Laman

Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Saturday, November 21, 2020

Buntung

Teater senja di Tanjung Kajuwulu sudah dimatikan ketika waktu menunjukkan pukul 18.38, atau mungkin kurang dari itu. Petualang Labil membereskan kamera dan tripod dan dimasukkan ke dalam tas. Saatnya menuruni puncak bukit Kajuwulu, dimana sebuah salib dengan kulit berupa keramik putih dipancang di sana menghadap ke lautan.

Teman-teman sudah menunggu di tempat parkir, tepat di anak tangga pertama bukit ini. Dan yang mereka lakukan..

“Motor milik Luis tidak bisa dinyalakan,” tandas Puput yang sedang membantu pencahayaan dari hapenya, diarahkan pada Luis dan Vester yang melangak-melongok mencari penyebab motor Jupiter MX itu mandeque.

“Stater kaki?”

“Sama juga, tidak mau,” timpal Nacha.

“Ini gara-gara lu yang lama nah Go, mana gelap pula,” sambung Chent.

“Wah sorry, soalnya moment ke sini susah terulang, jadi ada kesempatan yah sekalian direkam sunset tadi,” balas Petualang Labil.


“Sudah, nasib yang agak buntung kali ini. Coba Luis, motornya di dorong ke arah turunan di sana, posisi gigi set masuk,” hardik Vester sekalian memberikan saran. Untuk hal itu Nacha harus GTO (Gonceng Tiga Orang) bersama Puput dan Chent, sementara Vester bersama Petualang Labil. Ketika Luis set gigi masuk, motor itu nyala. Tanpa menunggu lama, ditarikanya tali gas motor itu sekuat tenaga, dan Luis, menghilang.

“Yah, dia pulang?”

Dari arah berlawan dalam perjalanan pulang, Luis berbalik dalam kecepatan yang tinggi, kemudian menyusul kami dari belakang.

Sejurus kemudian dari arah berlawan dalam perjalanan pulang ia berbalik dalam kecepatan yang tinggi, kemudian menyusul kami dari belakang.

“Luis, ko su dari belakang lai?” Puput terheran karena tidak sempat melihat Luis yang tadi melaju dalam kecepatan tinggi.

“Motor sudah kembali aman. Ayo Vester, naik ke sini lagi, biar Puput kembali supaya tidak GTO,” tandas Luis.

Labilers kembali pulang setelah sore ini berpetualang bersama. Petualang pertama hari ini dimulai dari Hutan Bakau di Magepanda yang dapat kalian baca di sini. Selepas pukul empat setelah menelusuri Hutan Bakau, kami memutuskan untuk menyaksikan Teater Senja di Tanjung Kajuwulu. Letaknya tidak jauh, hanya sejauh pacar lima langkah dari rumah padahal  jomblo. Kami memacu motor keluar dari tempat parkir dan meluncur ke Tanjung Kajuwulu.


Ini adalah kali kedua Petualang Labil berkunjung ke Tanjung Kajuwulu, yang pertama pada tahun 2018, bulan Januari. Kalau kalian belum membaca, ceritanya tinggal klik di sini. Waktu ini Petualang Labil cuman ditemani oleh Chent yang memang sudah setahun menetap di Maumere. Nah, untuk kali ini bersama dengan Labilers yang membuat perjalanan semakin seru.

Sebelum menapaki anak tangga bukit kami harus membayar karcis masuk dulu. Sore itu, karena bertepatan dengan tanggal merah, maka banyak sekali yang datang untuk berkunjung. Ada beberapa perubahan juga terjadi, beberapa diantaranya adalah pegangan di sini kiri anak tangga, dan sebuah bangunan seperti menara coast guard yang masih terlihat sangat baru di sisi kiri.

Perlahan kami menanjaki tiap anak tangga hingga berhenti pada sebuah titik kecil.

“Foto dulu yak,” ajak Nacha mengeluarkan handphone dan berselfie. Puput kemudian duduk beristirahat dan Chent mengempiskan perut disertai nafas yang dibuang keluar secara kasar.

“Isi perut jangan ewh kak."



Kami melanjutkan perjalanan ke atas mencari spot lainnya.

“Waktu itu saya juga foto di sana,” ucap Petualang Labil menunjuk pada satu spot.

“Okey aku difoto dulu di sini,” Puput langsung mengambil posisi dan, cekrekk..


Luis sudah berlalu terlebih dahulu setelah kami mengambil beberapa gambar. Kami berjalan pelan dari belakang, menuju ke puncak bukit. Beberapa pengunjung juga mengikuti dari belakang.

