, serak-serak, dan macet-macet itu memang membuat sebal. Setidaknya ini bukan Dunia Lain. Sorry yah kalau cerita kali ini kepanjangan. Semoga kalian terhibur Wankawanka. Seri berikutnya masih akan tentang perjalanan Petualang Labil di Flores, tapi kita sedikit kembali ke Timor dulu biar ada selingannya. Terima kasih yang sudah membaca, semoga terhibur. Tidak, tidak, kalian tidak akan mendapatkan inspirasi apa-apa. Kalian tidak gila saja sudah bersyukur.

Akhir kata Petualang Labil tetap mengajak Wankawanka untuk menjaga lingkungan kita. Ini sudah tahun 2020, usia bumi makin tua dan semakin sulit dengan masalah ekologi yang kompleks. Semoga kita bisa meminimalisir kerusakannya, setidaknya tidak membuang sampah sembarangan biar tidak ada wisata Brown River seperti di Jakarta. Bila perlu, jangan menggunakan produk plastic sekali pakai. Jangan vandal juga biar lingkungan tetap asri. Sekali lagi terima kasih, salam lestari, salam Petualang Labil!

Wednesday, December 11, 2019

Nostalgia via Video Call

Hay Wankawanka! Selamat datang kembali di Blog Petualang Labil, blognya orang yang suka jalan-jalan tapi dalam kondisi jiwa yang tidak stabil. Bagaimana kaka dorang punya tahun 2019? Impressive? Well setelah kemarin sempat ditolak akhirnya Petualang Labil bisa menerima kenyataan itu.

“Yang tidak menyapa balik dia anggota DPR,” 

Nah, kali ini Petualang Labil bersama Puput dan Vester akan membawa Wankawanka sekalian menuju satu tempat di Kabupaten Sikka, tempat yang lumayan jauh dari keramaian Maumere, ibukota Kabupaten Sikka.

Tempat itu adalah Seminari Ritapiret! Btw, persinggahan ke Seminari Ritapiret ini masih dalam perjalanan hari pertama Petualang Labil bersama Vester dan Puput di Kabupaten Sikka. Sebelumnya Labilers sudah bertandang ke Lela, dalam perjalanan pulang dari Lela kami memutuskan singgah dulu di Seminari Ritapiret.


Seminari Ritapiret ini adalah tempatnya para calon imam dalam Gereja Katolik menempuh pendidikan. Tentu, kehidupan yang dijalani berbeda dengan pelajar maupun mahasiswa pada umumnya. Para calon imam tersebut diwajibkan untuk tinggal pada asrama yang telah disiapkan oleh Seminari. Percaya lah, pembaca, kehidupan berasrama itu penuh dengan warna yang berbeda dengan kehidupan orang muda lainnya.

“Siapa suruh lu dulu tidak lanjut ke sana?”

Letaknya Seminari Ritapiret berada di Nita, Kabupaten Sikka tentunya. Mengapa Labilers singgah di tempat ini? Well, tak lain dan tak bukan karena ingin melihat sebuah kamar yang pernah digunakan oleh Paus Yohanes Paulus II. Biar kita bisa memahami sudut-sudut Ritapiret, perjalanan ini dipandu oleh Frater Theo (Selanjutnya ditulis Fr. Theo).


“Eh, tunggu, beta video call b punya bapa do,”

Puput segera saja mengambil handphone dari dalam tas miliknya.

Tut.. Tut.. Tuut..

“Hallo Puput?”

“Heh bapa, ini video call bukan telepon biasa, jangan taruh di telinga begitu,”

“Oh, iya ewh, bapa sonde sadar,”

Vester dan Fr. Theo cengengesan. Petualang Labil mending foto-foto dulu, takut tertawa, nanti disanksi.
 
“Aih kampret tuh bocah, nanti baru bapa cubit di ginjal,”


Yah, sembari video call bersama Si Bapak, Labilers masuk ke dalam kamar yang pernah digunakan oleh Paus Yohanes Paulus II waktu mengunjungi Sikka pada tahun 1989.

