Laman

Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts
Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts

Saturday, November 21, 2020

Buntung

Teater senja di Tanjung Kajuwulu sudah dimatikan ketika waktu menunjukkan pukul 18.38, atau mungkin kurang dari itu. Petualang Labil membereskan kamera dan tripod dan dimasukkan ke dalam tas. Saatnya menuruni puncak bukit Kajuwulu, dimana sebuah salib dengan kulit berupa keramik putih dipancang di sana menghadap ke lautan.

Teman-teman sudah menunggu di tempat parkir, tepat di anak tangga pertama bukit ini. Dan yang mereka lakukan..

“Motor milik Luis tidak bisa dinyalakan,” tandas Puput yang sedang membantu pencahayaan dari hapenya, diarahkan pada Luis dan Vester yang melangak-melongok mencari penyebab motor Jupiter MX itu mandeque.

“Stater kaki?”

“Sama juga, tidak mau,” timpal Nacha.

“Ini gara-gara lu yang lama nah Go, mana gelap pula,” sambung Chent.

“Wah sorry, soalnya moment ke sini susah terulang, jadi ada kesempatan yah sekalian direkam sunset tadi,” balas Petualang Labil.


“Sudah, nasib yang agak buntung kali ini. Coba Luis, motornya di dorong ke arah turunan di sana, posisi gigi set masuk,” hardik Vester sekalian memberikan saran. Untuk hal itu Nacha harus GTO (Gonceng Tiga Orang) bersama Puput dan Chent, sementara Vester bersama Petualang Labil. Ketika Luis set gigi masuk, motor itu nyala. Tanpa menunggu lama, ditarikanya tali gas motor itu sekuat tenaga, dan Luis, menghilang.

“Yah, dia pulang?”

Dari arah berlawan dalam perjalanan pulang, Luis berbalik dalam kecepatan yang tinggi, kemudian menyusul kami dari belakang.

Sejurus kemudian dari arah berlawan dalam perjalanan pulang ia berbalik dalam kecepatan yang tinggi, kemudian menyusul kami dari belakang.

“Luis, ko su dari belakang lai?” Puput terheran karena tidak sempat melihat Luis yang tadi melaju dalam kecepatan tinggi.

“Motor sudah kembali aman. Ayo Vester, naik ke sini lagi, biar Puput kembali supaya tidak GTO,” tandas Luis.

Labilers kembali pulang setelah sore ini berpetualang bersama. Petualang pertama hari ini dimulai dari Hutan Bakau di Magepanda yang dapat kalian baca di sini. Selepas pukul empat setelah menelusuri Hutan Bakau, kami memutuskan untuk menyaksikan Teater Senja di Tanjung Kajuwulu. Letaknya tidak jauh, hanya sejauh pacar lima langkah dari rumah padahal  jomblo. Kami memacu motor keluar dari tempat parkir dan meluncur ke Tanjung Kajuwulu.


Ini adalah kali kedua Petualang Labil berkunjung ke Tanjung Kajuwulu, yang pertama pada tahun 2018, bulan Januari. Kalau kalian belum membaca, ceritanya tinggal klik di sini. Waktu ini Petualang Labil cuman ditemani oleh Chent yang memang sudah setahun menetap di Maumere. Nah, untuk kali ini bersama dengan Labilers yang membuat perjalanan semakin seru.

Sebelum menapaki anak tangga bukit kami harus membayar karcis masuk dulu. Sore itu, karena bertepatan dengan tanggal merah, maka banyak sekali yang datang untuk berkunjung. Ada beberapa perubahan juga terjadi, beberapa diantaranya adalah pegangan di sini kiri anak tangga, dan sebuah bangunan seperti menara coast guard yang masih terlihat sangat baru di sisi kiri.

Perlahan kami menanjaki tiap anak tangga hingga berhenti pada sebuah titik kecil.

“Foto dulu yak,” ajak Nacha mengeluarkan handphone dan berselfie. Puput kemudian duduk beristirahat dan Chent mengempiskan perut disertai nafas yang dibuang keluar secara kasar.

“Isi perut jangan ewh kak."



Kami melanjutkan perjalanan ke atas mencari spot lainnya.

“Waktu itu saya juga foto di sana,” ucap Petualang Labil menunjuk pada satu spot.

“Okey aku difoto dulu di sini,” Puput langsung mengambil posisi dan, cekrekk..


Luis sudah berlalu terlebih dahulu setelah kami mengambil beberapa gambar. Kami berjalan pelan dari belakang, menuju ke puncak bukit. Beberapa pengunjung juga mengikuti dari belakang.

“Okey di sini saja, pas dengan matahari yang posisinya lurus,” cetus Petualang Labil sembari mengeluarkan tripod dari dalam tas. Kebetulan kami membawa dua buah kamera, jadi satu kamera digunakan untuk berfoto, satunya digunakan digunakan untuk merekam Teater Senja dari atas Tanjung Kajuwulu. 


Suasana yang menyenangkan dinikmati. Dari pagi, walaupun telat bangun, bermalas-malas ketika disuruh untuk bersiap, dan baru berangkat jam dua siang, tapi Labilers tetap menikmati sunset ini dalam sukacita. Kami tidak memikirkan tentang motor milik Luis yang sedang disabotase oleh waktu sehingga kami harus lebih bersabar ketika harus meninggalkan tempat ini, karena keindahan ini lebih pantas untuk dinikmati dalam sukacita.