“Okey di sini saja, pas dengan matahari yang posisinya lurus,” cetus Petualang Labil sembari mengeluarkan tripod dari dalam tas. Kebetulan kami membawa dua buah kamera, jadi satu kamera digunakan untuk berfoto, satunya digunakan digunakan untuk merekam Teater Senja dari atas Tanjung Kajuwulu. 


Suasana yang menyenangkan dinikmati. Dari pagi, walaupun telat bangun, bermalas-malas ketika disuruh untuk bersiap, dan baru berangkat jam dua siang, tapi Labilers tetap menikmati sunset ini dalam sukacita. Kami tidak memikirkan tentang motor milik Luis yang sedang disabotase oleh waktu sehingga kami harus lebih bersabar ketika harus meninggalkan tempat ini, karena keindahan ini lebih pantas untuk dinikmati dalam sukacita.

Langit yang tadinya orange, menjadi ungu, dan gelap, mengantarkan petualangan hari itu selesai. Kami kembali ke rumah ibu kos dengan selamat. Kalau kalian bertanya siapakah ibu kos yang dimaksud, kalian harus membaca semua rangkaian perjalanan Petualang Labil bersama teman-teman di Sikka mulai sejak kedatangan, dan tentu saja untuk selalu membaca blog ini, karena Petualang Labil masih akan menceritakan perjalanan yang seru ke Kapela San Dominggo yang letaknya di Flores Timur, namun sebelumnya singgah sebentar untuk makan di acara sambut baru.


Terima kasih sudah membaca, salam lestari, salam Petulang Labil.

Tuesday, September 29, 2020

City of Mangrove

Kembali lagi ke sini, di Blog Petualang Labil! Gimana kabar kalian semua di tengah pagebluk Covid-19 ini? Petualang Labil berharap kita semua sehat dan bahagia, tidak jatuh sakit baik kita maupun keluarga kita semuanya.

Masih menghibur Labilholic sekalian, Petualang Labil akan melanjutkan cerita Petualang Labil saat bersama teman-teman mengarungi tempat-tempat menakjubkan di Kabupaten Sikka. Kemarin memang Petualang Labil menyisipkan cerita ke Rumah Pengasingan Soekarno di Kabupaten Ende, sekarang Petualang Labil akan membawa kalian semua menuju ke Hutan Bakau di Kabupaten Sikka.


Hari sudah hampir sore dan, belum ada satupun dari antara Labilers yang bergerak mempersiapkan diri untuk trip kali ini. Semuanya masih malas-malasan karena panasnya Kota Maumere.

“Sebentar, dikit lagi, masih terlalu vulgar (panas),” Vester masih baring-baring dari tadi. Petualang Labil malah sudah selesai mandi dari kosan Luis dan mereka belum selesai siap untuk berangkat, kecuali Nacha yang lagi ngelap mukanya memakai beberapa macam perawatan yang membingungkan.

“Biar ewh, daripada burik!?”

Tuh muka kalau tidak dipakai lagi ingin aku rombak kek Sanji bongkar muka milik Duval. 

Semuanya akhirnya selesai bersiap sekitar pukul 14.00 wita. Matahari yang memang panas perlahan turun panasnya setelah minum paracetamol, bersamaan dengan warnyanya yang pudar menjadi jingga. Tapi tetap saja panas cuaca di sana bikin berkeringat kendati sudah mandi.




Rombongan akhirnya berangkat sekitar pukul 14.30 wita. Tempat pertama yang dituju adalah Hutan Bakau yang terletak di Desa Reroja di Kecamatan Magepanda, sekitar 30 km dari kota Maumere. Bakau yang menghutan ini ditanam oleh seorang bapak yang sudah meninggal, dikenal dengan nama Baba Kong. Beliau menanam banyak bakau sebagai respon dari bencana tsunami yang menghantam Maumere pada Desember 1992.


Pesona hutan bakau ini berdiri pada lahan seluas 70 ha. Agar wisatawan bisa berkeliling di hutan bakau ini, disediakan jembatan kayu yang menjadi sarana agar pengunjung bisa berjalan, sebab kalau tidak, hanya ada lumpur dan rawa dosa, yang akan menelan kalian dan hanya tinggal penyesalan.

“Iya bang, nanti kita tidak bisa jalan-jalan di dalam hutan bakau kalau jembatan kayu tidak ada ewh.”

Selain jembatan kayu disediakan juga dua pondok kecil di area hutan bakau yang dapat digunakan untuk beristirahat. Pada ujung jembatan kayu juga ada sebuah tower yang dibangun menggunakan bambu agar pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan bakau dari tempat yang tinggi.