“Lu masih di lutut choeg,”

Kamar milik Paus yang bernama asli Karol Josef Wojtyla tersebut terdiri dari dua kamar besar. Satu di depan sebagai ruang tamu, dan yang kedua sebagai kamar tidur. Pada bagian ruang tamu, menurut Fr. Theo belum ada perubahan dekorasi seperti saat kedatangan Paus Yohanes Paulus II.



“Kalau foto-foto ini pasang setelah beliau pulang dari sini,”

Sementara itu,

“Ini Bapa, ketong sekarang di Bapa Paus punya kamar,”

“Coba kasih dekat lagi dengan itu Tabernakel,”

Tabernakel tersebut berisikan relikui berupa darah dari Paus Yohanes Paulus II. Btw Puput, silahkan lanjutkan video callnya.

“Waktu itu Mgr. Stanislao Dziwisz yang mengantarkan langsung dari Vatikan ke Ritapiret,” jelas Fr. Theo.


Selepas melihat kamar, kami sedikit berkeliling melihat kapela, aula, ruang makan anak seminari, juga lapangan basket dan lapangan sepakbola sambil Puput menjelaskan pada Si Bapak yang sedang bernostalgia.

“Ah, ini pagar belakang di pekuburan nih dulu Bapak sering panjat untuk bolos,”

Wahh, Bapakkkk!? Bapak Naruto!?
 
Akhirnya senja menjemput, setelah berkeliling dan melihat tempat bolos Si Bapak, kami memutuskan untuk segera pulang.

“Pulang? Sabar dulu. Kita harus singgah Nilo,”

“Nilo kalau malam bagus. Sudah ada lampu di sana, kakak mereka bisa lihat Maumere dari sana,”

“Gimana? Nekat?”

“Ja’o nih melangkah bersama angin, jadi kemana saja let’s go. Mau bertemu suster lagi juga boleh,”

Baiklah, kami pun berterima kasih kepada Fr. Theo yang sudah menemani Labilers berkeliling di Seminari Ritapiret. Semoga mereka yang sedang belajar di Seminari Ritapiret bisa menjadi Gembala yang baik, yang mencari hingga satu domba yang tersesat dan membawanya kepada kawanan domba lainnya. 


“Puput, masih ingat jalan ke sana?”

“Dulu ke sana siang hari jadi aman. Tapi kalau hampir malam begini kayanya masih ingat,”

Kayanya!?

Berpasrah pada takdir kami pun menjalankan motor kami menuju Nilo. Kita akan memasuki “Tersesat di Bukit Nilo” pada edisi Blog Petualang Labil berikutnya. Terima kasih yang sudah membaca, yakinlah kalian tidak akan bertumbuh dewasa setelah membaca blog ini. Yang penting tetap menjaga alam dan lingkungan, kita tetap menghormati bumi dan segala kebudayaan dan perbedaan yang hidup di atasnya. Saat melakukan perjalanan jangan membuang sampah sembarangan dan hindari tindakan vandalisme. Salam lestari, salam Petualang Labil.

Tuesday, October 8, 2019

OTW Sikka

Wuhuuu! Wankawanka! Bertemu lagi di Blog Petualang Labil, blognya blogger amatiran! Mengawali tulisan ini, Petualang Labil ingin meminta maaf untuk keterlambatan Petualang Labil kembali hadir ke hadapan para pembaca yang budiman nan suci dan tak berkalang noda, yang mana seharusnya sebulan sekali malah menjadi undur dua bulan, karena ada beberapa kesibukan yang memang sulit untuk dihindari. Sibuk bertahan hidup dalam kesendirian.

Nah, untuk tidak membuang waktu, mungkin kalian sudah terkencing-kencing ingin membacanya, Petualang Labil akan menceritakan perjalanan Petualang Labil bersama Puput Mandaru dan Vester Bili saat berada di Maumere. Eh, lupa juga emak kos Tinny Bhoka dan bapak kos Luis Penu. Panggil kami Labilers!


Perjalanan kita ke Maumere menggunakan ferry dari Kupang via Larantuka, bersama rombongan Epank Tallo bersama keluarga untuk menghadiri hajatan sambut baru. Kami menghabiskan sekitar dua belas jam perjalanan laut. Enakkan juga pakai ferry daripada pesawat. Sunset di tengah laut, adalah alasannya.