Langit yang tadinya orange, menjadi ungu, dan gelap, mengantarkan petualangan hari itu selesai. Kami kembali ke rumah ibu kos dengan selamat. Kalau kalian bertanya siapakah ibu kos yang dimaksud, kalian harus membaca semua rangkaian perjalanan Petualang Labil bersama teman-teman di Sikka mulai sejak kedatangan, dan tentu saja untuk selalu membaca blog ini, karena Petualang Labil masih akan menceritakan perjalanan yang seru ke Kapela San Dominggo yang letaknya di Flores Timur, namun sebelumnya singgah sebentar untuk makan di acara sambut baru.


Terima kasih sudah membaca, salam lestari, salam Petulang Labil.

Monday, August 17, 2020

Jas Merah

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”

Ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga masyakarat Indonesia. Ungkapan yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, pada pidato kenegaraannya yang terakhir sebagai seorang presiden pada tahun 1966, menandakan bahwa sejarah adalah lembaran yang tidak boleh dilupakan, tentang tulang yang patah dan darah yang tumpah, untuk Merah Putih agar berkibar dan terus berkibar di bumi Nusantara, Indonesia!

Wankawanka, edisi bulan Agustus ini Petualang Labil akan membawa kalian menuju ke satu tempat di Kabupaten Ende, tempat dimana Pancasila dikonsepkan pertama kalinya oleh Proklamator kita Ir. Soekarno. 


Jadi nih guys, Kabupaten Ende terletak di Pulau Flores. Kita bisa menempuh menggunakan pesawat dari Kota Kupang, dan dibawa terbang burung besi sekitar 45 menit. Pendaratan pesawat dilakukan di Bandara H. Hasan Aroeboesman. Letaknya cukup dengan hotspot perjalanan kita kali ini. Tapi nih Wankawanka, Petualang Labil saat itu ke sana cukup berjalan kaki sebab penginapan Petualang Labil dengan dengan Rumah Pengasingan Bung Karno.

Untuk rumah pembuangan Bung Karno, cukup mudah dijumpai karena letaknya berada di tengah kota, beralamat di Jalan Perwira Kelurahan Kota Raja. Bangunannya yang masih dipertahankan keasliannya dengan kondisi saat Bung Karno dibuang pada 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938 tersebut memudahkan kita untuk menemukannya.


Oleh karena telah dilindungi oleh undang-undang, pengelolaan situs ini dimaksimalkan secara baik. Bukan hanya bentuk rumahnya yang dipertahankan keasliannya, melainkan tata letak ruangan serta perabotan juga ditata menurut tempatnya masing-masing ketika rumah tersebut masih ditempati oleh Bung Karno.

Sambutan ketika Petualang Labil masuk  bersama Luis Penu masuk ke dalam rumah ini adalah lukisan “Pura Bali” yang dilukis secara langsung oleh Bung Karno. Bukan hanya lukisannya saja yang dipamerkan, melainkan juga Kayu Kliping yang digunakan oleh Bung Karno untuk menjadi penjepit lukisan agar media lukis menjadi rata dan mudah untuk dilukis.


Di sebelah kiri pintu masuk ada beberapa benda lain seperti biola dan tongkat yang sering digunakan oleh Bung Karno. Dikatakan bahwa pada awalnya Bung Karno merasa frustasi sebab status sebagai tahanan politik Belanda pada saat itu harus membawanya untuk menjalani hukuman, bahkan hubungannya dengan keluarga bangsawan di Ende dibatasi oleh Belanda. Lama-kelamaan Bung Karno menggunakan moment tersebut untuk menyapa masyarakat kecil di Ende dan bertemu dengan misionaris-misionaris seperti Gerardus Huijtink yang saat itu menjadi Pastor Paroki di Ende, dan tongkatnya, digunakan untuk menemani perjalanannya.


Di bagian belakang ada kamar tidur Bung Karno dan istrinya saat pengasingan, Inggit Gamasih. Kamar tidur masih lengkap dengan tempat tidur dan kelambu serta lemari yang pernah digunakan oleh Bung Karno. Bersebelahan dengan kamar tidur adalah ruang yang digunakan untuk berdoa oleh sang proklamator.


“Maaf pak numpang nanya, kamar kecil sebelah mana yah?”

Kamar kecil berada di bagian belakang rumah, tepatnya dekat dengan sumur. Dulu sekali di rumah tersebut tidak ada air untuk minum, namun diusahakan oleh Bung Karno bersama teman-temannya untuk mencari air, hingga akhirnya sumur tersebut digali agar airnya digunakan untuk kebutuhan makan-minum, kebersihan, hingga untuk sholat.


Bergerak ke arah selatan, Petualang Labil bersama Luis menuju ke Taman Permenungan Bung Karno. Tidak satupun dari kita yang tidak tahu Pancasila. Ende merupakan kota dimana Lima Mutiara Bangsa Indonesia ini lahir, dan di bawah Pohon Sukun pada taman itulah, Bung Karno melahirkan pemikiran tersebut yang hingga saat ini kita letakkan sebagai fondasi kehidupan berbangsa kita. 

