Laman

Showing posts with label Travel Photography. Show all posts
Showing posts with label Travel Photography. Show all posts

Monday, February 28, 2022

A Lot of Love

Bali, kata orang, penuh dengan sejuta keindahan. Entah itu alam, budaya, maupun orang-orangnya. Ya, bisa saja hal itu merupakan hal yang benar, tapi menurut pendapatku, harusnya benar, karena Bali benar-benar menggantungkan kehidupan kepada keindahan-keindahan itu, jadi, seharusnya benar.

Sudah sejak Februari 2020 ini Petualang Labil memutuskan untuk pindah ke Bali. Tidak mudah memang, meninggalkan kampung halaman, keluarga, sahabat-sahabat yang baik, tapi karena ini tentang pekerjaan, jadi Petualang Labil mengambil keputusan tersebut.

Sekarang, Petualang Labil akan kembali melanjutkan cerita petualangan yang dijalani selama di Bali. Untuk tempat pertama, Petualang Labil akan menceritakan tentang satu dari sekian, yaitu Tanah Lot.

Yap! Tanah Lot sudah banyak memang yang mengenalnya, namanya masyur hingga ke kancah internasional. Sayang sekali karena masih dalam masa pagebluk covid-19, jadi tempat ini menjadi lumpuh dari kunjungan wisatawan. 

Kunjungan Petualang Labil ke Tanah Lot ditemani oleh Bearo. Yap! Labilers ini jauh-jauh datang dari Sulawesi untuk jalan-jalan ke Pulau Bali. Ceritanya, Bearo waktu itu ingin mencoba kuliner daging babi yang dijual di satu warung yang letaknya di Jalur Denpasar-Tanah Lot. Sangking pengennya, padahal masih ada juga kudapan lain yang beraneka babi di sekitaran Kuta maupun Denpasar, tapi mungkin karena udah ngebet banget, jadi kami pun berangkat menuju ke Tabanan.

Karena sudah sejalur dengan Tanah Lot, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke sana. Suasana agak sepi, bukan hal yang seharusnya dijumpai di Tanah Lot. Banyak lapak yang terlihat ditutup karena hampir tidak ada pengunjung. Beberapa freelance photographer tampak menawarkan jasa mereka, pun dengan beberapa penjual dagangan kreatif, berlomba-lomba agar tetap berpenghasilan agar tetap hidup.

Tanah Lot ini kebetulan secara geografis sangat bagus untuk menonton matahari terbenam, karena letaknya agak ke bagian barat. Suasana matahari terbenam sangat bagus, apalagi saat terpaaan cahaya senja menghantam ke pantai dan juga Pura Tanah Lot. Suasana seperti ini jangan sampai kalian lewatkan sendirian, ajaklah keluarga maupun pasangan kalian, sebab alam dapat membantu kalian untuk mengisi kembali perasaan yang miliki terhadap orang-orang kesayangan kalian, A Lot of Love.

“Kayanya lagi puber, mentang-mentang jalannnya berdua sama cewek,”

Petualang Labil dan Bearo menghabiskan senja hingga tak bersisa. Kami berfoto di sepanjang senja, dan Bearo mengeluhkan kenapa foto saya hanya dibuat dengan satu macam gaya saja? Petualang Labil pun heran, apa maksudnya?

“Nih liat foto kamu, cuman nyengir doang fotonya, sedangkan liat muka aku, gak gitu-gitu aja kan ekspresinya?” 

Weshh angel..

Kami beranjak pulang ketika malam telah tiba. Tentu saja kelelahan kami rasakan karena perjalanannya panjang, dan tanpa sadar Bearo sudah tertidur ketika kami pulang. Tanah Lot memang tempat yang tenang, mungkin juga dengan sedikitnya pengunjung yang ke sana, membuat suasana menjadi lebih nikmat untuk dinikmati, mungkin yah, walaupun suasana itu tidak penting bagi para pedagang di sana karena kalau tidak bisa menjual pun, sama saja.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali Petualang Labil datang ke Tanah Lot. Sebelumnya Petualang Labil berkunjung pada tahun 2020 bersama dengan Chent, Labilers yang sudah sering nampang di tulisan Petualang Labil. Waktu itu karena satu dan lain hal, jadi Chent datang ke Bali dan kami memutuskan untuk ke Tanah Lot.