“Yang penting naik hati-hati dengan pengendalian chakra yang sempurna.”



Pada bagian luar area hutan, Labilers mendapati pantai dengan garis pantai yang panjang. Hutan bakau yang baru saja Labilers lalui dan menikmati oksigen menyegarkan daripadanya, tampak seperti diapiti oleh bukit dan pantai. Tentu saja Chent langsung meminta untuk dipotret, pun Puput yang sebelumnya beristirahat di bangku pinggir pantai meminta untuk dipotret setelah Chent menyelesaikan sesinya.



Kira-kira sampai sini ada pertanyaan?

“Ya pak! Semalam saya mendapatkan uang Rp. 5000 dari ayah saya dan tidak saya bagikan kepada adik saya. Pertanyaannya, kenapa ibu mau menikahi ayah saya?”

Oh, mungkin jawabannya adalah dia mau melihat lagi foto pantai itu. Ini, aku kasihkan lagi.



Nah, laki-laki berkacamata ini kalau kalian suka silahkan dibawa pulang. 

Demikian dari Petualang Labil untuk cerita City of Mangrove ini. Baba Kong adalah individu yang hebat, melahirkan Hutan Bakau ini sebagai kepeduliannya terhadap lingkungan. Dicibir dan dihina karena tidak memilih menanam kelapa dan tanaman perkebunan lainnya, akhirnya usaha Baba Kong ini bermanfaat bahkan untuk para pencibirnya juga. Tujuan sederhana agar kalau terjadi tsunami, air dapat tertahan di Hutan Bakau, sekarang dinikmati bahkan oleh orang-orang dari luar negeri sebagai titik wisata yang patut dikunjungi.

Setelah melihat apa yang dilakukan Baba Kong, Petualang Labil meyakini, Baba Kong adalah Hashirama Senju, pengguna Mokuton dengan jutsu yang dapat melahirkan hutan. Walaupun diberi penghargaan oleh Pemerintah Indonesia, dia tetap rendah hati dan mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk sesamanya. Benar-benar sikap seorang hokage sejati!

Terima kasih Baba Kong untuk inspirasi dari kepedulian anda! Cerita selanjutnya adalah, Kembali ke Tanjung Kajuwulu!



Monday, August 17, 2020

Jas Merah

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”

Ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga masyakarat Indonesia. Ungkapan yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, pada pidato kenegaraannya yang terakhir sebagai seorang presiden pada tahun 1966, menandakan bahwa sejarah adalah lembaran yang tidak boleh dilupakan, tentang tulang yang patah dan darah yang tumpah, untuk Merah Putih agar berkibar dan terus berkibar di bumi Nusantara, Indonesia!

Wankawanka, edisi bulan Agustus ini Petualang Labil akan membawa kalian menuju ke satu tempat di Kabupaten Ende, tempat dimana Pancasila dikonsepkan pertama kalinya oleh Proklamator kita Ir. Soekarno. 


Jadi nih guys, Kabupaten Ende terletak di Pulau Flores. Kita bisa menempuh menggunakan pesawat dari Kota Kupang, dan dibawa terbang burung besi sekitar 45 menit. Pendaratan pesawat dilakukan di Bandara H. Hasan Aroeboesman. Letaknya cukup dengan hotspot perjalanan kita kali ini. Tapi nih Wankawanka, Petualang Labil saat itu ke sana cukup berjalan kaki sebab penginapan Petualang Labil dengan dengan Rumah Pengasingan Bung Karno.

Untuk rumah pembuangan Bung Karno, cukup mudah dijumpai karena letaknya berada di tengah kota, beralamat di Jalan Perwira Kelurahan Kota Raja. Bangunannya yang masih dipertahankan keasliannya dengan kondisi saat Bung Karno dibuang pada 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938 tersebut memudahkan kita untuk menemukannya.


Oleh karena telah dilindungi oleh undang-undang, pengelolaan situs ini dimaksimalkan secara baik. Bukan hanya bentuk rumahnya yang dipertahankan keasliannya, melainkan tata letak ruangan serta perabotan juga ditata menurut tempatnya masing-masing ketika rumah tersebut masih ditempati oleh Bung Karno.

Sambutan ketika Petualang Labil masuk  bersama Luis Penu masuk ke dalam rumah ini adalah lukisan “Pura Bali” yang dilukis secara langsung oleh Bung Karno. Bukan hanya lukisannya saja yang dipamerkan, melainkan juga Kayu Kliping yang digunakan oleh Bung Karno untuk menjadi penjepit lukisan agar media lukis menjadi rata dan mudah untuk dilukis.


