Laman

Showing posts with label Travel Blogger. Show all posts
Showing posts with label Travel Blogger. Show all posts

Monday, February 28, 2022

A Lot of Love

Bali, kata orang, penuh dengan sejuta keindahan. Entah itu alam, budaya, maupun orang-orangnya. Ya, bisa saja hal itu merupakan hal yang benar, tapi menurut pendapatku, harusnya benar, karena Bali benar-benar menggantungkan kehidupan kepada keindahan-keindahan itu, jadi, seharusnya benar.

Sudah sejak Februari 2020 ini Petualang Labil memutuskan untuk pindah ke Bali. Tidak mudah memang, meninggalkan kampung halaman, keluarga, sahabat-sahabat yang baik, tapi karena ini tentang pekerjaan, jadi Petualang Labil mengambil keputusan tersebut.

Sekarang, Petualang Labil akan kembali melanjutkan cerita petualangan yang dijalani selama di Bali. Untuk tempat pertama, Petualang Labil akan menceritakan tentang satu dari sekian, yaitu Tanah Lot.

Yap! Tanah Lot sudah banyak memang yang mengenalnya, namanya masyur hingga ke kancah internasional. Sayang sekali karena masih dalam masa pagebluk covid-19, jadi tempat ini menjadi lumpuh dari kunjungan wisatawan. 

Kunjungan Petualang Labil ke Tanah Lot ditemani oleh Bearo. Yap! Labilers ini jauh-jauh datang dari Sulawesi untuk jalan-jalan ke Pulau Bali. Ceritanya, Bearo waktu itu ingin mencoba kuliner daging babi yang dijual di satu warung yang letaknya di Jalur Denpasar-Tanah Lot. Sangking pengennya, padahal masih ada juga kudapan lain yang beraneka babi di sekitaran Kuta maupun Denpasar, tapi mungkin karena udah ngebet banget, jadi kami pun berangkat menuju ke Tabanan.

Karena sudah sejalur dengan Tanah Lot, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke sana. Suasana agak sepi, bukan hal yang seharusnya dijumpai di Tanah Lot. Banyak lapak yang terlihat ditutup karena hampir tidak ada pengunjung. Beberapa freelance photographer tampak menawarkan jasa mereka, pun dengan beberapa penjual dagangan kreatif, berlomba-lomba agar tetap berpenghasilan agar tetap hidup.

Tanah Lot ini kebetulan secara geografis sangat bagus untuk menonton matahari terbenam, karena letaknya agak ke bagian barat. Suasana matahari terbenam sangat bagus, apalagi saat terpaaan cahaya senja menghantam ke pantai dan juga Pura Tanah Lot. Suasana seperti ini jangan sampai kalian lewatkan sendirian, ajaklah keluarga maupun pasangan kalian, sebab alam dapat membantu kalian untuk mengisi kembali perasaan yang miliki terhadap orang-orang kesayangan kalian, A Lot of Love.

“Kayanya lagi puber, mentang-mentang jalannnya berdua sama cewek,”

Petualang Labil dan Bearo menghabiskan senja hingga tak bersisa. Kami berfoto di sepanjang senja, dan Bearo mengeluhkan kenapa foto saya hanya dibuat dengan satu macam gaya saja? Petualang Labil pun heran, apa maksudnya?

“Nih liat foto kamu, cuman nyengir doang fotonya, sedangkan liat muka aku, gak gitu-gitu aja kan ekspresinya?” 

Weshh angel..

Kami beranjak pulang ketika malam telah tiba. Tentu saja kelelahan kami rasakan karena perjalanannya panjang, dan tanpa sadar Bearo sudah tertidur ketika kami pulang. Tanah Lot memang tempat yang tenang, mungkin juga dengan sedikitnya pengunjung yang ke sana, membuat suasana menjadi lebih nikmat untuk dinikmati, mungkin yah, walaupun suasana itu tidak penting bagi para pedagang di sana karena kalau tidak bisa menjual pun, sama saja.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali Petualang Labil datang ke Tanah Lot. Sebelumnya Petualang Labil berkunjung pada tahun 2020 bersama dengan Chent, Labilers yang sudah sering nampang di tulisan Petualang Labil. Waktu itu karena satu dan lain hal, jadi Chent datang ke Bali dan kami memutuskan untuk ke Tanah Lot.

Nah, sekian dulu dari Petualang Labil. Untuk para Labilholic, jaga selalu kesehatan kalian, dan kita berharap agar pagebluk ini bisa segera berakhir agar bisa lebih leluasa untuk bepergian. Stay safe, stay healthy, salam Petualang Labil.


Thursday, February 11, 2021

Bukit Fatima

Hay! Para pembaca Blog Petualang Labil, di mana pun kalian berada, di hadapan layar smartphone, laptop, computer, dan kalian yang sedang duduk, berdiri, jongkok di closet, apa kabar semuanya? Masih dalam dekapan pagebluk Covid? Yap! Pagebluk ini sangat mengikat kita untuk tidak bisa melakukan apa-apa, tapi kalian tetap dapat membaca blog ini, jadi Petualang Labil mengucapkan terima kasih karena kalian masih setia membaca blog ini.