Oh, Tanah Nagi, kau membuatku merindukan sengatan matahari yang terik itu. Tak apalah, beristirahat sekitar dua jam, kami menghabiskan tidur kami di rumah milik Ka Adi dan Ka Uchy, kerabat Labilers sewaktu mereka masih berada di Kupang. Enak juga punya banyak teman, kenalan, keluarga, kalau numpang-numpang istirahat kek begini kan tidak kesulitan.


Kami langsung menuju ke Maumere setelah kami beristirahat.

“Ete, su pernah pi Maumere pake bis?”

“Belum.”

“Okey, cari ojek..”

Kami berangkat barang pukul 10.30 Wita. Terima kasih banyak ka Adi yang sudah memesan bis untuk menjemput kami di rumah. Buat ka Uchy, terima kasih juga untuk masakannya sebelum kami berangkat ke Maumere.

“Nanti kalau Ade sambut baru nah kamu datang ke sini ewhh, jangan cuman ke Maumere hanya cari du’a saja ewhh.”

Firasatku agak kurang enak nih.

Bis melaju pelan, menghancurkan setiap kelokan trans Flores. Perjalanan menyenangkan karena suguhan pemandangannnya tidak dapat membunuh rasa bosan dalam perjalanan. Agak gundah juga karena bis berjalan agak pelan, tapi tidak apalah, karena keselamatan tetap menjadi nomor satu dalam kegiatan apapun yang kita lakukan.

Ngomong-ngomong, singgah dulu yah. Ini adalah Tanjung Dungbata, keindahan landscape bukit dan laut dalam satu pandangan mata, serta Pulau Konga yang menyendiri tapi tetap asik, seperti Petualang Labil. Tempat ini memang jadi tempat transit favorit. Petualang Labil juga lihat di akun facebook teman dan meminta supir bis untuk singgah barang 10 menit untuk mengambil beberapa gambar tempat ini.



Selepas foto dan mengambil gambar video, kami lalu melanjutkan perjalanan. Pukul 15.00 aroma Maumere mulai tercium di batang hidung Petualang Labil. Bergidik sudah bulu-bulu roma, tak sabar mengeksplorasi tempat yang untuk kali kedua Petualang Labil datangi. Kedatangan Petualang Labil yang pertama ada di sini.

Kita diturunkan di terminal pada pusat kota Maumere. Selama memasuki kota Maumere, Petualang Labil membangun komunikasi dengan Unni, kerabat Petualang Labil.

“Kalau sudah sampai nanti WA saja,”

Okey sekarang sudah sampai, dan Petualang Labil lupa memberi kabar. Dengan penuh kebingungan Labilers duduk di pinggir jalan, menanti Puput yang sudah sampai dahulu menggunakan pesawat.

“Ete, lihat itu orang, siapa yang bawa motor ngangkang begitu?”

Makin dekat orang itu kepada kami, PUPUT!? 

“Weh susah weh, beta bawa koper nah, sonde ada tempat buat pijakan nah makanya beta bawa motor kek ngangkang begini.”

Setidaknya kami sudah berkumpul. Rencana awal kami adalah menginap di rumah emak kos, tapi tidak ada satupun dari antara labilers yang mengetahui dimana rumah emak kos. Mana motor kurang satu, apa yang harus kami lakukan?

Emang rejeki gak pernah jauh chuy. Waktu otak kami hampir jatuh karena putus asa tidak bisa dipakai, munculah Unni melintas di depan kami.

“Hihh, untung kakak teriak tadi kalau tidak saya dengan kakak In su lewat. Tapi hebat bisa tanda kami padahal kami tidak lihat kakak mereka ada duduk di sini.”

Aduh Unni, untung lah engko lewat, kalau tidak kami tidak bisa sampai rumah emak kos. Emak kos juga belum pulang kerja jadi pilihan terakhir tanpa Unni ialah menunggu emak kos pulang kerja, kami luntang-lantung sodara sodara.

Singkat cerita, kehadiran Unni dan Ka Indri membantu kami untuk bertemu dengan induk yang siap menampung kami saat berada di Maumere. Kami diantar sampai Centrum, alamat rumah emak kos.