Di sebelah kiri pintu masuk ada beberapa benda lain seperti biola dan tongkat yang sering digunakan oleh Bung Karno. Dikatakan bahwa pada awalnya Bung Karno merasa frustasi sebab status sebagai tahanan politik Belanda pada saat itu harus membawanya untuk menjalani hukuman, bahkan hubungannya dengan keluarga bangsawan di Ende dibatasi oleh Belanda. Lama-kelamaan Bung Karno menggunakan moment tersebut untuk menyapa masyarakat kecil di Ende dan bertemu dengan misionaris-misionaris seperti Gerardus Huijtink yang saat itu menjadi Pastor Paroki di Ende, dan tongkatnya, digunakan untuk menemani perjalanannya.


Di bagian belakang ada kamar tidur Bung Karno dan istrinya saat pengasingan, Inggit Gamasih. Kamar tidur masih lengkap dengan tempat tidur dan kelambu serta lemari yang pernah digunakan oleh Bung Karno. Bersebelahan dengan kamar tidur adalah ruang yang digunakan untuk berdoa oleh sang proklamator.


“Maaf pak numpang nanya, kamar kecil sebelah mana yah?”

Kamar kecil berada di bagian belakang rumah, tepatnya dekat dengan sumur. Dulu sekali di rumah tersebut tidak ada air untuk minum, namun diusahakan oleh Bung Karno bersama teman-temannya untuk mencari air, hingga akhirnya sumur tersebut digali agar airnya digunakan untuk kebutuhan makan-minum, kebersihan, hingga untuk sholat.


Bergerak ke arah selatan, Petualang Labil bersama Luis menuju ke Taman Permenungan Bung Karno. Tidak satupun dari kita yang tidak tahu Pancasila. Ende merupakan kota dimana Lima Mutiara Bangsa Indonesia ini lahir, dan di bawah Pohon Sukun pada taman itulah, Bung Karno melahirkan pemikiran tersebut yang hingga saat ini kita letakkan sebagai fondasi kehidupan berbangsa kita. 

Pohon Sukun yang dulunya menjadi tempat permenungan Bung Karno tentu sudah tidak ada lagi, akhirnya diganti dengan Pohon Sukun lain, sebagai tanda pada tempat tersebutlah Bung Karno mengkonsepkan Pancasila sebagai falsafah Bangsa Indonesia.

Yang menjadi icon dari taman tersebut adalah Patung Bung Karno yang sedang duduk di sebuah bangku panjang sembari menatap ke laut. Karena banyak yang menyempatkan berfoto di sana, ya sekalian Petualang Labil juga.


“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”

75 tahun adalah perjalanan yang panjang dari sebuah bangsa untuk hidup. Beraneka ragam bahasa dan budaya dipersatukan Bung Karno, idenya berasal dari tempat ini. Dia berjuang hingga akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hari ini kita lihat bencana penyakit corona, tanah yang dirampas, Hak Asasi Manusia yang terus dilanggar, lingkungan yang makin digerus ketamakkan, semua problem bangsa ini seperti ulat dalam daging bangsa kita. Momen kemerdekaan ini mari kita ingat kembali semua perjuangan pendahulu bangsa kita agar kita bisa bersatu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Jika mereka sudah memulai perjalanan Bangsa Indonesia dengan darah dan air mata, saatnya kita melanjutkannya dengan peluh kita. Ibu Pertiwi tidak perlu menangis lagi.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya,”

Selamat merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-75. Jaya selalu Indonesia,  salam Petulang Labil!

Wednesday, February 19, 2020

Erbaun, Behind The Scene

Hey hey hey! Apa kabar Wankawanka pembaca yang Budiman, Sudirman dan Surahman? Semoga kalian dalam keadaan sehat walafiat lahir dalam keadaan yang terberkati. Sebulan lalu, seperti yang Petualang Labil janjikan, kita akan kembali ke Timor, sedikit mengambil rehat dari rentetan cerita Petualang Labil saat berada di Flores.


Wankawanka mungkin ada yang tidak asing dengan kalimat “Kaki kalau kena gantung itu sakit, apalagi hati,” dari sebuah video yang viral pada Januari 2019 lalu. Yap! Perbuatan tidak menyenangkan bagi mereka yang menunggu cinta untuk disambut tersebut dibuat oleh Petualang Labil bersama Venti dan Vester di Pantai Erbaun.


Waktu itu Labilers berencana untuk pergi ke Pantai Oesain di Baun. Jadi Labilers berangkat dari Kupang sekitar pukul 11.00 wita. Perjalanan yang ditempuh tidak mencapai satu jam. Jalanan saat itu masih lumayan berbatu. Medan yang agak jauh dan sulit itu tidak terbayarkan karena pintu masuk (yang pernah digunakan Petualang Labil) ditutup oleh masyarakat sekitar menggunakan bambu.