Nah, sekian dulu dari Petualang Labil. Untuk para Labilholic, jaga selalu kesehatan kalian, dan kita berharap agar pagebluk ini bisa segera berakhir agar bisa lebih leluasa untuk bepergian. Stay safe, stay healthy, salam Petualang Labil.


Wednesday, February 19, 2020

Erbaun, Behind The Scene

Hey hey hey! Apa kabar Wankawanka pembaca yang Budiman, Sudirman dan Surahman? Semoga kalian dalam keadaan sehat walafiat lahir dalam keadaan yang terberkati. Sebulan lalu, seperti yang Petualang Labil janjikan, kita akan kembali ke Timor, sedikit mengambil rehat dari rentetan cerita Petualang Labil saat berada di Flores.


Wankawanka mungkin ada yang tidak asing dengan kalimat “Kaki kalau kena gantung itu sakit, apalagi hati,” dari sebuah video yang viral pada Januari 2019 lalu. Yap! Perbuatan tidak menyenangkan bagi mereka yang menunggu cinta untuk disambut tersebut dibuat oleh Petualang Labil bersama Venti dan Vester di Pantai Erbaun.


Waktu itu Labilers berencana untuk pergi ke Pantai Oesain di Baun. Jadi Labilers berangkat dari Kupang sekitar pukul 11.00 wita. Perjalanan yang ditempuh tidak mencapai satu jam. Jalanan saat itu masih lumayan berbatu. Medan yang agak jauh dan sulit itu tidak terbayarkan karena pintu masuk (yang pernah digunakan Petualang Labil) ditutup oleh masyarakat sekitar menggunakan bambu.

“Coba putar dari sebelah sana, mungkin pintu masuk yang lain ada,”

Labilers memutar balik dan mencari pintu masuk yang lain. Sayang sekali pintu masuk yang dimaksud tidak ditemukan. Karena tidak ditemukan, Labilers berinisiatif mencari pantai lain yang dekat dengan kawasan Oesain. Labilers mencoba bertanya ke warga sekitar.

“Lurus saja terus, nanti ada kali, lalu ada  gapura selamat datang, sedikit lagi ke sana ada jalan masuk di kanan, itu ada Pantai Erbaun di sana,”

Sesuai petunjuk, Labilers langsung melaju. Benar, seperti penjelasan bapak dua anak yang dia tinggalkan di rumah bersama istrinya karena ia harus pergi kerja tersebut. Labilers tiba di Pantai Erbaun, pantai yang digunakan oleh warga untuk memarkir sampan dan menyimpan peralatan melaut mereka.


Karena sudah sampai Vester dan Venti langsung bergerak mengambil gambar. Venti begitu lincah dan professional bergaya seperti model Majalah Bekas sedang Vester pun tampak professional seperti fotografer yang sudah melanglang buana dengan jam melayang yang tinggi.


Pantai Erbaun dapat dipastikan berdampingan dengan Pantai Oesain. Karakteristik Pulau Timor yang disusun di atas batu karang juga nampak di pantai ini. Bebatuan karang raksasa berbaris memanjang ke barisan kiri pantai, sedangkan pasir putih dengan kerikil halus berada di sebelah kanan pantai berjejer bersama beberapa sampan milik warga.


Saat Vester dan Venti sudah selesai, giliran Petualang Labil yang mengeksplorasi Pantai Erbaun untuk mengambil gambar. Beberapa warga nampak berkerja menggulung pukat, sedang warga lainnya terlihat memancing dengan hanya bermodalkan senar dan, mungkin saja keberuntungan. Sepertinya agak sulit memancing di laut dengan ombak laut selatan yang ganas itu.



Sekembalinya Petualang Labil dari berfoto,

“Ketong mau buat video viral yang lucu. Lu pegang kamera, b naik motor, nanti Venti yang mau numpang. Pas Venti mau naik nanti dia tanya kenapa motor sonde ada pijakan, beta jawab supaya adek tau, kaki kalau dapat gantung tuhh sakit, apalagi hati,”

Wah? Boleh juga nihh ide. Okey, kamera stand by and, terjadilah demikian video “Kaki Kalau Kena Gantung Itu Sakit, Apalagi Hati.”