Pertemuan mengharu-biru, air mata kebahagiaan mewarnai pertemuan tersebut. Ingus juga tidak mau kalah keluar dari hidung. Emak kos yang sudah lama pindah ke Maumere perlahan curhat kalau di Maumere pun dia masih menjomblo.

“Ah, kita sama mak.”

Yuhu, makan malam, mandi, cuci pakian dulu, dan kita memulai pemanasan sebelum esok mulai eksplorasi Kabupaten Sikka dan sekitarnya. Rencana matang bos, tapi nanti lihat pelaksanaannya. Tapi malam ini kami ingin melihat langsung Monumen Tsunami. Ah ya, sebelum berangkat, bapak kos a.k.a Luis Penu muncul. Kami berlima langsung berangkat.

“B senang ewh besong datang...”



Juga kami mengunjungi Patung Kristus Raja Semesta Alam. Letaknya di Kota Uneng. Di sini kami menyalakan lilin dan berdoa. Vester berdoa khusus minta jodoh.

Ada cerita yang menarik untuk Petualang Labil beritakan. Menurut cerita, pada tahun 1992 saat Tsunami menghantam Maumere, Patung Kristus Raja membalikkan badannya dan membentangkan tangannya. Sontak air yang berusaha menggaruk patung itu untuk dijatuhkan terbelah menjadi dua dan terus menghantam bangunan sekitar patung. Setelah semuanya selesai, Patung Kristus Raja kembali ke posisi semula.

Saat berkunjung dan berdoa di hadapan Patung Kristus Raja pun suasana magis memang sangat kental. Khusuk adalah kesan pertama yang didapatkan. Bahkan untuk foto pun kita disarankan untuk mengambil jarak agak jauh dari Patung Berwarna Emas tersebut.


Selesai menyusuri beberapa tempat ikonik di Maumere, kami kembali ke rumah untuk beristirahat. Lanjutan trip di Maumere akan diawali dengan Wisata Rohani ke Lela. Gereja ikonik ala Portugis yang dibuat pertama kali di Maumere. Ikuti terus Blog Petualang Labil untuk melihat keseruan kami dengan kelucuan, romantisasi setiap sudut perjalanan dan kenangan yang berbaris. Ingat Wankawanka, saat trip jangan buang sampah dan melakukan vandal. Perjalanan adalah tentang belajar menghargai, jadi, jadilah orang baik mulai diri kalian sendiri. Salam Petualang Labil!

Wednesday, November 14, 2018

Tanjung Salib Maumere


Hallo, labilholic!! Wahh, lumayan lama juga Petualang Labil tidak menyapa kalian melalui tulisan-tulisan Petualang Labil yang tidak bermutu dan membuang-buang kuota internet kalian. Apa kabar semuanya? Kalau lagi sakit yah semoga tidak cepat mati. Kasihan, masih banyak tempat keren di Nusa Tenggara Timur ini yang mesti kalian datangi.

Sorry banget nih buat kalian semua karena belakangan ini Petualang Labil sangat disibukkan dengan hal-hal yang benar-benar tidak bermanfaat nan tidak berfaedah. Jadinya sekitar lima bulan ini Petualang Labil tidak menerbitkan ulasan perjalanan Petualang Labil. Untungnya nih choy, Petualang Labil kembali hadir.
“Sebenarnya lebih ke sial om.”
Untuk edisi bulan November ini, Petualang Labil akan memberikan ulasan tentang sebuah tanjung di Kabupaten Sikka yang katanya nih, sering digunakan orang-orang buat memadu kasih. Buat yang jomblo kalau tidak kuat mendingan pergi tidur sana dulu.
Januari 2018 Petualang Labil bertolak menuju Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Ada sedikit kegiatan, namun ini juga keberuntungan bagi Petualang Labil karena ini adalah moment pertama bagi Petualang Labil menginjakkan kaki di Kabupaten Sikka. Sangat surprise karena topografinya keren. Dari yang Petualang Labil amati, Kabupaten Sikka terutama ibu kotanya Maumere adalah kota yang menjadi penyambung antara gunung dan bukit dengan lautan.
Tanpa membuang waktu, seorang Labiler yang sering menemani Petualang Labil, @tinny_bhoka sudah bekerja di Maumere, langsung membawa Petualang Labil untuk menjelajah salah satu ikon pariwisata di sana, yaitu Tanjung Kajuwulu atau yang juga dikenal sebagai Tanjung Salib. Si @tinny_bhoka ini hanya akan kelihatan keren kalau kalian, tidur.