Pohon Sukun yang dulunya menjadi tempat permenungan Bung Karno tentu sudah tidak ada lagi, akhirnya diganti dengan Pohon Sukun lain, sebagai tanda pada tempat tersebutlah Bung Karno mengkonsepkan Pancasila sebagai falsafah Bangsa Indonesia.

Yang menjadi icon dari taman tersebut adalah Patung Bung Karno yang sedang duduk di sebuah bangku panjang sembari menatap ke laut. Karena banyak yang menyempatkan berfoto di sana, ya sekalian Petualang Labil juga.


“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”

75 tahun adalah perjalanan yang panjang dari sebuah bangsa untuk hidup. Beraneka ragam bahasa dan budaya dipersatukan Bung Karno, idenya berasal dari tempat ini. Dia berjuang hingga akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hari ini kita lihat bencana penyakit corona, tanah yang dirampas, Hak Asasi Manusia yang terus dilanggar, lingkungan yang makin digerus ketamakkan, semua problem bangsa ini seperti ulat dalam daging bangsa kita. Momen kemerdekaan ini mari kita ingat kembali semua perjuangan pendahulu bangsa kita agar kita bisa bersatu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Jika mereka sudah memulai perjalanan Bangsa Indonesia dengan darah dan air mata, saatnya kita melanjutkannya dengan peluh kita. Ibu Pertiwi tidak perlu menangis lagi.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya,”

Selamat merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-75. Jaya selalu Indonesia,  salam Petulang Labil!

Friday, May 1, 2020

Ikan

Hey Wankawanka! Kita bertemu lagi! Cerita kali ini masih merupakan lanjutan cerita dari Seri Petualang Labil di Sikka, tapi kali ini bukan di Sikka, hehe.

Sebelum masuk ke cerita, Petualang Labil ingin mengungkapkan semoga pandemic corona ini bisa cepat reda, bila perlu hilang dari muka bumi. Banyak yang meninggal, banyak yang ditinggalkan, banyak yang hidupnya menjadi sulit karena kehilangan pekerjaan, dan banyak lagi penderitaan lain. Mari kita semua berdoa bersama agar penderitaan ini cepat berakhir, para tenaga medis diberikan kekuatan, dan kita diberikan akal sehat supaya bersama-sama dapat mencegah penularan virus ini.

Nah, yang masih pada work from home, homecoming, far from home atau home alone, sambil menemani rutinitas kalian yang agak kurang biasa ini, Petualang Labil akan membagikan kisah saat Petualang Labil bersama teman-teman pergi ke Kelimutu. Ada yang belum tau Kelimutu? Ya udah, cek cokkk!


Waktu itu ketika para hantu belum juga disuruh pulang dan beberapa tuyul mengintip dari jendela kamar, langkah seorang pria masuk membuka gerbang kemudian mengetuk pintu. Adalah om supir yang akan mengantarkan kami menuju ke Danau Kelimutu.

“Kaka, kaka, bangun sudah supaya kita berangkat,”

“Aduh siapa yah? Orang lagi enak tiduran kok dibangunan?”

Labilers yang masih tertidur saat itu dalam keadaan mabuk mimpi langsung bergegas.

“Eh ini siapa punya air liur?”

Begitu pukul 04.30 lebih beberapa menit kami berangkat. Vester yang belum sempat gigi duduk di sebelah kanan supir, sementara Petualang Labil bersama Puput dan Chent di belakang.

“Sebelah kanan supir berarti bapatua Vester gelantungan di daun pintu bro,”

“Bapatua Vester lagi main film Fast and Frustasi,”

Jalanan Maumere masih sepi. Kami bergerak menuju arah barat Flores, sebab di sanalah letak Kelimutu. Lebih tepatnya, Danau Kelimutu yang sudah sangat terkenal sejak jaman uang lima ribu berwarna coklat itu, posisinya berada di antara Kota Maumere dan Kota Ende, hanya saja letaknya berada pada wilayah geografis Kabupaten Ende.

“Adminnya tua nih, masih ingat uang kelimutu,”


Perjalanan melewati kelokan Flores yang sudah sangat terkenal. Om supir begitu piawai mengendarai mobil yang kami pinjam dari kakak sepupunya Puput. Kami yang duduk di belakang  terombang-ambing ke kiri, ke kiri ke kiri manise, sekarang kanan ee, ke kanan, ke kanan ke kanan manise..

“Om supir agak pelan sedikit, kita bukan mau antar nyawa ke Tiwu Ata Polo,”

“Waduh sorry kaka nona, soalnya ini mobil terlalu enak. Power steering, ban besar, tambah dengan saya juga pengalaman biasa kendarai mobil untuk jual ikan dari Maumere sini. Itu kan pick up yang stirnya keras, sekarang kesempatan bawa mobil bagus begini nih,”

“Iya kami bukan ikan om! Tidak lihat ko kami ini tidak disimpan di ice box?”

Dan begitulah om supir. Dia tidak pusing dan terus mengendarai mobil sesukanya. Rencana kami untuk tidur di mobil selama perjalanan pergi gagal total. Kami masih terombang-ambing ke kiri dan kanan. Puput yang berada di sebelah kanan terhuyung-huyung hingga rambut menutupi wajahnya.