Judulnya panjang coeg.

Labilers qieq qieq qaeq qaeq melihat gambar yang sudah diambil.

“Pulang baru beta edit sedikit,”

Pukul 15.32 kami sudah bersiap pulang. Petualang Labil mengajak Labilers untuk singgah sebentar di Usapi untuk melihat sunset. Musim hujan sudah mulai reda tapi awan mendungnya masih mengintai bumi dari langit. Momen seperti ini adalah saat yang paling sedap untuk menyaksikan jingga matahari yang terbenam. Kami bergegas dan tiba di Usapi.

Pemandangan luar biasa ini cuman dinikmati oleh kami bertiga. Venti belum pernah ke Usapi jadi beliau tercengang melihat pemandangan yang ada.

“Kawaii,”

“Kimochi,”


Dan, begitulah akhir dari cerita Erbaun, Behind The Scene. Pantai Erbaun sepertinya belum mendapatkan banyak jamahan pengunjung, dan belum diperhatikan oleh pemerintah minimal aparat desa. Semoga pantai potensial ini dapat dikelolah menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar selain sebagai nelayan.  

Buat Wankawanka juga, kalau trip, entah ke Erbaun atau kemana saja, jangan buang sampah sembarangan, atau baiknya jangan menjadi penghasil sampah plastik. Gunakan tumblr biar bisa isi ulang air minum yang kita bawa daripada membeli air minum kemasan, nanti habis pakai botolnya pasti akan dibuang. Dan juga, jangan melakukan tindakan vandal. Pertahankan kelestarian alam kita.

Semoga kalian semua diberkati wahai para pembacaku. Sampai jumpa di cerita Petualang Labil selanjutnya. Ikan.

Tuesday, October 8, 2019

OTW Sikka

Wuhuuu! Wankawanka! Bertemu lagi di Blog Petualang Labil, blognya blogger amatiran! Mengawali tulisan ini, Petualang Labil ingin meminta maaf untuk keterlambatan Petualang Labil kembali hadir ke hadapan para pembaca yang budiman nan suci dan tak berkalang noda, yang mana seharusnya sebulan sekali malah menjadi undur dua bulan, karena ada beberapa kesibukan yang memang sulit untuk dihindari. Sibuk bertahan hidup dalam kesendirian.

Nah, untuk tidak membuang waktu, mungkin kalian sudah terkencing-kencing ingin membacanya, Petualang Labil akan menceritakan perjalanan Petualang Labil bersama Puput Mandaru dan Vester Bili saat berada di Maumere. Eh, lupa juga emak kos Tinny Bhoka dan bapak kos Luis Penu. Panggil kami Labilers!


Perjalanan kita ke Maumere menggunakan ferry dari Kupang via Larantuka, bersama rombongan Epank Tallo bersama keluarga untuk menghadiri hajatan sambut baru. Kami menghabiskan sekitar dua belas jam perjalanan laut. Enakkan juga pakai ferry daripada pesawat. Sunset di tengah laut, adalah alasannya.



Oh, Tanah Nagi, kau membuatku merindukan sengatan matahari yang terik itu. Tak apalah, beristirahat sekitar dua jam, kami menghabiskan tidur kami di rumah milik Ka Adi dan Ka Uchy, kerabat Labilers sewaktu mereka masih berada di Kupang. Enak juga punya banyak teman, kenalan, keluarga, kalau numpang-numpang istirahat kek begini kan tidak kesulitan.


Kami langsung menuju ke Maumere setelah kami beristirahat.

“Ete, su pernah pi Maumere pake bis?”

“Belum.”

“Okey, cari ojek..”

Kami berangkat barang pukul 10.30 Wita. Terima kasih banyak ka Adi yang sudah memesan bis untuk menjemput kami di rumah. Buat ka Uchy, terima kasih juga untuk masakannya sebelum kami berangkat ke Maumere.

“Nanti kalau Ade sambut baru nah kamu datang ke sini ewhh, jangan cuman ke Maumere hanya cari du’a saja ewhh.”