Nah, perjalanan kali ini Petualang Labil akan membawa kalian ke Bukit Fatima. Tempat ini terletak di Kabupaten Flores Timur. Perjalanan yang cukup jauh harus ditempuh oleh Petualang Labil dan teman-teman Labilers dari Kabupaten Sikka menggunakan sepeda motor. Kami menempuh jarak 153 kilometer, kalau tidak salah, dimulai dari pukul 15.30 wita dan akhirnya tiba di Larantuka sekitar pukul 19.30 wita.

Sebenarnya, kedatangan kami ke Larantuka ini merupakan pemenuhan atas undangan dari Kakak Adhy, Kakak Uchy, dan anak mereka Putra yang menerima Sakramen Ekaristi. Petualang Labil tidak akan menjelaskan tentang Sakramen Ekaristi, tapi yang pasti, kebanyakan orang-orang akan mengadakan acara atas penerimaan, maka itulah, kami berada di sini.

Epang, seorang sahabat, juga merupakan adik dari Kakak Uchy, sudah menunggu kami semenjak sore. Malam itu banyak orang yang datang menghadiri pesta. Petualang Labil yang kelaparan karena dilepasliarkan oleh ibu kos langsung melahap makanan yang sudah tersedia. MAKANAN PESTA! Varian sayur dan daging dalam satu piring, menggoda sekali rasanya!

“No, minum arak?”

Tawaran datang berupa minuman khas daerah Larantuka. Namanya memang Arak, seperti minuman Jepang, hanya saja bahannya tidak diambil dari Jepang melainkan dari Pohon Aren yang banyak tumbuh di daerah tersebut.

“Aduh, saya tidak minum itu kakak. Biar saya jatuh cinta saja kalau harus mabuk,” tolak Petualang Labil.

“Kamu masuk ko tidur sana sudah!”

Esok pagi, ketika semua sudah bangun dari tidur. Masih Vester yang tidur karena mabuk semalam. Sudah menjadi kabar burung bahwa Arak, Moke, atau minuman tradisional dari Flores itu memang sangat nikmat dan membantu kita untuk mendapatkan tidur yang nyaman, sepanjang minumnya tidak berlebihan.

“Sekarang kira-kira kita ke mana? Di sini tempat jalan-jalan agak jauh, mau cari yang dekat tapi ke mana?” tanya Chent.

“Oh kita ke kapela ini saja, di atas bukit, kemarin sebelum ke Maumere saya dan Kaka Adhy ke sana,” jawab Petualang Labil.

“Nah okey, gas!”

Kami berangkat menuju Bukit Fatima. Tempatnya ditempuh sepuluh menit menggunakan sepeda motor. Kondisi jalanan mulus, suasana pagi Larantuka yang saat itu sejuk seperti menjadi tanda restu atas perjalanan singkat kami menuju ke Bukit Fatima.

Dan, di sinilah kami berada.


Yang menjadi daya tarik dari kapela kecil ini adalah posisinya yang berada di ketinggian, seperti mengepalai teluk, lautan, kapal, rumah-rumah, dan bukit-bukit di seberang laut. View yang tentu saja unik, membuat tempat berdoa bagi umat Katolik di Keuskupan Larantuka ini menarik banyak orang untuk datang, bahkan orang-orang dari luar kota pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana.



Tipikal bangunannya didominasi oleh kayu, dan model bangunan dibuat terbuka, membuat bangunan kapela ini menjadi berbeda dari kapela dan bangunan pada umumnya. Selain itu, untuk menambah kapasitas penampungan, karena bangunan kapela yang memang didesain tidak terlalu besar, pada bagian depan kapela dibuatkan tempat duduk dari beton yang dilapisi keramik sehingga orang-orang juga bisa duduk pada bagian luar kapela.
 


Agar memperindah kesan bahwa tempat berdoa itu indah, dibuatlah taman di sekitar kapela ini. Tentu saja, hal itu dapat membantu pengunjung yang datang menjadi lebih khusyuk ketika menyapa Sang Khalik.


Petualang Labil dan Labilers tentu saja, tidak hanya sekedar jalan-jalan, tapi juga menyempatkan diri untuk berdoa. Traveling, bukan hanya memuaskan mata, tapi juga tentang mengembalikan kestabilan emosi, dan karena menemukan tempat untuk berdoa, maka kami pun berdoa.


“Cuman mau bilang berdoa aja muternya jauh banget ngab.”

Setelah menyempatkan diri untuk foto bersama, kami bergegas pulang. Sekitar pukul 12.00 siang, kami berpamitan kepada Kakak Adhy dan keluarga. Petualang Labil, Vester dan Nacha akan kembali ke Larantuka apabila ingin bertolak ke Kupang. Oh iya, Epang juga turut serta ke Maumere. Rencana kami adalah singgah dulu di Pantai Pangabatang.

“Makanya kita harus segera pulang, takutnya nanti kalau terlalu sore nanti tidak ada lagi kapal yang mau antar kita ke sana,” saran Chent.