“Coba putar dari sebelah sana, mungkin pintu masuk yang lain ada,”

Labilers memutar balik dan mencari pintu masuk yang lain. Sayang sekali pintu masuk yang dimaksud tidak ditemukan. Karena tidak ditemukan, Labilers berinisiatif mencari pantai lain yang dekat dengan kawasan Oesain. Labilers mencoba bertanya ke warga sekitar.

“Lurus saja terus, nanti ada kali, lalu ada  gapura selamat datang, sedikit lagi ke sana ada jalan masuk di kanan, itu ada Pantai Erbaun di sana,”

Sesuai petunjuk, Labilers langsung melaju. Benar, seperti penjelasan bapak dua anak yang dia tinggalkan di rumah bersama istrinya karena ia harus pergi kerja tersebut. Labilers tiba di Pantai Erbaun, pantai yang digunakan oleh warga untuk memarkir sampan dan menyimpan peralatan melaut mereka.


Karena sudah sampai Vester dan Venti langsung bergerak mengambil gambar. Venti begitu lincah dan professional bergaya seperti model Majalah Bekas sedang Vester pun tampak professional seperti fotografer yang sudah melanglang buana dengan jam melayang yang tinggi.


Pantai Erbaun dapat dipastikan berdampingan dengan Pantai Oesain. Karakteristik Pulau Timor yang disusun di atas batu karang juga nampak di pantai ini. Bebatuan karang raksasa berbaris memanjang ke barisan kiri pantai, sedangkan pasir putih dengan kerikil halus berada di sebelah kanan pantai berjejer bersama beberapa sampan milik warga.


Saat Vester dan Venti sudah selesai, giliran Petualang Labil yang mengeksplorasi Pantai Erbaun untuk mengambil gambar. Beberapa warga nampak berkerja menggulung pukat, sedang warga lainnya terlihat memancing dengan hanya bermodalkan senar dan, mungkin saja keberuntungan. Sepertinya agak sulit memancing di laut dengan ombak laut selatan yang ganas itu.



Sekembalinya Petualang Labil dari berfoto,

“Ketong mau buat video viral yang lucu. Lu pegang kamera, b naik motor, nanti Venti yang mau numpang. Pas Venti mau naik nanti dia tanya kenapa motor sonde ada pijakan, beta jawab supaya adek tau, kaki kalau dapat gantung tuhh sakit, apalagi hati,”

Wah? Boleh juga nihh ide. Okey, kamera stand by and, terjadilah demikian video “Kaki Kalau Kena Gantung Itu Sakit, Apalagi Hati.”

Judulnya panjang coeg.

Labilers qieq qieq qaeq qaeq melihat gambar yang sudah diambil.

“Pulang baru beta edit sedikit,”

Pukul 15.32 kami sudah bersiap pulang. Petualang Labil mengajak Labilers untuk singgah sebentar di Usapi untuk melihat sunset. Musim hujan sudah mulai reda tapi awan mendungnya masih mengintai bumi dari langit. Momen seperti ini adalah saat yang paling sedap untuk menyaksikan jingga matahari yang terbenam. Kami bergegas dan tiba di Usapi.

Pemandangan luar biasa ini cuman dinikmati oleh kami bertiga. Venti belum pernah ke Usapi jadi beliau tercengang melihat pemandangan yang ada.

“Kawaii,”

“Kimochi,”


Dan, begitulah akhir dari cerita Erbaun, Behind The Scene. Pantai Erbaun sepertinya belum mendapatkan banyak jamahan pengunjung, dan belum diperhatikan oleh pemerintah minimal aparat desa. Semoga pantai potensial ini dapat dikelolah menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar selain sebagai nelayan.  

Buat Wankawanka juga, kalau trip, entah ke Erbaun atau kemana saja, jangan buang sampah sembarangan, atau baiknya jangan menjadi penghasil sampah plastik. Gunakan tumblr biar bisa isi ulang air minum yang kita bawa daripada membeli air minum kemasan, nanti habis pakai botolnya pasti akan dibuang. Dan juga, jangan melakukan tindakan vandal. Pertahankan kelestarian alam kita.

Semoga kalian semua diberkati wahai para pembacaku. Sampai jumpa di cerita Petualang Labil selanjutnya. Ikan.