Firasatku agak kurang enak nih.

Bis melaju pelan, menghancurkan setiap kelokan trans Flores. Perjalanan menyenangkan karena suguhan pemandangannnya tidak dapat membunuh rasa bosan dalam perjalanan. Agak gundah juga karena bis berjalan agak pelan, tapi tidak apalah, karena keselamatan tetap menjadi nomor satu dalam kegiatan apapun yang kita lakukan.

Ngomong-ngomong, singgah dulu yah. Ini adalah Tanjung Dungbata, keindahan landscape bukit dan laut dalam satu pandangan mata, serta Pulau Konga yang menyendiri tapi tetap asik, seperti Petualang Labil. Tempat ini memang jadi tempat transit favorit. Petualang Labil juga lihat di akun facebook teman dan meminta supir bis untuk singgah barang 10 menit untuk mengambil beberapa gambar tempat ini.



Selepas foto dan mengambil gambar video, kami lalu melanjutkan perjalanan. Pukul 15.00 aroma Maumere mulai tercium di batang hidung Petualang Labil. Bergidik sudah bulu-bulu roma, tak sabar mengeksplorasi tempat yang untuk kali kedua Petualang Labil datangi. Kedatangan Petualang Labil yang pertama ada di sini.

Kita diturunkan di terminal pada pusat kota Maumere. Selama memasuki kota Maumere, Petualang Labil membangun komunikasi dengan Unni, kerabat Petualang Labil.

“Kalau sudah sampai nanti WA saja,”

Okey sekarang sudah sampai, dan Petualang Labil lupa memberi kabar. Dengan penuh kebingungan Labilers duduk di pinggir jalan, menanti Puput yang sudah sampai dahulu menggunakan pesawat.

“Ete, lihat itu orang, siapa yang bawa motor ngangkang begitu?”

Makin dekat orang itu kepada kami, PUPUT!? 

“Weh susah weh, beta bawa koper nah, sonde ada tempat buat pijakan nah makanya beta bawa motor kek ngangkang begini.”

Setidaknya kami sudah berkumpul. Rencana awal kami adalah menginap di rumah emak kos, tapi tidak ada satupun dari antara labilers yang mengetahui dimana rumah emak kos. Mana motor kurang satu, apa yang harus kami lakukan?

Emang rejeki gak pernah jauh chuy. Waktu otak kami hampir jatuh karena putus asa tidak bisa dipakai, munculah Unni melintas di depan kami.

“Hihh, untung kakak teriak tadi kalau tidak saya dengan kakak In su lewat. Tapi hebat bisa tanda kami padahal kami tidak lihat kakak mereka ada duduk di sini.”

Aduh Unni, untung lah engko lewat, kalau tidak kami tidak bisa sampai rumah emak kos. Emak kos juga belum pulang kerja jadi pilihan terakhir tanpa Unni ialah menunggu emak kos pulang kerja, kami luntang-lantung sodara sodara.

Singkat cerita, kehadiran Unni dan Ka Indri membantu kami untuk bertemu dengan induk yang siap menampung kami saat berada di Maumere. Kami diantar sampai Centrum, alamat rumah emak kos.

Pertemuan mengharu-biru, air mata kebahagiaan mewarnai pertemuan tersebut. Ingus juga tidak mau kalah keluar dari hidung. Emak kos yang sudah lama pindah ke Maumere perlahan curhat kalau di Maumere pun dia masih menjomblo.

“Ah, kita sama mak.”

Yuhu, makan malam, mandi, cuci pakian dulu, dan kita memulai pemanasan sebelum esok mulai eksplorasi Kabupaten Sikka dan sekitarnya. Rencana matang bos, tapi nanti lihat pelaksanaannya. Tapi malam ini kami ingin melihat langsung Monumen Tsunami. Ah ya, sebelum berangkat, bapak kos a.k.a Luis Penu muncul. Kami berlima langsung berangkat.

“B senang ewh besong datang...”



Juga kami mengunjungi Patung Kristus Raja Semesta Alam. Letaknya di Kota Uneng. Di sini kami menyalakan lilin dan berdoa. Vester berdoa khusus minta jodoh.