Kalau kalian ingin tahu seperti apa tampilan jalan-jalan kami ke Pangabatang, silahkan ditunggu tulisan edisi berikutnya. Semoga setelah semua orang divaksin dan penyebaran Covid menjadi lebih tertekan, kita semua bisa berkunjung ke mana saja yang kita mau asal punya uang. Terima kasih karena sudah membaca tulisan Petualang Labil edisi Bukit Fatima, semoga kita semua diberikan kekuatan untuk kuat menghadapi pagebluk Covid dan masalah apapun yang kita hadapi. Salam Petualang Labil!

Saturday, November 21, 2020

Buntung

Teater senja di Tanjung Kajuwulu sudah dimatikan ketika waktu menunjukkan pukul 18.38, atau mungkin kurang dari itu. Petualang Labil membereskan kamera dan tripod dan dimasukkan ke dalam tas. Saatnya menuruni puncak bukit Kajuwulu, dimana sebuah salib dengan kulit berupa keramik putih dipancang di sana menghadap ke lautan.

Teman-teman sudah menunggu di tempat parkir, tepat di anak tangga pertama bukit ini. Dan yang mereka lakukan..

“Motor milik Luis tidak bisa dinyalakan,” tandas Puput yang sedang membantu pencahayaan dari hapenya, diarahkan pada Luis dan Vester yang melangak-melongok mencari penyebab motor Jupiter MX itu mandeque.

“Stater kaki?”

“Sama juga, tidak mau,” timpal Nacha.

“Ini gara-gara lu yang lama nah Go, mana gelap pula,” sambung Chent.

“Wah sorry, soalnya moment ke sini susah terulang, jadi ada kesempatan yah sekalian direkam sunset tadi,” balas Petualang Labil.


“Sudah, nasib yang agak buntung kali ini. Coba Luis, motornya di dorong ke arah turunan di sana, posisi gigi set masuk,” hardik Vester sekalian memberikan saran. Untuk hal itu Nacha harus GTO (Gonceng Tiga Orang) bersama Puput dan Chent, sementara Vester bersama Petualang Labil. Ketika Luis set gigi masuk, motor itu nyala. Tanpa menunggu lama, ditarikanya tali gas motor itu sekuat tenaga, dan Luis, menghilang.

“Yah, dia pulang?”

Dari arah berlawan dalam perjalanan pulang, Luis berbalik dalam kecepatan yang tinggi, kemudian menyusul kami dari belakang.

Sejurus kemudian dari arah berlawan dalam perjalanan pulang ia berbalik dalam kecepatan yang tinggi, kemudian menyusul kami dari belakang.

“Luis, ko su dari belakang lai?” Puput terheran karena tidak sempat melihat Luis yang tadi melaju dalam kecepatan tinggi.

“Motor sudah kembali aman. Ayo Vester, naik ke sini lagi, biar Puput kembali supaya tidak GTO,” tandas Luis.

Labilers kembali pulang setelah sore ini berpetualang bersama. Petualang pertama hari ini dimulai dari Hutan Bakau di Magepanda yang dapat kalian baca di sini. Selepas pukul empat setelah menelusuri Hutan Bakau, kami memutuskan untuk menyaksikan Teater Senja di Tanjung Kajuwulu. Letaknya tidak jauh, hanya sejauh pacar lima langkah dari rumah padahal  jomblo. Kami memacu motor keluar dari tempat parkir dan meluncur ke Tanjung Kajuwulu.


Ini adalah kali kedua Petualang Labil berkunjung ke Tanjung Kajuwulu, yang pertama pada tahun 2018, bulan Januari. Kalau kalian belum membaca, ceritanya tinggal klik di sini. Waktu ini Petualang Labil cuman ditemani oleh Chent yang memang sudah setahun menetap di Maumere. Nah, untuk kali ini bersama dengan Labilers yang membuat perjalanan semakin seru.

Sebelum menapaki anak tangga bukit kami harus membayar karcis masuk dulu. Sore itu, karena bertepatan dengan tanggal merah, maka banyak sekali yang datang untuk berkunjung. Ada beberapa perubahan juga terjadi, beberapa diantaranya adalah pegangan di sini kiri anak tangga, dan sebuah bangunan seperti menara coast guard yang masih terlihat sangat baru di sisi kiri.

Perlahan kami menanjaki tiap anak tangga hingga berhenti pada sebuah titik kecil.

“Foto dulu yak,” ajak Nacha mengeluarkan handphone dan berselfie. Puput kemudian duduk beristirahat dan Chent mengempiskan perut disertai nafas yang dibuang keluar secara kasar.

“Isi perut jangan ewh kak."



Kami melanjutkan perjalanan ke atas mencari spot lainnya.

“Waktu itu saya juga foto di sana,” ucap Petualang Labil menunjuk pada satu spot.

“Okey aku difoto dulu di sini,” Puput langsung mengambil posisi dan, cekrekk..


Luis sudah berlalu terlebih dahulu setelah kami mengambil beberapa gambar. Kami berjalan pelan dari belakang, menuju ke puncak bukit. Beberapa pengunjung juga mengikuti dari belakang.