“Ahahah, ahaha, kamu lihat Puput. Dia tidak bisa tidur sambil sandar sampai-sampai miring ke kiri. Panggil dia Mingki, Miring Kiri,”

Chent puas dengan tawanya yang tertahan di leher.

Dan begitulah kami akhirnya tiba di parkiran Taman Nasional Danau Kelimutu setelah sebelumnya menjemput kerabat Chent di desa yang bernama Rolling Stone atau dalam sebutan aslinya disebut Watuneso. Sekitar pukul 06.30 kami tiba di Kawasan Kelimutu.

“Wuih dingin juga nih,”

“Tapi sebentar su agak panas, makanya beta pake celana umpan nih,”


Setelah berfoto di bagian pintu masuk kami langsung trekking menuju kawasan danau. Pohon cemara menutupi cahaya pagi menambah romansa dingin di sekitar tengkuk dan ujung jari. Rasa puas sudah menggaruk-garuk seperti asam lambung karena telat makan. Oh ya Wankawanaka, Kelimutu sendiri adalah bahasa daerah yang berarti “Gunung Mendidih.” Kita akan lihat satu persatu tiga danau yang berada di Puncak Gunung Mendidih ini.

Yang pertama kita jumpai adalah Tiwu Ata Polo, atau yang artinya  tempat berkumpulnya jiwa dari orang-orang yang jahat. Biasanya Tiwu ini berwarna merah darah, namun pada kunjungan kami kali ini warnanya menjadi hijau kebiruan. Labilers juga bertemu dengan kerabat Labilers, Ka Itong dan Ka Ani yang sementara berlibur.

“Ketong dari Ende, kalian dari Maumere?”



Setelah berfoto, kami berangkat menuju danau tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi atau yang dalam bahasa daerahnya disebut Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai. Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai letaknya bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tebing yang tipis. Karena kami datang saat libur umum, pengunjung pun membludak. Tidak ada yang diperbolehkan untuk mengambil gambar dari bibir danau. Kami pun hanya bisa mengambil gambar dari jarak yang sudah diijinkan.




Danau yang ketiga, yang disebut sebagai tempat berkumpulnya jiwa orang-orang tua yang telah meninggal atau dalam bahasa daerahnya disebut Tiwu Ata Mbupu. Untuk sampai ke Tiwu ini kita harus trekking melalui anak-anak tangga yang sudah disiapkan. Untuk menikmati Tiwu ini pun sudah dibuatkan tugu yang seringnya menjadi tempat berkumpul atau beristirahat para pengunjung. Dari tugu ini pula kita bisa menikmati pemandangan ketiga Tiwu. Tidak lupa juga kami mengambil foto berlatarbelakangkan Tiwu yang tampak hijau gelap dan pekat tersebut.


“Katanya dulu airnya banyak, tapi sekarang sudah berkurang,”



Tempat lain yang menarik perhatian Petualang Labil adalah tempat upacara Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata. Tempat tersebut terlihat sakral dengan sebuah gerbang sederhana yang terbuat dari kayu dengan ijuk menjadi atapnya. Di bagian tengahnya ada sebuah altar berbentuk bundar. 

Disebutkan, orang Lio (suku yang mendiami Kabupaten Ende dan sebagian wilayah barat Maumere) sering memberi makan arwah dari para leluhur yang berdiam pada ketiga Tiwu di Taman Nasional Kelimutu ini. Upacara sering dilakukan oleh para Mosalaki (Tua Adat) sembari membawa persembahan berupa makanan dan minuman yang dibawakan di altar bundar. Setelah itu mereka akan menari Gawi sembari bernyanyi dan memanjatkan pujian menggunakann lagu-lagu tradisional.


Taman Nasional Danau Kelimutu juga digunakan masyarakat untuk mencari kehidupan. Bukan hanya soal penginapan di sekitar kaki Gunung Kelimutu, tapi juga masyarakat yang menjajakan kain di sepanjang jalur trekking menuju danau Kelimutu.


“Eh itu ada monyet keluar, kamu pegang baik-baik kamu punya tas. Nanti mereka ambil kalau ada makanan,”

Benar saja, baru juga Chent memperingatkan, suara teriakan terdengar seperti orang kecopetan langsung meninggi. Ternyata tas seorang pengunjung ditarik oleh beberapa ekor monyet, kemudian diseret dan isinya dikocar-kacirkan oleh monyet tersebut. Mendapatkan bungkusan biscuit, mereka kemudian berlalu meninggalkan tas tergeletak di tanah.

Kami kembali pulang. Monyet-monyet memang lumayan banyak, dan sepertinya mereka keluar untuk mencari makan. Puput ketakutan dan memegang Vester berjalan cepat berharap segera sampai di tempat mobil diparkirkan. Petualang Labil bersama Chent masih santai dari belakang.

“Kak Chent, ada permen? Aku mau beri makan monyet yang lagi baca, eh salah, yang lagi di ranting itu,”

“Awas nanti dong kerumun lu,”

Petualang Labil melemparkan permen, dengan sigap diambil si monyet dan segera berlalu.

“Nah, itu langsung pulang kan?”

Beberapa saat kemudian monyet tadi kembali bersama monyet lainnya.