Sunday, January 12, 2020

Tersesat di Bukit Nilo

Heyy heyyy heyy Happy New Year! Selamat datang 2020! Woow, waktu yang sangat cepat berlalu, dan sekarang kita sudah berada di tahun 2020. Bagaimana kabar Wankawanka di awal tahun ini? Moga-moga masih sehat dan tetap menjadi pembaca setia Petualang Labil agar kejiwaan Wankwawanka semua terganggu.

Kita masih berada di Seri Petualang Labil di Sikka. Well cerita kali ini Petualang Labil akan menceritakan perjalanan bersama Puput dan Vester di hari pertama Labilers di Sikka. Kemarin Petualang Labil sudah cerita soal Wisata Religi Lela dan Nostalgia via Video Call di Ritapiret. Sekarang tempat terakhir di hari pertama yang Labilers kunjungi adalah Bukit Nilo.


Waktu itu Labilers ke sana dalam keadaan matahari yang tenggelam di ufuk barat dengan mendung yang menelan cahayanya. Perjalanan nekat Labilers ini ditempuh bermodalkan ingatan Puput yang hilang-muncul dan nekat serta penyertaan Tuhan.

“Salah-salah kita hilang di bukit,”

Yapp! Namanya saja Bukit Nilo, sudah pasti letaknya di daerah perbukitan. Jalanan terjal dan menanjak. Langit biru nan gelap. Tidak ada lampu jalanan hanya ilalang yang menjaga di kiri dan kanan jalan dari jurang yang menganga. Lebar jalan tidak seperti jalanan perkotaan, jadi kalau ada kendaraan besar dari arah berlawanan kita kudu mesti must hati-hati be careful. Dan akhirnya, setelah sekitar hampir 3600 detik, kita tiba di kawasan Patung Bunda Maria Segala Bangsa.


Ketika kita masuk ke kawasan Patung Bunda Segala Bangsa ini nampak bagian belakang patung setinggi 28 meter itu menjulang, kita tampak kerdil di bawahnya. Tempat ini memang sangat ikonik karena dari Kota Maumere pun patung yang dibuat oleh Kongregasi Carmel ini  masih dapat dilihat walaupun dalam ukuran yang sangat kecil.  

Sudah sekitar 18.45 waktu Labilers tiba dan masih ada beberapa orang yang berdoa, sedang anak-anak mereka berlari di sekitaran. Ketika mereka beranjak pulang, tinggalah tiga orang anak manusia penakut yang bergidik mendengar suara jangkrik.

Krikk.. Krikk..

“Woyy apa tuh?”

“Ihh, lu dengar juga?”

“Bunyi jangkrik wooyy, biasa!”

Psst.. Pssst..

“Nah itu apa yang pessett peseet barusan?”

“Berdoa saja dulu, mumpung ada di sini. Setelah itu kita foto di depan patung,”
“Okey, habis itu beta mau foto Maumere dari sini, tadi b jalan di dekat pagar Maumere ada menyala bagus dengan lampu malam,”

Labilers berdoa bersama. Setelah berdoa, cekrekk..




Okey, selanjutnya foto kota Maumere.


“Sekarang foto biasa sahh dulu, beta duluan,”


“Wih, bagus nih.. Ayo foto bersama,”


“Woyyy, badanmu kemana Vester?”


“Nah, mending begini saja dulu.”

Okey sekarang kita bersiap pulang. Labilers kembali berjalan ke arah parkiran untuk menaiki motor. Kami berpaling dan meninggalkan lokasi Patung Bunda Segala Bangsa.

“Put, jalan keluar yang pertigaan tadi sebelah mana?”

“Nanti ke depan lagi, beta tanda dari ini patung-patung kecil di pinggir jalan”

Labilers terus bermotor, makin lama jalanan makin menanjak. Kini kami melewati beberapa rumah, warga-warga yang duduk di pinggir jalan kami teguri menggunakan bel motor.

“Tadi lewat sini? Patung kecil kayanya sudah tidak ada. Kek makin dingin juga nih suhu,”

Jalanan masih menanjak, kadang kami jumpai jalanan yang hanya menggunakan semen, kadang aspal, anjing liar juga berkeliaran di beberapa titik hutan di bukit. Vester yang terus membuntuti kami juga cemas.

“Ini anak dua di depan mau pergi ke dunia lain atau bagaimana?”

Kerlap-kerlip kota Maumere memanggil kami dari kejauhan. Ya, sangat jauh, Labilers berusaha mendekat tapi sepertinya makin jauh. Labilers yang terus mengikuti jalan menanjak itu. Pada ujung jalan kami masuk ke pekarangan rumah warga.

“Loh? Orang punya rumah nih, putar balik, putar balik!”