“Okey di sini saja, pas dengan matahari yang posisinya lurus,” cetus Petualang Labil sembari mengeluarkan tripod dari dalam tas. Kebetulan kami membawa dua buah kamera, jadi satu kamera digunakan untuk berfoto, satunya digunakan digunakan untuk merekam Teater Senja dari atas Tanjung Kajuwulu. 


Suasana yang menyenangkan dinikmati. Dari pagi, walaupun telat bangun, bermalas-malas ketika disuruh untuk bersiap, dan baru berangkat jam dua siang, tapi Labilers tetap menikmati sunset ini dalam sukacita. Kami tidak memikirkan tentang motor milik Luis yang sedang disabotase oleh waktu sehingga kami harus lebih bersabar ketika harus meninggalkan tempat ini, karena keindahan ini lebih pantas untuk dinikmati dalam sukacita.

Langit yang tadinya orange, menjadi ungu, dan gelap, mengantarkan petualangan hari itu selesai. Kami kembali ke rumah ibu kos dengan selamat. Kalau kalian bertanya siapakah ibu kos yang dimaksud, kalian harus membaca semua rangkaian perjalanan Petualang Labil bersama teman-teman di Sikka mulai sejak kedatangan, dan tentu saja untuk selalu membaca blog ini, karena Petualang Labil masih akan menceritakan perjalanan yang seru ke Kapela San Dominggo yang letaknya di Flores Timur, namun sebelumnya singgah sebentar untuk makan di acara sambut baru.


Terima kasih sudah membaca, salam lestari, salam Petulang Labil.

Friday, May 1, 2020

Ikan

Hey Wankawanka! Kita bertemu lagi! Cerita kali ini masih merupakan lanjutan cerita dari Seri Petualang Labil di Sikka, tapi kali ini bukan di Sikka, hehe.

Sebelum masuk ke cerita, Petualang Labil ingin mengungkapkan semoga pandemic corona ini bisa cepat reda, bila perlu hilang dari muka bumi. Banyak yang meninggal, banyak yang ditinggalkan, banyak yang hidupnya menjadi sulit karena kehilangan pekerjaan, dan banyak lagi penderitaan lain. Mari kita semua berdoa bersama agar penderitaan ini cepat berakhir, para tenaga medis diberikan kekuatan, dan kita diberikan akal sehat supaya bersama-sama dapat mencegah penularan virus ini.

Nah, yang masih pada work from home, homecoming, far from home atau home alone, sambil menemani rutinitas kalian yang agak kurang biasa ini, Petualang Labil akan membagikan kisah saat Petualang Labil bersama teman-teman pergi ke Kelimutu. Ada yang belum tau Kelimutu? Ya udah, cek cokkk!


Waktu itu ketika para hantu belum juga disuruh pulang dan beberapa tuyul mengintip dari jendela kamar, langkah seorang pria masuk membuka gerbang kemudian mengetuk pintu. Adalah om supir yang akan mengantarkan kami menuju ke Danau Kelimutu.

“Kaka, kaka, bangun sudah supaya kita berangkat,”

“Aduh siapa yah? Orang lagi enak tiduran kok dibangunan?”

Labilers yang masih tertidur saat itu dalam keadaan mabuk mimpi langsung bergegas.

“Eh ini siapa punya air liur?”

Begitu pukul 04.30 lebih beberapa menit kami berangkat. Vester yang belum sempat gigi duduk di sebelah kanan supir, sementara Petualang Labil bersama Puput dan Chent di belakang.

“Sebelah kanan supir berarti bapatua Vester gelantungan di daun pintu bro,”

“Bapatua Vester lagi main film Fast and Frustasi,”

Jalanan Maumere masih sepi. Kami bergerak menuju arah barat Flores, sebab di sanalah letak Kelimutu. Lebih tepatnya, Danau Kelimutu yang sudah sangat terkenal sejak jaman uang lima ribu berwarna coklat itu, posisinya berada di antara Kota Maumere dan Kota Ende, hanya saja letaknya berada pada wilayah geografis Kabupaten Ende.

“Adminnya tua nih, masih ingat uang kelimutu,”


Perjalanan melewati kelokan Flores yang sudah sangat terkenal. Om supir begitu piawai mengendarai mobil yang kami pinjam dari kakak sepupunya Puput. Kami yang duduk di belakang  terombang-ambing ke kiri, ke kiri ke kiri manise, sekarang kanan ee, ke kanan, ke kanan ke kanan manise..

“Om supir agak pelan sedikit, kita bukan mau antar nyawa ke Tiwu Ata Polo,”

“Waduh sorry kaka nona, soalnya ini mobil terlalu enak. Power steering, ban besar, tambah dengan saya juga pengalaman biasa kendarai mobil untuk jual ikan dari Maumere sini. Itu kan pick up yang stirnya keras, sekarang kesempatan bawa mobil bagus begini nih,”

“Iya kami bukan ikan om! Tidak lihat ko kami ini tidak disimpan di ice box?”

Dan begitulah om supir. Dia tidak pusing dan terus mengendarai mobil sesukanya. Rencana kami untuk tidur di mobil selama perjalanan pergi gagal total. Kami masih terombang-ambing ke kiri dan kanan. Puput yang berada di sebelah kanan terhuyung-huyung hingga rambut menutupi wajahnya.