“Bapak kita juga mau permennya pak,”

Eh buset!!!?

*********************

Nah, gitu deh Wankawanka cerita Petualang Labil yang tidak ada hubungan sama sekali antara judul dengan isi cerita. Terima kasih kalian sudah membaca dan semoga bisa menghibur kalian di tengah pandemic ini. Semoga setelah berakhirnya wabah ini kita bisa berpetualang lagi, tapi dengan satu pola pikir yang mencintai lingkungan kita. Jadi kita tidak perlu merusak apapun yang kita temui, entah itu menyampah atau vandal. Dengan begitu bumi kita akan tetap lestari dan terjaga. Salam bumi yang sehat, salam Petualang Labil.


“Bapak, bagi permennya pak,”

Hushh! Bisa-bisanya ikut sampai akhir cerita.

Wednesday, February 19, 2020

Erbaun, Behind The Scene

Hey hey hey! Apa kabar Wankawanka pembaca yang Budiman, Sudirman dan Surahman? Semoga kalian dalam keadaan sehat walafiat lahir dalam keadaan yang terberkati. Sebulan lalu, seperti yang Petualang Labil janjikan, kita akan kembali ke Timor, sedikit mengambil rehat dari rentetan cerita Petualang Labil saat berada di Flores.


Wankawanka mungkin ada yang tidak asing dengan kalimat “Kaki kalau kena gantung itu sakit, apalagi hati,” dari sebuah video yang viral pada Januari 2019 lalu. Yap! Perbuatan tidak menyenangkan bagi mereka yang menunggu cinta untuk disambut tersebut dibuat oleh Petualang Labil bersama Venti dan Vester di Pantai Erbaun.


Waktu itu Labilers berencana untuk pergi ke Pantai Oesain di Baun. Jadi Labilers berangkat dari Kupang sekitar pukul 11.00 wita. Perjalanan yang ditempuh tidak mencapai satu jam. Jalanan saat itu masih lumayan berbatu. Medan yang agak jauh dan sulit itu tidak terbayarkan karena pintu masuk (yang pernah digunakan Petualang Labil) ditutup oleh masyarakat sekitar menggunakan bambu.

“Coba putar dari sebelah sana, mungkin pintu masuk yang lain ada,”

Labilers memutar balik dan mencari pintu masuk yang lain. Sayang sekali pintu masuk yang dimaksud tidak ditemukan. Karena tidak ditemukan, Labilers berinisiatif mencari pantai lain yang dekat dengan kawasan Oesain. Labilers mencoba bertanya ke warga sekitar.

“Lurus saja terus, nanti ada kali, lalu ada  gapura selamat datang, sedikit lagi ke sana ada jalan masuk di kanan, itu ada Pantai Erbaun di sana,”

Sesuai petunjuk, Labilers langsung melaju. Benar, seperti penjelasan bapak dua anak yang dia tinggalkan di rumah bersama istrinya karena ia harus pergi kerja tersebut. Labilers tiba di Pantai Erbaun, pantai yang digunakan oleh warga untuk memarkir sampan dan menyimpan peralatan melaut mereka.


Karena sudah sampai Vester dan Venti langsung bergerak mengambil gambar. Venti begitu lincah dan professional bergaya seperti model Majalah Bekas sedang Vester pun tampak professional seperti fotografer yang sudah melanglang buana dengan jam melayang yang tinggi.


Pantai Erbaun dapat dipastikan berdampingan dengan Pantai Oesain. Karakteristik Pulau Timor yang disusun di atas batu karang juga nampak di pantai ini. Bebatuan karang raksasa berbaris memanjang ke barisan kiri pantai, sedangkan pasir putih dengan kerikil halus berada di sebelah kanan pantai berjejer bersama beberapa sampan milik warga.


Saat Vester dan Venti sudah selesai, giliran Petualang Labil yang mengeksplorasi Pantai Erbaun untuk mengambil gambar. Beberapa warga nampak berkerja menggulung pukat, sedang warga lainnya terlihat memancing dengan hanya bermodalkan senar dan, mungkin saja keberuntungan. Sepertinya agak sulit memancing di laut dengan ombak laut selatan yang ganas itu.



Sekembalinya Petualang Labil dari berfoto,

“Ketong mau buat video viral yang lucu. Lu pegang kamera, b naik motor, nanti Venti yang mau numpang. Pas Venti mau naik nanti dia tanya kenapa motor sonde ada pijakan, beta jawab supaya adek tau, kaki kalau dapat gantung tuhh sakit, apalagi hati,”

Wah? Boleh juga nihh ide. Okey, kamera stand by and, terjadilah demikian video “Kaki Kalau Kena Gantung Itu Sakit, Apalagi Hati.”

Judulnya panjang coeg.

Labilers qieq qieq qaeq qaeq melihat gambar yang sudah diambil.

“Pulang baru beta edit sedikit,”

Pukul 15.32 kami sudah bersiap pulang. Petualang Labil mengajak Labilers untuk singgah sebentar di Usapi untuk melihat sunset. Musim hujan sudah mulai reda tapi awan mendungnya masih mengintai bumi dari langit. Momen seperti ini adalah saat yang paling sedap untuk menyaksikan jingga matahari yang terbenam. Kami bergegas dan tiba di Usapi.