Sialan! Kita kesasar chuy! Ya ampun, Vester tertawa puas, kami kikik-kakak di tengah malam.

“Waduh ini salah jalan daritadi ini namanya,”

“Ko beta ju dari tadi pikir besong di depan nih ingat jalan keluar tadi yang pertigaan arah patung tadi. Ketong su lewat jauh awhh.”

“Hahaha b kira Gohan ju hafal itu jalan masuk,”

“B juga lupa ko gelap nah,”

“Nah sudah besong ikut beta suhh. Kalo salah-salah, kit pung trip sampe ini malam saja, hahaha,”

Labilers cepat-cepat kembali menyusuri jalanan, kembali, Labilers dipimpin Vester. Lagi-lagi melewati gelap hutan bermodal lampu motor. Waktu Petualang Labil melihat speedometer motor, bensin hampir ambyar. Kira-kira bisa atau tidak?

“Wuih ini di belakang gelap sekali!”

“Ayo sambil bercerita Put, awas lu tiba-tiba hilang di belakang,”

“Woyy Kisanak, bagaimana Kisanak ini? Malah menakut-nakuti,”

Saat di perjalanan sebelum pertigaan ke kawasan Patung Bunda Maria Segala Bangsa, Petualang Labil menghentikan motor dengan segara.

PIPP! PIPP!

“Vester! Vester!”

Vester melihat ke arah kami dan memutar balik motornya.

“Ada apa? Apakah Kisanak melihat sesuatu,”

“Ya, lihat di sana!”

Itu adalah Maumere! Ibu kota itu menyala seperti kumpulan kunang-kunang! Sama indahnya seperti yang terlihat dari Patung Bunda Segala Bangsa, hanya saja ini adalah sudut pandang dari Labilers yang kesasar di tengah bukit yang gelap ini. Buru-buru Petualang Labil mengambil gambar.


“Aduh ini rumput terlalu tinggi,”

“Tidak masalah. Sekarang ayo kembali pulang,”

Labilers kembali memacu motor untuk menelusuri jalan pulang. Tidak lama dari spot foto terakhir, pertigaan yang dari tadi kami cari akhirnya kami lewati juga.

“Padahal itu adalah penunjuk jalan, lu sonde lihat ko Gohan?”

“Jangan marah, pasti tadi kenangan yang membutakan beta,”

Labilers terus menuruni jalanan, hingga akhirnya kami mendapati perkebunan jambu mente. Banyak kendaraan mondar-mondir.

“Jalan raya!”

Petualang Labil menghembuskan nafas lega sekeras-kerasnya! Terima kasih Ya Tuhan, barusan bukan nafas terakhirku! Labilers terbahak-bahak di sepanjang jalan hingga kembali pulang ke kontrakan ibu kos. Ibu kos juga baru saja pulang dari kantor.

“Besong kesasar!? Hahahah!”

Suara tertawa Tinny yang besar, serak-serak, dan macet-macet itu memang membuat sebal. Setidaknya ini bukan Dunia Lain. Sorry yah kalau cerita kali ini kepanjangan. Semoga kalian terhibur Wankawanka. Seri berikutnya masih akan tentang perjalanan Petualang Labil di Flores, tapi kita sedikit kembali ke Timor dulu biar ada selingannya. Terima kasih yang sudah membaca, semoga terhibur. Tidak, tidak, kalian tidak akan mendapatkan inspirasi apa-apa. Kalian tidak gila saja sudah bersyukur.

Akhir kata Petualang Labil tetap mengajak Wankawanka untuk menjaga lingkungan kita. Ini sudah tahun 2020, usia bumi makin tua dan semakin sulit dengan masalah ekologi yang kompleks. Semoga kita bisa meminimalisir kerusakannya, setidaknya tidak membuang sampah sembarangan biar tidak ada wisata Brown River seperti di Jakarta. Bila perlu, jangan menggunakan produk plastic sekali pakai. Jangan vandal juga biar lingkungan tetap asri. Sekali lagi terima kasih, salam lestari, salam Petualang Labil!

Tuesday, February 12, 2019

Air Terjun Takrubu

Hari ini ada yang salah dengan pagiku. Aku seperti terbiasa tanpa sapaanmu. Sudah satu bulan sejak hari itu, hari yang membuat gundah isi dadaku. Ya, paketan internetku belum aku isikan.
Heyy yooo guys, bertemu lagi dengan Petualang Labil, traveler yang rajin menabung dan berdoa, serta menolak dengan keras Rencana Ulang-Ulang Permusikan yang sedang dibahas oleh anggota dewan sempak 7 bulan belum dicuci, alias otak mereka yang belum dicuci. Bagaimana tidak ditolak? Lihat saja salah satu pasalnya mewajibkan kegiatan sekelas pensi sekolahan harus menggunakan jasa Event Organizer? Jualan rantangan macam apa coba? Dan yang pasti, takut saja RUU ini menjadi singlet bermata dua. Bukan juga, tapi lebih ke kriminalisasi musisi, dan pengekangan kreatifitas bermusik.