“Ahahah, ahaha, kamu lihat Puput. Dia tidak bisa tidur sambil sandar sampai-sampai miring ke kiri. Panggil dia Mingki, Miring Kiri,”

Chent puas dengan tawanya yang tertahan di leher.

Dan begitulah kami akhirnya tiba di parkiran Taman Nasional Danau Kelimutu setelah sebelumnya menjemput kerabat Chent di desa yang bernama Rolling Stone atau dalam sebutan aslinya disebut Watuneso. Sekitar pukul 06.30 kami tiba di Kawasan Kelimutu.

“Wuih dingin juga nih,”

“Tapi sebentar su agak panas, makanya beta pake celana umpan nih,”


Setelah berfoto di bagian pintu masuk kami langsung trekking menuju kawasan danau. Pohon cemara menutupi cahaya pagi menambah romansa dingin di sekitar tengkuk dan ujung jari. Rasa puas sudah menggaruk-garuk seperti asam lambung karena telat makan. Oh ya Wankawanaka, Kelimutu sendiri adalah bahasa daerah yang berarti “Gunung Mendidih.” Kita akan lihat satu persatu tiga danau yang berada di Puncak Gunung Mendidih ini.

Yang pertama kita jumpai adalah Tiwu Ata Polo, atau yang artinya  tempat berkumpulnya jiwa dari orang-orang yang jahat. Biasanya Tiwu ini berwarna merah darah, namun pada kunjungan kami kali ini warnanya menjadi hijau kebiruan. Labilers juga bertemu dengan kerabat Labilers, Ka Itong dan Ka Ani yang sementara berlibur.

“Ketong dari Ende, kalian dari Maumere?”



Setelah berfoto, kami berangkat menuju danau tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi atau yang dalam bahasa daerahnya disebut Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai. Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai letaknya bersebelahan dan hanya dibatasi oleh tebing yang tipis. Karena kami datang saat libur umum, pengunjung pun membludak. Tidak ada yang diperbolehkan untuk mengambil gambar dari bibir danau. Kami pun hanya bisa mengambil gambar dari jarak yang sudah diijinkan.




Danau yang ketiga, yang disebut sebagai tempat berkumpulnya jiwa orang-orang tua yang telah meninggal atau dalam bahasa daerahnya disebut Tiwu Ata Mbupu. Untuk sampai ke Tiwu ini kita harus trekking melalui anak-anak tangga yang sudah disiapkan. Untuk menikmati Tiwu ini pun sudah dibuatkan tugu yang seringnya menjadi tempat berkumpul atau beristirahat para pengunjung. Dari tugu ini pula kita bisa menikmati pemandangan ketiga Tiwu. Tidak lupa juga kami mengambil foto berlatarbelakangkan Tiwu yang tampak hijau gelap dan pekat tersebut.


“Katanya dulu airnya banyak, tapi sekarang sudah berkurang,”



Tempat lain yang menarik perhatian Petualang Labil adalah tempat upacara Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata. Tempat tersebut terlihat sakral dengan sebuah gerbang sederhana yang terbuat dari kayu dengan ijuk menjadi atapnya. Di bagian tengahnya ada sebuah altar berbentuk bundar. 

Disebutkan, orang Lio (suku yang mendiami Kabupaten Ende dan sebagian wilayah barat Maumere) sering memberi makan arwah dari para leluhur yang berdiam pada ketiga Tiwu di Taman Nasional Kelimutu ini. Upacara sering dilakukan oleh para Mosalaki (Tua Adat) sembari membawa persembahan berupa makanan dan minuman yang dibawakan di altar bundar. Setelah itu mereka akan menari Gawi sembari bernyanyi dan memanjatkan pujian menggunakann lagu-lagu tradisional.


Taman Nasional Danau Kelimutu juga digunakan masyarakat untuk mencari kehidupan. Bukan hanya soal penginapan di sekitar kaki Gunung Kelimutu, tapi juga masyarakat yang menjajakan kain di sepanjang jalur trekking menuju danau Kelimutu.


“Eh itu ada monyet keluar, kamu pegang baik-baik kamu punya tas. Nanti mereka ambil kalau ada makanan,”

Benar saja, baru juga Chent memperingatkan, suara teriakan terdengar seperti orang kecopetan langsung meninggi. Ternyata tas seorang pengunjung ditarik oleh beberapa ekor monyet, kemudian diseret dan isinya dikocar-kacirkan oleh monyet tersebut. Mendapatkan bungkusan biscuit, mereka kemudian berlalu meninggalkan tas tergeletak di tanah.

Kami kembali pulang. Monyet-monyet memang lumayan banyak, dan sepertinya mereka keluar untuk mencari makan. Puput ketakutan dan memegang Vester berjalan cepat berharap segera sampai di tempat mobil diparkirkan. Petualang Labil bersama Chent masih santai dari belakang.

“Kak Chent, ada permen? Aku mau beri makan monyet yang lagi baca, eh salah, yang lagi di ranting itu,”

“Awas nanti dong kerumun lu,”

Petualang Labil melemparkan permen, dengan sigap diambil si monyet dan segera berlalu.