Pemandangan luar biasa ini cuman dinikmati oleh kami bertiga. Venti belum pernah ke Usapi jadi beliau tercengang melihat pemandangan yang ada.

“Kawaii,”

“Kimochi,”


Dan, begitulah akhir dari cerita Erbaun, Behind The Scene. Pantai Erbaun sepertinya belum mendapatkan banyak jamahan pengunjung, dan belum diperhatikan oleh pemerintah minimal aparat desa. Semoga pantai potensial ini dapat dikelolah menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar selain sebagai nelayan.  

Buat Wankawanka juga, kalau trip, entah ke Erbaun atau kemana saja, jangan buang sampah sembarangan, atau baiknya jangan menjadi penghasil sampah plastik. Gunakan tumblr biar bisa isi ulang air minum yang kita bawa daripada membeli air minum kemasan, nanti habis pakai botolnya pasti akan dibuang. Dan juga, jangan melakukan tindakan vandal. Pertahankan kelestarian alam kita.

Semoga kalian semua diberkati wahai para pembacaku. Sampai jumpa di cerita Petualang Labil selanjutnya. Ikan.

Sunday, January 12, 2020

Tersesat di Bukit Nilo

Heyy heyyy heyy Happy New Year! Selamat datang 2020! Woow, waktu yang sangat cepat berlalu, dan sekarang kita sudah berada di tahun 2020. Bagaimana kabar Wankawanka di awal tahun ini? Moga-moga masih sehat dan tetap menjadi pembaca setia Petualang Labil agar kejiwaan Wankwawanka semua terganggu.

Kita masih berada di Seri Petualang Labil di Sikka. Well cerita kali ini Petualang Labil akan menceritakan perjalanan bersama Puput dan Vester di hari pertama Labilers di Sikka. Kemarin Petualang Labil sudah cerita soal Wisata Religi Lela dan Nostalgia via Video Call di Ritapiret. Sekarang tempat terakhir di hari pertama yang Labilers kunjungi adalah Bukit Nilo.


Waktu itu Labilers ke sana dalam keadaan matahari yang tenggelam di ufuk barat dengan mendung yang menelan cahayanya. Perjalanan nekat Labilers ini ditempuh bermodalkan ingatan Puput yang hilang-muncul dan nekat serta penyertaan Tuhan.

“Salah-salah kita hilang di bukit,”

Yapp! Namanya saja Bukit Nilo, sudah pasti letaknya di daerah perbukitan. Jalanan terjal dan menanjak. Langit biru nan gelap. Tidak ada lampu jalanan hanya ilalang yang menjaga di kiri dan kanan jalan dari jurang yang menganga. Lebar jalan tidak seperti jalanan perkotaan, jadi kalau ada kendaraan besar dari arah berlawanan kita kudu mesti must hati-hati be careful. Dan akhirnya, setelah sekitar hampir 3600 detik, kita tiba di kawasan Patung Bunda Maria Segala Bangsa.


Ketika kita masuk ke kawasan Patung Bunda Segala Bangsa ini nampak bagian belakang patung setinggi 28 meter itu menjulang, kita tampak kerdil di bawahnya. Tempat ini memang sangat ikonik karena dari Kota Maumere pun patung yang dibuat oleh Kongregasi Carmel ini  masih dapat dilihat walaupun dalam ukuran yang sangat kecil.  

Sudah sekitar 18.45 waktu Labilers tiba dan masih ada beberapa orang yang berdoa, sedang anak-anak mereka berlari di sekitaran. Ketika mereka beranjak pulang, tinggalah tiga orang anak manusia penakut yang bergidik mendengar suara jangkrik.

Krikk.. Krikk..

“Woyy apa tuh?”

“Ihh, lu dengar juga?”

“Bunyi jangkrik wooyy, biasa!”

Psst.. Pssst..

“Nah itu apa yang pessett peseet barusan?”

“Berdoa saja dulu, mumpung ada di sini. Setelah itu kita foto di depan patung,”
“Okey, habis itu beta mau foto Maumere dari sini, tadi b jalan di dekat pagar Maumere ada menyala bagus dengan lampu malam,”

Labilers berdoa bersama. Setelah berdoa, cekrekk..




Okey, selanjutnya foto kota Maumere.


“Sekarang foto biasa sahh dulu, beta duluan,”


“Wih, bagus nih.. Ayo foto bersama,”


“Woyyy, badanmu kemana Vester?”


“Nah, mending begini saja dulu.”

Okey sekarang kita bersiap pulang. Labilers kembali berjalan ke arah parkiran untuk menaiki motor. Kami berpaling dan meninggalkan lokasi Patung Bunda Segala Bangsa.

“Put, jalan keluar yang pertigaan tadi sebelah mana?”

“Nanti ke depan lagi, beta tanda dari ini patung-patung kecil di pinggir jalan”

Labilers terus bermotor, makin lama jalanan makin menanjak. Kini kami melewati beberapa rumah, warga-warga yang duduk di pinggir jalan kami teguri menggunakan bel motor.

“Tadi lewat sini? Patung kecil kayanya sudah tidak ada. Kek makin dingin juga nih suhu,”

Jalanan masih menanjak, kadang kami jumpai jalanan yang hanya menggunakan semen, kadang aspal, anjing liar juga berkeliaran di beberapa titik hutan di bukit. Vester yang terus membuntuti kami juga cemas.