Ada cerita yang menarik untuk Petualang Labil beritakan. Menurut cerita, pada tahun 1992 saat Tsunami menghantam Maumere, Patung Kristus Raja membalikkan badannya dan membentangkan tangannya. Sontak air yang berusaha menggaruk patung itu untuk dijatuhkan terbelah menjadi dua dan terus menghantam bangunan sekitar patung. Setelah semuanya selesai, Patung Kristus Raja kembali ke posisi semula.

Saat berkunjung dan berdoa di hadapan Patung Kristus Raja pun suasana magis memang sangat kental. Khusuk adalah kesan pertama yang didapatkan. Bahkan untuk foto pun kita disarankan untuk mengambil jarak agak jauh dari Patung Berwarna Emas tersebut.


Selesai menyusuri beberapa tempat ikonik di Maumere, kami kembali ke rumah untuk beristirahat. Lanjutan trip di Maumere akan diawali dengan Wisata Rohani ke Lela. Gereja ikonik ala Portugis yang dibuat pertama kali di Maumere. Ikuti terus Blog Petualang Labil untuk melihat keseruan kami dengan kelucuan, romantisasi setiap sudut perjalanan dan kenangan yang berbaris. Ingat Wankawanka, saat trip jangan buang sampah dan melakukan vandal. Perjalanan adalah tentang belajar menghargai, jadi, jadilah orang baik mulai diri kalian sendiri. Salam Petualang Labil!

Friday, April 26, 2019

Berburu Senja di Baliana

Heyy guys! Here we are again! Petualang Labil kembali menyapa kalian semua dalam kesempatan yang kurang berbahagia ini. Kurang bahagianya karena sebelum dan setelah pemilu, sepertinya tidak ada kedamaian. Maksud Petualang Labil, kenapa coba harus saling menjatuhkan hanya karena berbeda pilihan politik? Memang dunia ini bubar setelah 17 April? C’mon people!


Karena masih berada di hawa panas perpolitikan, Petualang Labil akan menyegarkan Indonesia dengan postingan baru, yaitu Berburu Senja di Baliana.

“Persahabatan bagai kepompong, na na na na na na..”

Cerita Petualang Labil kali ini akan ditemani teman-teman Labilers. Siapa saja? Mereka adalah @ipitsaja si cewek kurus imut dan menggemaskan, merupakan teman masa Sekolah Dasar Petualang Labil guys. Lalu ada @1st.omen_jr yang merupakan teman semasa Sekolah Dasar Petualang Labil, juga @johanes_jovan teman semasa Sekolah Dasar Petualang Labil. Singkatnya, mereka adalah teman Sekolah Dasar Petualang Labil. Dan juga Harun. 


Awal mula kenapa Petualang Labil menyasarkan diri ke Baliana karena melihat postingan instagram milik @marianasogen di sana. Setelah bertanya, Petualang akhirnya memutuskan ke sana bersama @johanes_jovan dan teman lainnya si Harun.

Kunjungan pertama ini bersifat survey jadi tidak terlalu intim. Bertiga, kami berangkat dari Kupang menggunakan sepeda motor. Perjalanan ditempuh sekitar 45 menit menuju Baliana yang letaknya di Kupang Barat. Kami menyusuri Jalur 40, Pelabuhan Bolok, Lalendo, tersesat di kumpulan semak PLTU Kupang karena GPS menipu.


“Loh, bukannya situ yang memang keliru baca GPS?”


Setelah menertawai kekonyolan, kami kembali lagi dan mendapatkan air laut yang perlahan surut. Ternyata Pantai Baliana harus melewati semak-semak Kayu Kuning. Jalannya batu putih yang mengeras secara alami. Matahari yang sebentar lagi terbenam merupakan petunjuk alami yang kami yakini. 

Pantai Baliana tidak seperti yang lainnya, tanpa hamparan pasir serta pohon kelapa menari disembur angin sepoi. Yang Petualang Labil jumpai adalah hamparan karang, benteng penahan abrasi yang sudah ada secara alami, membentang jauh. Karang-karang tajam menghujam, jadi jangan lupa gunakan alas kaki yang tepat. 