“Nah, itu langsung pulang kan?”

Beberapa saat kemudian monyet tadi kembali bersama monyet lainnya.

“Bapak kita juga mau permennya pak,”

Eh buset!!!?

*********************

Nah, gitu deh Wankawanka cerita Petualang Labil yang tidak ada hubungan sama sekali antara judul dengan isi cerita. Terima kasih kalian sudah membaca dan semoga bisa menghibur kalian di tengah pandemic ini. Semoga setelah berakhirnya wabah ini kita bisa berpetualang lagi, tapi dengan satu pola pikir yang mencintai lingkungan kita. Jadi kita tidak perlu merusak apapun yang kita temui, entah itu menyampah atau vandal. Dengan begitu bumi kita akan tetap lestari dan terjaga. Salam bumi yang sehat, salam Petualang Labil.


“Bapak, bagi permennya pak,”

Hushh! Bisa-bisanya ikut sampai akhir cerita.

Wednesday, February 19, 2020

Erbaun, Behind The Scene

Hey hey hey! Apa kabar Wankawanka pembaca yang Budiman, Sudirman dan Surahman? Semoga kalian dalam keadaan sehat walafiat lahir dalam keadaan yang terberkati. Sebulan lalu, seperti yang Petualang Labil janjikan, kita akan kembali ke Timor, sedikit mengambil rehat dari rentetan cerita Petualang Labil saat berada di Flores.


Wankawanka mungkin ada yang tidak asing dengan kalimat “Kaki kalau kena gantung itu sakit, apalagi hati,” dari sebuah video yang viral pada Januari 2019 lalu. Yap! Perbuatan tidak menyenangkan bagi mereka yang menunggu cinta untuk disambut tersebut dibuat oleh Petualang Labil bersama Venti dan Vester di Pantai Erbaun.


Waktu itu Labilers berencana untuk pergi ke Pantai Oesain di Baun. Jadi Labilers berangkat dari Kupang sekitar pukul 11.00 wita. Perjalanan yang ditempuh tidak mencapai satu jam. Jalanan saat itu masih lumayan berbatu. Medan yang agak jauh dan sulit itu tidak terbayarkan karena pintu masuk (yang pernah digunakan Petualang Labil) ditutup oleh masyarakat sekitar menggunakan bambu.

“Coba putar dari sebelah sana, mungkin pintu masuk yang lain ada,”

Labilers memutar balik dan mencari pintu masuk yang lain. Sayang sekali pintu masuk yang dimaksud tidak ditemukan. Karena tidak ditemukan, Labilers berinisiatif mencari pantai lain yang dekat dengan kawasan Oesain. Labilers mencoba bertanya ke warga sekitar.

“Lurus saja terus, nanti ada kali, lalu ada  gapura selamat datang, sedikit lagi ke sana ada jalan masuk di kanan, itu ada Pantai Erbaun di sana,”

Sesuai petunjuk, Labilers langsung melaju. Benar, seperti penjelasan bapak dua anak yang dia tinggalkan di rumah bersama istrinya karena ia harus pergi kerja tersebut. Labilers tiba di Pantai Erbaun, pantai yang digunakan oleh warga untuk memarkir sampan dan menyimpan peralatan melaut mereka.


Karena sudah sampai Vester dan Venti langsung bergerak mengambil gambar. Venti begitu lincah dan professional bergaya seperti model Majalah Bekas sedang Vester pun tampak professional seperti fotografer yang sudah melanglang buana dengan jam melayang yang tinggi.


Pantai Erbaun dapat dipastikan berdampingan dengan Pantai Oesain. Karakteristik Pulau Timor yang disusun di atas batu karang juga nampak di pantai ini. Bebatuan karang raksasa berbaris memanjang ke barisan kiri pantai, sedangkan pasir putih dengan kerikil halus berada di sebelah kanan pantai berjejer bersama beberapa sampan milik warga.


Saat Vester dan Venti sudah selesai, giliran Petualang Labil yang mengeksplorasi Pantai Erbaun untuk mengambil gambar. Beberapa warga nampak berkerja menggulung pukat, sedang warga lainnya terlihat memancing dengan hanya bermodalkan senar dan, mungkin saja keberuntungan. Sepertinya agak sulit memancing di laut dengan ombak laut selatan yang ganas itu.



Sekembalinya Petualang Labil dari berfoto,

“Ketong mau buat video viral yang lucu. Lu pegang kamera, b naik motor, nanti Venti yang mau numpang. Pas Venti mau naik nanti dia tanya kenapa motor sonde ada pijakan, beta jawab supaya adek tau, kaki kalau dapat gantung tuhh sakit, apalagi hati,”

Wah? Boleh juga nihh ide. Okey, kamera stand by and, terjadilah demikian video “Kaki Kalau Kena Gantung Itu Sakit, Apalagi Hati.”

Judulnya panjang coeg.

Labilers qieq qieq qaeq qaeq melihat gambar yang sudah diambil.