“Silet woyy bukan singlet. Lagipula peribahasa yang benar adalah Pisau bukan Silet.”

Nah labilers, seperti intro di atas, Petualang Labil sudah sebulan ini menjomblo. Eits, sorry, maksudnya sebulan ini tidak isi paketan, jadi barulah sekarang cerita ini Petualang Labil tampilkan. Maklum saja yah Labilholic, Petualang Labil ini masih tinggal di kos-kosan.
Masuk ke dalam substansi, cerita kali ini Petualang Labil akan memberi gambaran perjalanan yang Petualang Labil lakukan ke Air Terjun Takrubu. Air Terjun ini berlokasi di Baun. Dari Kota Kupang, Baun itu berada di Selatan, jarak tempuhnya sekitar 45 menit menggunakan kendaraan beroda dua. 
Ini kali kedua Petualang Labil datang bermain di Air Terjun Takrubu. Kali ini yang menjadi Labilers adalah @vester_bili @elizabeth_vee dan @marianasogen. Kalau di perjalanan sebelumnya yang menjadi labiler adalah @jovan_johanes
Perjalanan dimulai dari rumahnya @elizabeth_vee. Kita sempat beristirahat di jalanan sembari menunggu ban motor milik @marianasogen yang pecah saat perjalanan. Setelah selesai, kami kembali ke rumah masing-masing.

“Koe ini sakit di bagian mana biar saya perbaiki. Ini ceritanya belon selesai,”

Singkat cerita kami tiba di jalan setapak menuju Air Terjun Takrubu. Karena masih dalam musim hujan, jalanan sekitar Air Terjun menjadi licin. Medan menjadi berbahaya, karena itu perlu menjaga setiap langkah agar hati-hati menapaki setapak licin tersebut. Pun orang yang datang berkunjung juga lumayan banyak. Bahkan ada yang datangnya rame-rame bersama keluarga menikmati akhir pekan saat itu. Untung bukan keluarganya Yonkou Big Mom.

“Katanya ada keluarga, lah itu fotonya cuman laki-laki sebatang kara.”

Kondisi hujan membuat air yang seharusnya berwarna tosca menjadi a little bit  kecoklatan. Kabar baiknya, kondisi tersebut tidak membuat pengunjung untuk ragu-ragu berbasah ria menikmati nuansa alam di sana. Tinggi air terjun yang sekitar 10 meter itu tidak membuat kolam di ujung lidah air terjun menjadi berbahaya apabila pengunjung ingin mandi di sana. Lumayan cocok juga untuk berpose ala Putri Marino.
Juga trip yang kedua ini ada yang berbeda nih. Sudah ada papan-papan bertuliskan pesan kreatif di sekitar air terjun dari komunitas yang namanya @ugal_squad. Ini nihh anak muda peduli kebersihan lingkungan. Keren kan? Walaupun lebih keren Petualang Labil sih, hehehe. Nanti kalian komen yah mana yang lebih keren.

“Kaka Labil memang keren, tapi gila nihh sama sahh”


 Okey, setelah mengambil gambar dan video, sekarang waktunya kita pulang. Nah, kali ini juga butuh perjuangan untuk naik kembali nih. Bagian tangga air terjun mungkin yang paling berbahaya. Saat datang dan pulang, kalian harus hati-hati biar kalian tidak jatuh. Banyak juga batu yang sedang menunggu kepala kalian untuk dihancurkan.

“Dasar psikopat lu!”

Artinya yah kalian mesti hati-hati biar trip apapun itu kalian tetap selamat. Senang rasanya bisa membawa teman-teman Labilers berkunjung ke sini. Akhirnya Petualang Labil jadi panutan choy. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihanya yah kalau kalian berkunjung ke sini. Kalau kalian tetap mau ngemil tapi masih suka nyampah, saran aja nihh guys, mending kalian makan sekalian dengan bungkusannya. Deal yah?

Sekian dari Petualang Labil edisi Air Terjun Takrubu. Btw, pada foto-foto di atas ada juga foto dari trip pertama Petualang Labil, biar bisa jadi pembanding untuk kalian berkunjung. Salam lestari, salam Petualang Labil.