“Ini anak dua di depan mau pergi ke dunia lain atau bagaimana?”

Kerlap-kerlip kota Maumere memanggil kami dari kejauhan. Ya, sangat jauh, Labilers berusaha mendekat tapi sepertinya makin jauh. Labilers yang terus mengikuti jalan menanjak itu. Pada ujung jalan kami masuk ke pekarangan rumah warga.

“Loh? Orang punya rumah nih, putar balik, putar balik!”

Sialan! Kita kesasar chuy! Ya ampun, Vester tertawa puas, kami kikik-kakak di tengah malam.

“Waduh ini salah jalan daritadi ini namanya,”

“Ko beta ju dari tadi pikir besong di depan nih ingat jalan keluar tadi yang pertigaan arah patung tadi. Ketong su lewat jauh awhh.”

“Hahaha b kira Gohan ju hafal itu jalan masuk,”

“B juga lupa ko gelap nah,”

“Nah sudah besong ikut beta suhh. Kalo salah-salah, kit pung trip sampe ini malam saja, hahaha,”

Labilers cepat-cepat kembali menyusuri jalanan, kembali, Labilers dipimpin Vester. Lagi-lagi melewati gelap hutan bermodal lampu motor. Waktu Petualang Labil melihat speedometer motor, bensin hampir ambyar. Kira-kira bisa atau tidak?

“Wuih ini di belakang gelap sekali!”

“Ayo sambil bercerita Put, awas lu tiba-tiba hilang di belakang,”

“Woyy Kisanak, bagaimana Kisanak ini? Malah menakut-nakuti,”

Saat di perjalanan sebelum pertigaan ke kawasan Patung Bunda Maria Segala Bangsa, Petualang Labil menghentikan motor dengan segara.

PIPP! PIPP!

“Vester! Vester!”

Vester melihat ke arah kami dan memutar balik motornya.

“Ada apa? Apakah Kisanak melihat sesuatu,”

“Ya, lihat di sana!”

Itu adalah Maumere! Ibu kota itu menyala seperti kumpulan kunang-kunang! Sama indahnya seperti yang terlihat dari Patung Bunda Segala Bangsa, hanya saja ini adalah sudut pandang dari Labilers yang kesasar di tengah bukit yang gelap ini. Buru-buru Petualang Labil mengambil gambar.


“Aduh ini rumput terlalu tinggi,”

“Tidak masalah. Sekarang ayo kembali pulang,”

Labilers kembali memacu motor untuk menelusuri jalan pulang. Tidak lama dari spot foto terakhir, pertigaan yang dari tadi kami cari akhirnya kami lewati juga.

“Padahal itu adalah penunjuk jalan, lu sonde lihat ko Gohan?”

“Jangan marah, pasti tadi kenangan yang membutakan beta,”

Labilers terus menuruni jalanan, hingga akhirnya kami mendapati perkebunan jambu mente. Banyak kendaraan mondar-mondir.

“Jalan raya!”

Petualang Labil menghembuskan nafas lega sekeras-kerasnya! Terima kasih Ya Tuhan, barusan bukan nafas terakhirku! Labilers terbahak-bahak di sepanjang jalan hingga kembali pulang ke kontrakan ibu kos. Ibu kos juga baru saja pulang dari kantor.

“Besong kesasar!? Hahahah!”

Suara tertawa Tinny yang besar, serak-serak, dan macet-macet itu memang membuat sebal. Setidaknya ini bukan Dunia Lain. Sorry yah kalau cerita kali ini kepanjangan. Semoga kalian terhibur Wankawanka. Seri berikutnya masih akan tentang perjalanan Petualang Labil di Flores, tapi kita sedikit kembali ke Timor dulu biar ada selingannya. Terima kasih yang sudah membaca, semoga terhibur. Tidak, tidak, kalian tidak akan mendapatkan inspirasi apa-apa. Kalian tidak gila saja sudah bersyukur.

Akhir kata Petualang Labil tetap mengajak Wankawanka untuk menjaga lingkungan kita. Ini sudah tahun 2020, usia bumi makin tua dan semakin sulit dengan masalah ekologi yang kompleks. Semoga kita bisa meminimalisir kerusakannya, setidaknya tidak membuang sampah sembarangan biar tidak ada wisata Brown River seperti di Jakarta. Bila perlu, jangan menggunakan produk plastic sekali pakai. Jangan vandal juga biar lingkungan tetap asri. Sekali lagi terima kasih, salam lestari, salam Petualang Labil!

Wednesday, December 11, 2019

Nostalgia via Video Call

Hay Wankawanka! Selamat datang kembali di Blog Petualang Labil, blognya orang yang suka jalan-jalan tapi dalam kondisi jiwa yang tidak stabil. Bagaimana kaka dorang punya tahun 2019? Impressive? Well setelah kemarin sempat ditolak akhirnya Petualang Labil bisa menerima kenyataan itu.

“Yang tidak menyapa balik dia anggota DPR,” 

Nah, kali ini Petualang Labil bersama Puput dan Vester akan membawa Wankawanka sekalian menuju satu tempat di Kabupaten Sikka, tempat yang lumayan jauh dari keramaian Maumere, ibukota Kabupaten Sikka.