“Pulang baru beta edit sedikit,”

Pukul 15.32 kami sudah bersiap pulang. Petualang Labil mengajak Labilers untuk singgah sebentar di Usapi untuk melihat sunset. Musim hujan sudah mulai reda tapi awan mendungnya masih mengintai bumi dari langit. Momen seperti ini adalah saat yang paling sedap untuk menyaksikan jingga matahari yang terbenam. Kami bergegas dan tiba di Usapi.

Pemandangan luar biasa ini cuman dinikmati oleh kami bertiga. Venti belum pernah ke Usapi jadi beliau tercengang melihat pemandangan yang ada.

“Kawaii,”

“Kimochi,”


Dan, begitulah akhir dari cerita Erbaun, Behind The Scene. Pantai Erbaun sepertinya belum mendapatkan banyak jamahan pengunjung, dan belum diperhatikan oleh pemerintah minimal aparat desa. Semoga pantai potensial ini dapat dikelolah menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar selain sebagai nelayan.  

Buat Wankawanka juga, kalau trip, entah ke Erbaun atau kemana saja, jangan buang sampah sembarangan, atau baiknya jangan menjadi penghasil sampah plastik. Gunakan tumblr biar bisa isi ulang air minum yang kita bawa daripada membeli air minum kemasan, nanti habis pakai botolnya pasti akan dibuang. Dan juga, jangan melakukan tindakan vandal. Pertahankan kelestarian alam kita.

Semoga kalian semua diberkati wahai para pembacaku. Sampai jumpa di cerita Petualang Labil selanjutnya. Ikan.

Sunday, January 12, 2020

Tersesat di Bukit Nilo

Heyy heyyy heyy Happy New Year! Selamat datang 2020! Woow, waktu yang sangat cepat berlalu, dan sekarang kita sudah berada di tahun 2020. Bagaimana kabar Wankawanka di awal tahun ini? Moga-moga masih sehat dan tetap menjadi pembaca setia Petualang Labil agar kejiwaan Wankwawanka semua terganggu.

Kita masih berada di Seri Petualang Labil di Sikka. Well cerita kali ini Petualang Labil akan menceritakan perjalanan bersama Puput dan Vester di hari pertama Labilers di Sikka. Kemarin Petualang Labil sudah cerita soal Wisata Religi Lela dan Nostalgia via Video Call di Ritapiret. Sekarang tempat terakhir di hari pertama yang Labilers kunjungi adalah Bukit Nilo.


Waktu itu Labilers ke sana dalam keadaan matahari yang tenggelam di ufuk barat dengan mendung yang menelan cahayanya. Perjalanan nekat Labilers ini ditempuh bermodalkan ingatan Puput yang hilang-muncul dan nekat serta penyertaan Tuhan.

“Salah-salah kita hilang di bukit,”

Yapp! Namanya saja Bukit Nilo, sudah pasti letaknya di daerah perbukitan. Jalanan terjal dan menanjak. Langit biru nan gelap. Tidak ada lampu jalanan hanya ilalang yang menjaga di kiri dan kanan jalan dari jurang yang menganga. Lebar jalan tidak seperti jalanan perkotaan, jadi kalau ada kendaraan besar dari arah berlawanan kita kudu mesti must hati-hati be careful. Dan akhirnya, setelah sekitar hampir 3600 detik, kita tiba di kawasan Patung Bunda Maria Segala Bangsa.


Ketika kita masuk ke kawasan Patung Bunda Segala Bangsa ini nampak bagian belakang patung setinggi 28 meter itu menjulang, kita tampak kerdil di bawahnya. Tempat ini memang sangat ikonik karena dari Kota Maumere pun patung yang dibuat oleh Kongregasi Carmel ini  masih dapat dilihat walaupun dalam ukuran yang sangat kecil.  

Sudah sekitar 18.45 waktu Labilers tiba dan masih ada beberapa orang yang berdoa, sedang anak-anak mereka berlari di sekitaran. Ketika mereka beranjak pulang, tinggalah tiga orang anak manusia penakut yang bergidik mendengar suara jangkrik.

Krikk.. Krikk..

“Woyy apa tuh?”

“Ihh, lu dengar juga?”

“Bunyi jangkrik wooyy, biasa!”

Psst.. Pssst..

“Nah itu apa yang pessett peseet barusan?”

“Berdoa saja dulu, mumpung ada di sini. Setelah itu kita foto di depan patung,”
“Okey, habis itu beta mau foto Maumere dari sini, tadi b jalan di dekat pagar Maumere ada menyala bagus dengan lampu malam,”

Labilers berdoa bersama. Setelah berdoa, cekrekk..




Okey, selanjutnya foto kota Maumere.


“Sekarang foto biasa sahh dulu, beta duluan,”


“Wih, bagus nih.. Ayo foto bersama,”


“Woyyy, badanmu kemana Vester?”


“Nah, mending begini saja dulu.”

Okey sekarang kita bersiap pulang. Labilers kembali berjalan ke arah parkiran untuk menaiki motor. Kami berpaling dan meninggalkan lokasi Patung Bunda Segala Bangsa.

“Put, jalan keluar yang pertigaan tadi sebelah mana?”