Survey ini kami hanya berkesempatan mengambil beberapa gambar. Petualang Labil juga mengambil beberapa gambar untuk keperluan video. Labilholic jangan lupa juga untuk melihatnya di kanal Youtube Petualang Labil.

Kesempatan berikutnya, Petualang Labil mengajak @ipitsaja dan @1st.omen_jr ke Pantai Baliana. Sudah ada gambaran keadaan pantai. Labilers kemudian bergegas untuk menyiapkan semua perlengkapan seperti kamera untuk foto dan video. Targetnya adalah matahari yang terbenam.

Di sela-sela kunjungan Labilers juga berbincang dengan Tika, anak kecil yang sedang menjaga hasil meting orang tuanya. Tika sedang memainkan rumput laut tatkala beberapa temannya datang dan mengajaknya untuk pulang.

“Beta punya mama masih di sana,” ujung jarinya menunjuk pada tiga perempuan yang berada di laut yang sedang surut.


Si @ipitsaja gila juga salah satunya. Ia berjalan tanpa menggunakan alas kaki, padahal itu berbahaya karena Bulu Babi.

“Pakai sandal woyy! Awas kena injak Bulu Babi. Lu mau kempes ko?” Hardik @1st.omen_jr.

“Eihh, @1st.omen_jr ambil b punya sandal dolo, b suh malas mau kembali,” balasnya.

Akhirnya @1st.omen_jr harus mengantar sandal milik @ipitsaja. Saat menyerahkan sandal tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, tumbuhlah benih-benih cinta, dan sejak saat itu hidup mereka menjadi bahagia selamanya. Setidaknya mereka tidak menjalin cinta saat musim Pemilu Presiden.

“Awas nanti tiba-tiba menghilang.”


Momen terbaik yang Labilers rasakan bukan pada saat matahari pelan-pelang kembali ke peranduan, melainkan beberapa menit setelah matahari tenggalam dan beberapa sebelum gelap. Menjadi keberuntungan kunjungan yang kedua ini karena petang itu langit jingga menjadi suguhan Tuhan atas kunjungan kecil Labilers. Awan yang berduyun-duyun bergiring rendah di atas kepala kami berbisik melalui angin.


Dan begitulah, ketika niat berburu sunset ini digabungkan dengan sedikit keberuntungan, maka pemandangan indah ini yang berhasil kami dapatkan. Sudah selayaknya Labilers bersyukur untuk momen yang belum tentu didapatkan oleh pengelana lainnya.


Keindahan ini harus terus dijaga. Harus terus dilestarikan. Caranya? Jangan buang sampah, dan jangan bertindak vandal. Petualang Labil berharap semoga kawasan ini bisa diperhatikan pemerintah. Jangan diprivatisasi, tapi dikembangkan menjadi daerah pariwisata untuk kemakmuran masyarakat sekitar. Akses jalannya sudah bagus, selanjutnya adalah tindakan kreatif dari pemerintah dan masyakarat sekitar.


Akhirnya, saya selaku Presiden Republik Labil mengucapkan selamat atas terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang baru. Semoga Indonesia menjadi jauh lebih baik dan pariwisata di Nusa Tenggara Timur bisa menjadi tempat yang gokil! Salam Petualang Labil.

Tuesday, February 12, 2019

Air Terjun Takrubu

Hari ini ada yang salah dengan pagiku. Aku seperti terbiasa tanpa sapaanmu. Sudah satu bulan sejak hari itu, hari yang membuat gundah isi dadaku. Ya, paketan internetku belum aku isikan.
Heyy yooo guys, bertemu lagi dengan Petualang Labil, traveler yang rajin menabung dan berdoa, serta menolak dengan keras Rencana Ulang-Ulang Permusikan yang sedang dibahas oleh anggota dewan sempak 7 bulan belum dicuci, alias otak mereka yang belum dicuci. Bagaimana tidak ditolak? Lihat saja salah satu pasalnya mewajibkan kegiatan sekelas pensi sekolahan harus menggunakan jasa Event Organizer? Jualan rantangan macam apa coba? Dan yang pasti, takut saja RUU ini menjadi singlet bermata dua. Bukan juga, tapi lebih ke kriminalisasi musisi, dan pengekangan kreatifitas bermusik.