Waktu itu lagi musim hujan, jadinya mendung tebal meliputi seluruh Kota Maumere. Petualang Labil sudah mulai was-was, bagaimana kalau hujan besar turun? Yahh, benar saja, hujan pun turun ketika Petualang Labil sedang menuju ke Tanjung Kajuwulu. Dua kali kami harus berteduh sebelum zat cair yang di dalamannya mengandung 99% kenangan itu membasahi kami.
“Untung tidak jalan-jalan di Jalan Kenangan.”
Hujan mulai reda, kami lalu kembali menapaki putaran roda motor hingga akhirnya tiba di Tanjung Kajuwulu. Tanaman pisang, pete dan padi hingga sapi-sapi menjadi pagar ayu di beberapa titik, yang tugasnya mengantarkan kami ke tujuan. Perbukitan sungguh mendominasi sekalipun aspal curah ini dibangun di pinggir pantai. Akhirnya, Petualang Labil tiba di Tanjung Kajuwulu.


Pemandangannya? Beuhh! Tentu saja luar biasa. Tanjung Kajuwulu ini tempatnya agak unik, karena di sini perbukitan langsung berhadapan dengan laut. Pemandangan kerennya ada di puncak. Berbicara soal puncak, buat Labilholic yang ingin datang kemari tidak perlu membawa peralatan mendaki yang ribet. Cukup niat saja. Kenapa? Karena pada kulit tanjung ini sudah dibangun tangga buat mendaki. 

“Pendakian ke puncak kebahagiaan yah?”
Puncaknya adalah sebuah salib sekitar tiga meter tingginya yang dikulitkan menggunakan keramik putih, serasi dengan panggung dimana ia berdiri.
“Info, salib dan tangga itu dibangun oleh Kodim 1603/Sikka pada tahun 1999.” 

 Dari titik inilah kita bisa menikmati Tanjung Kajuwulu. Sepanjang mata memandang adalah laut yang tak berujung. Pemandangan sebelah kanan paling menyita perhatian Petualang Labil. Ada sebuah teluk dengan pantai pasir putih, epik dan keren. Background foto yang paling Petualang Labil suka dari Tanjung Kajuwulu ini.

Tapi kalau Labilholic berjalan naik ke atas lagi, maka pemandangannya bisa bertambah menakjubkan karena sudut pandang kita akan terbuka lebih luas lagi. Dan juga, puncak ini sering digunakan oleh masyakat Maumere untuk menancapkan bendera Merah Putih gaess. Seperti HUT RI ke 73 ini, masyarakat tumpah ruah di tempat ini untuk meramaikan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tersayang ini.


Petualang Labil merasa dahaga berpetualang akhirnya bisa terpenuhi juga. Selama ini hanya bisa stalk feed instagram orang, tapi kini bisa memijakkan kaki di tempat ini. Favorit banget! Sebagai bagian dari Nusa Tenggara Timur, Tanjung Kajuwulu tidak mengecewakan sama sekali. Semoga Tanjung Kajuwulu akan selalu terawat, dan selalu tampil alami. Buat para pembaca budiman, apabila terinspirasi mengunjungi tempat ini, ingat kalau kalian itu dilarang untuk membuang sampah sembarangan dan kalian tidak boleh melakukan tindakan vandalisme.
Akhir kata, saya selaku presiden Republik Labil beserta warga negaranya mengucapkan, Dirgahayu Republik Indonesia ke-73. Tak ada kata terlambat untuk selalu mengenang kemerdekaan Indonesia. Jaya Selalu Indonesia! Salam Petualang Labil, Salam Pesona Indonesia!
  #exotic_NTT #lombablog_exoticNTT #lombavlog_exoticNTT #destinasiwisata_NTT