“Nanti ke depan lagi, beta tanda dari ini patung-patung kecil di pinggir jalan”

Labilers terus bermotor, makin lama jalanan makin menanjak. Kini kami melewati beberapa rumah, warga-warga yang duduk di pinggir jalan kami teguri menggunakan bel motor.

“Tadi lewat sini? Patung kecil kayanya sudah tidak ada. Kek makin dingin juga nih suhu,”

Jalanan masih menanjak, kadang kami jumpai jalanan yang hanya menggunakan semen, kadang aspal, anjing liar juga berkeliaran di beberapa titik hutan di bukit. Vester yang terus membuntuti kami juga cemas.

“Ini anak dua di depan mau pergi ke dunia lain atau bagaimana?”

Kerlap-kerlip kota Maumere memanggil kami dari kejauhan. Ya, sangat jauh, Labilers berusaha mendekat tapi sepertinya makin jauh. Labilers yang terus mengikuti jalan menanjak itu. Pada ujung jalan kami masuk ke pekarangan rumah warga.

“Loh? Orang punya rumah nih, putar balik, putar balik!”

Sialan! Kita kesasar chuy! Ya ampun, Vester tertawa puas, kami kikik-kakak di tengah malam.

“Waduh ini salah jalan daritadi ini namanya,”

“Ko beta ju dari tadi pikir besong di depan nih ingat jalan keluar tadi yang pertigaan arah patung tadi. Ketong su lewat jauh awhh.”

“Hahaha b kira Gohan ju hafal itu jalan masuk,”

“B juga lupa ko gelap nah,”

“Nah sudah besong ikut beta suhh. Kalo salah-salah, kit pung trip sampe ini malam saja, hahaha,”

Labilers cepat-cepat kembali menyusuri jalanan, kembali, Labilers dipimpin Vester. Lagi-lagi melewati gelap hutan bermodal lampu motor. Waktu Petualang Labil melihat speedometer motor, bensin hampir ambyar. Kira-kira bisa atau tidak?

“Wuih ini di belakang gelap sekali!”

“Ayo sambil bercerita Put, awas lu tiba-tiba hilang di belakang,”

“Woyy Kisanak, bagaimana Kisanak ini? Malah menakut-nakuti,”

Saat di perjalanan sebelum pertigaan ke kawasan Patung Bunda Maria Segala Bangsa, Petualang Labil menghentikan motor dengan segara.

PIPP! PIPP!

“Vester! Vester!”

Vester melihat ke arah kami dan memutar balik motornya.

“Ada apa? Apakah Kisanak melihat sesuatu,”

“Ya, lihat di sana!”

Itu adalah Maumere! Ibu kota itu menyala seperti kumpulan kunang-kunang! Sama indahnya seperti yang terlihat dari Patung Bunda Segala Bangsa, hanya saja ini adalah sudut pandang dari Labilers yang kesasar di tengah bukit yang gelap ini. Buru-buru Petualang Labil mengambil gambar.


“Aduh ini rumput terlalu tinggi,”

“Tidak masalah. Sekarang ayo kembali pulang,”

Labilers kembali memacu motor untuk menelusuri jalan pulang. Tidak lama dari spot foto terakhir, pertigaan yang dari tadi kami cari akhirnya kami lewati juga.

“Padahal itu adalah penunjuk jalan, lu sonde lihat ko Gohan?”

“Jangan marah, pasti tadi kenangan yang membutakan beta,”

Labilers terus menuruni jalanan, hingga akhirnya kami mendapati perkebunan jambu mente. Banyak kendaraan mondar-mondir.

“Jalan raya!”

Petualang Labil menghembuskan nafas lega sekeras-kerasnya! Terima kasih Ya Tuhan, barusan bukan nafas terakhirku! Labilers terbahak-bahak di sepanjang jalan hingga kembali pulang ke kontrakan ibu kos. Ibu kos juga baru saja pulang dari kantor.

“Besong kesasar!? Hahahah!”

Suara tertawa Tinny yang besar, serak-serak, dan macet-macet itu memang membuat sebal. Setidaknya ini bukan Dunia Lain. Sorry yah kalau cerita kali ini kepanjangan. Semoga kalian terhibur Wankawanka. Seri berikutnya masih akan tentang perjalanan Petualang Labil di Flores, tapi kita sedikit kembali ke Timor dulu biar ada selingannya. Terima kasih yang sudah membaca, semoga terhibur. Tidak, tidak, kalian tidak akan mendapatkan inspirasi apa-apa. Kalian tidak gila saja sudah bersyukur.

Akhir kata Petualang Labil tetap mengajak Wankawanka untuk menjaga lingkungan kita. Ini sudah tahun 2020, usia bumi makin tua dan semakin sulit dengan masalah ekologi yang kompleks. Semoga kita bisa meminimalisir kerusakannya, setidaknya tidak membuang sampah sembarangan biar tidak ada wisata Brown River seperti di Jakarta. Bila perlu, jangan menggunakan produk plastic sekali pakai. Jangan vandal juga biar lingkungan tetap asri. Sekali lagi terima kasih, salam lestari, salam Petualang Labil!