Tempat itu adalah Seminari Ritapiret! Btw, persinggahan ke Seminari Ritapiret ini masih dalam perjalanan hari pertama Petualang Labil bersama Vester dan Puput di Kabupaten Sikka. Sebelumnya Labilers sudah bertandang ke Lela, dalam perjalanan pulang dari Lela kami memutuskan singgah dulu di Seminari Ritapiret.


Seminari Ritapiret ini adalah tempatnya para calon imam dalam Gereja Katolik menempuh pendidikan. Tentu, kehidupan yang dijalani berbeda dengan pelajar maupun mahasiswa pada umumnya. Para calon imam tersebut diwajibkan untuk tinggal pada asrama yang telah disiapkan oleh Seminari. Percaya lah, pembaca, kehidupan berasrama itu penuh dengan warna yang berbeda dengan kehidupan orang muda lainnya.

“Siapa suruh lu dulu tidak lanjut ke sana?”

Letaknya Seminari Ritapiret berada di Nita, Kabupaten Sikka tentunya. Mengapa Labilers singgah di tempat ini? Well, tak lain dan tak bukan karena ingin melihat sebuah kamar yang pernah digunakan oleh Paus Yohanes Paulus II. Biar kita bisa memahami sudut-sudut Ritapiret, perjalanan ini dipandu oleh Frater Theo (Selanjutnya ditulis Fr. Theo).


“Eh, tunggu, beta video call b punya bapa do,”

Puput segera saja mengambil handphone dari dalam tas miliknya.

Tut.. Tut.. Tuut..

“Hallo Puput?”

“Heh bapa, ini video call bukan telepon biasa, jangan taruh di telinga begitu,”

“Oh, iya ewh, bapa sonde sadar,”

Vester dan Fr. Theo cengengesan. Petualang Labil mending foto-foto dulu, takut tertawa, nanti disanksi.
 
“Aih kampret tuh bocah, nanti baru bapa cubit di ginjal,”


Yah, sembari video call bersama Si Bapak, Labilers masuk ke dalam kamar yang pernah digunakan oleh Paus Yohanes Paulus II waktu mengunjungi Sikka pada tahun 1989.

“Lu masih di lutut choeg,”

Kamar milik Paus yang bernama asli Karol Josef Wojtyla tersebut terdiri dari dua kamar besar. Satu di depan sebagai ruang tamu, dan yang kedua sebagai kamar tidur. Pada bagian ruang tamu, menurut Fr. Theo belum ada perubahan dekorasi seperti saat kedatangan Paus Yohanes Paulus II.



“Kalau foto-foto ini pasang setelah beliau pulang dari sini,”

Sementara itu,

“Ini Bapa, ketong sekarang di Bapa Paus punya kamar,”

“Coba kasih dekat lagi dengan itu Tabernakel,”

Tabernakel tersebut berisikan relikui berupa darah dari Paus Yohanes Paulus II. Btw Puput, silahkan lanjutkan video callnya.

“Waktu itu Mgr. Stanislao Dziwisz yang mengantarkan langsung dari Vatikan ke Ritapiret,” jelas Fr. Theo.


Selepas melihat kamar, kami sedikit berkeliling melihat kapela, aula, ruang makan anak seminari, juga lapangan basket dan lapangan sepakbola sambil Puput menjelaskan pada Si Bapak yang sedang bernostalgia.

“Ah, ini pagar belakang di pekuburan nih dulu Bapak sering panjat untuk bolos,”

Wahh, Bapakkkk!? Bapak Naruto!?
 
Akhirnya senja menjemput, setelah berkeliling dan melihat tempat bolos Si Bapak, kami memutuskan untuk segera pulang.

“Pulang? Sabar dulu. Kita harus singgah Nilo,”

“Nilo kalau malam bagus. Sudah ada lampu di sana, kakak mereka bisa lihat Maumere dari sana,”

“Gimana? Nekat?”

“Ja’o nih melangkah bersama angin, jadi kemana saja let’s go. Mau bertemu suster lagi juga boleh,”

Baiklah, kami pun berterima kasih kepada Fr. Theo yang sudah menemani Labilers berkeliling di Seminari Ritapiret. Semoga mereka yang sedang belajar di Seminari Ritapiret bisa menjadi Gembala yang baik, yang mencari hingga satu domba yang tersesat dan membawanya kepada kawanan domba lainnya. 


“Puput, masih ingat jalan ke sana?”

“Dulu ke sana siang hari jadi aman. Tapi kalau hampir malam begini kayanya masih ingat,”

Kayanya!?

Berpasrah pada takdir kami pun menjalankan motor kami menuju Nilo. Kita akan memasuki “Tersesat di Bukit Nilo” pada edisi Blog Petualang Labil berikutnya. Terima kasih yang sudah membaca, yakinlah kalian tidak akan bertumbuh dewasa setelah membaca blog ini. Yang penting tetap menjaga alam dan lingkungan, kita tetap menghormati bumi dan segala kebudayaan dan perbedaan yang hidup di atasnya. Saat melakukan perjalanan jangan membuang sampah sembarangan dan hindari tindakan vandalisme. Salam lestari, salam Petualang Labil.