“Silet woyy bukan singlet. Lagipula peribahasa yang benar adalah Pisau bukan Silet.”

Nah labilers, seperti intro di atas, Petualang Labil sudah sebulan ini menjomblo. Eits, sorry, maksudnya sebulan ini tidak isi paketan, jadi barulah sekarang cerita ini Petualang Labil tampilkan. Maklum saja yah Labilholic, Petualang Labil ini masih tinggal di kos-kosan.
Masuk ke dalam substansi, cerita kali ini Petualang Labil akan memberi gambaran perjalanan yang Petualang Labil lakukan ke Air Terjun Takrubu. Air Terjun ini berlokasi di Baun. Dari Kota Kupang, Baun itu berada di Selatan, jarak tempuhnya sekitar 45 menit menggunakan kendaraan beroda dua. 
Ini kali kedua Petualang Labil datang bermain di Air Terjun Takrubu. Kali ini yang menjadi Labilers adalah @vester_bili @elizabeth_vee dan @marianasogen. Kalau di perjalanan sebelumnya yang menjadi labiler adalah @jovan_johanes
Perjalanan dimulai dari rumahnya @elizabeth_vee. Kita sempat beristirahat di jalanan sembari menunggu ban motor milik @marianasogen yang pecah saat perjalanan. Setelah selesai, kami kembali ke rumah masing-masing.

“Koe ini sakit di bagian mana biar saya perbaiki. Ini ceritanya belon selesai,”

Singkat cerita kami tiba di jalan setapak menuju Air Terjun Takrubu. Karena masih dalam musim hujan, jalanan sekitar Air Terjun menjadi licin. Medan menjadi berbahaya, karena itu perlu menjaga setiap langkah agar hati-hati menapaki setapak licin tersebut. Pun orang yang datang berkunjung juga lumayan banyak. Bahkan ada yang datangnya rame-rame bersama keluarga menikmati akhir pekan saat itu. Untung bukan keluarganya Yonkou Big Mom.

“Katanya ada keluarga, lah itu fotonya cuman laki-laki sebatang kara.”

Kondisi hujan membuat air yang seharusnya berwarna tosca menjadi a little bit  kecoklatan. Kabar baiknya, kondisi tersebut tidak membuat pengunjung untuk ragu-ragu berbasah ria menikmati nuansa alam di sana. Tinggi air terjun yang sekitar 10 meter itu tidak membuat kolam di ujung lidah air terjun menjadi berbahaya apabila pengunjung ingin mandi di sana. Lumayan cocok juga untuk berpose ala Putri Marino.
Juga trip yang kedua ini ada yang berbeda nih. Sudah ada papan-papan bertuliskan pesan kreatif di sekitar air terjun dari komunitas yang namanya @ugal_squad. Ini nihh anak muda peduli kebersihan lingkungan. Keren kan? Walaupun lebih keren Petualang Labil sih, hehehe. Nanti kalian komen yah mana yang lebih keren.

“Kaka Labil memang keren, tapi gila nihh sama sahh”


 Okey, setelah mengambil gambar dan video, sekarang waktunya kita pulang. Nah, kali ini juga butuh perjuangan untuk naik kembali nih. Bagian tangga air terjun mungkin yang paling berbahaya. Saat datang dan pulang, kalian harus hati-hati biar kalian tidak jatuh. Banyak juga batu yang sedang menunggu kepala kalian untuk dihancurkan.

“Dasar psikopat lu!”

Artinya yah kalian mesti hati-hati biar trip apapun itu kalian tetap selamat. Senang rasanya bisa membawa teman-teman Labilers berkunjung ke sini. Akhirnya Petualang Labil jadi panutan choy. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihanya yah kalau kalian berkunjung ke sini. Kalau kalian tetap mau ngemil tapi masih suka nyampah, saran aja nihh guys, mending kalian makan sekalian dengan bungkusannya. Deal yah?

Sekian dari Petualang Labil edisi Air Terjun Takrubu. Btw, pada foto-foto di atas ada juga foto dari trip pertama Petualang Labil, biar bisa jadi pembanding untuk kalian berkunjung. Salam lestari, salam Petualang Labil.

Wednesday, December 19, 2018

Bait Pendek-Senja Desember Naioni


“Sebutkan namanya. Aku ingin disiram rindu kala ucapanmu terngiang di telingaku. Perasaan ini masih saja meluap-luap karena langkah kaki masih dibelenggu jarak. Aku ingin pulang kepada masa kecilku ketika berlari di lapangan rumput. Aku tahu aku akan ditelan hijaunya sabana. Aku suka wajahku disiram lembayun senja.”

Hallo Labilers! Wahh, kita bertemu lagi nihh guys. Gimana nihh kabarnya?
“Walahh ko sehat lahh..”
“Kau omong jangan muncrat lahh..”
Semoga kalian dalam keadaan yang sehat walafiat. Kalau lagi sementara sakit, baca saja blog Petualang Labil, dijamin deh, akan sembuh. Yakin? Bacalah sambil minum obat yang teratur, jaga pola makan, dan istirahat yang cukup maka kalian akan sembuh.
“Kalau sakitnya ditinggal kekasih?”


MODAR!
Nahh Labilers, kali ini Petualang Labil akan membagikan pengalaman Petualang Labil di Naioni. Kebanyakan yang tinggal di Kota Kupang pasti tidak asing dengan nama Naioni kan? Yapp, benar sekali. Naioni merupakan sebuah kelurahan yang masuk dalam wilayah administrasi Kota Kupang. Tidak asing juga kan, dengan Taman Baca yang diresmikan Ibu Ani Yudhoyono?
“Awas disinggung sama memo di Instagram om,”
Kalau kalian bertanya, apa istimewanya Naioni? Kelurahan yang terletak di sudut luar Kota Kupang itu memang dianggap tidak begitu istimewa oleh kebanyakan orang di Kota Kupang, pun demikian dengan pemikiran Petualang Labil pada awalnya. Hanya saja, ketika mengikuti kegiatan Bakti Sosial dari kelompok Orang Muda Katolik Paroki Santa Famila Sikumana, masyarakat setempat bercerita tentang sebuah padang rumput yang berada di lingkar luar kelurahan tersebut.
Berdasarkan penjelasan warga, Petualang Labil bersama dengan beberapa teman OMK mencoba menelusuri jalan pikiran, salah, jalan kelurahan Naioni. Melewati bererapa tikungan, Valentino Rossi yang sudah tidak muda lagi masih bisa memberikan perlawanan sengit kepada bekas kompatriotnya di Yamaha, Jorge Lorenzo. Kehidupan mereka pun berakhir bahagia karena Marq Marques mentraktir mereka makan daging anjing dengan sayur kol.
Akhirnya tiba juga di padang yang dimaksudkan oleh para warga Naioni. Letaknya tidak terlalu jauh. Sedikit bergelombang tekstur tanahnya, mungkin bekas kebun milik masyarakat. Singgasana hijau itu dimahkotai oleh perbukitan. Yang membuat tempat ini tampak luar biasa adalah, terbenamnya matahari di pelupuk sebelah barat bumi.


Langit sore itu tidak tampak terluka dengan hadirnya beberapa awan hitam pembawa hujan. Sama sekali tidak buruk sama sekali tidak buruk sama sekali, Ferguso. Lembayun senja, sinar jingganya seperti melambai-lambai. Di dalam bola mata itu, aku bisa melihat cahaya mentari terpancar, dan dari hati itu, aku bisa merasakan kehangatannya.
“Seluruh kota merupakan tempat bermain yang asyik, oh senangnya aku sibuk sekali,”


Petualang Labil benar-benar menikmati nuansa itu. Rasanya lebih nikmat daripada daging anjing dengan sayur kol. Jika kalian merasa jatuh cinta, jangan membuat hati dan pikiran kalian menjadi rancu. Datang saja dan ambil beberapa gambar. Semua itu tidak menjadi masalah, yang penting kalian tidak merusak tempat ini dengan sampah, vandalism, dan pikiran kotor kalian.
Sekian dari Petualang Labil kali ini. Untuk semua pembaca, Petualang Labil mengucapkan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru. Semoga tahun 2019 tidak ada drama politik biar Indonesia bisa lebih maju lagi. Salam Pesona Indonesia.